RSS

Pluralisme Menguntungkan Kristenisasi

30 Mar

Ada sebuah pertanyaan kritis, jika gagasan pluralisme yang dianggap seolah-olah seperti “agama baru” dikembangkan di Negara yang mayoritas penduduknya Islam seperti Indonesia, maka siapakah yang paling di untungkan ? Jawabannya: Proyek Kristenisasi sangat diuntungkan !

Pluralisme adalah sebuah paham (isme) yang membahas cara pandang terhadap agama-agama yang ada. Sebenarnya istilah ini adalah istilah khusus dalam kajian agama-agama. Pluralisme tidak sama dengan “toleransi”, mutual respect (saling menghormati) atau istilah yang lain.

Dalam buku ilmiah berjudul Pluralisme Agama yang ditulis oleh Adhian Husaini, dikatakan dengan jelas bahwa Pluralisme adalah parasit bagi agama-agama. Tidak terbatas hanya terhadap Islam, tapi paham ini juga menjadi ancaman bagi kesucian setiap agama. Itulah yang menjadi sebab tak kunjung berakhirnya pembahasan “Pluralisme” dikalangan para ilmuwan dalam studi agama-agama.

Pluralisme agama berkembang pesat dalam masyarakat Kristen Barat disebabkan  setidaknya oleh 3 hal, yaitu :

  1. Trauma sejarah kekuasaan Gereja di zaman pertengahan dan konflik yang terjadi antara Katholik dan Protestan.
  2. Problema teologi Kristen
  3. Problema teks Bibel.

Ketika Gereja berkuasa di zaman pertengahan, para tokohnya telah melakukan banyak kekeliruan dan kekerasan yang akhirnya menimbulkan sikap trauma masyarakat Barat terhadap kebenaran Kristen sebagai agama.

Kemudian pada awal abad ke-20 seorang teolog Kristen Jerman bernama Ernst Troeltsch menggulirkan perlunya bersikap pluralis di tengah-tengah berkembangnya konflik intern antar aliran-aliran dalam agama Kristen maupun antar agama. Dia berpendapat dalam sebuah artikelnya yang berjudul The Place of Christianity among the World Religions, bahwa umat Kristiani tidak berhak mengklaim paling benar sendiri. Pendapat senada ternyata juga banyak dilontarkan oleh sejumlah pemikir dan teolog lainnya seperti sejarawan terkenal Arnold Toynbee dan tokoh Protestan liberal Friedrich Schleiermacher.

Sehingga pada dasarnya, kemunculan ide pluralisme agama ini adalah akibat menghebatnya pertikaian antara madzhab-madzhab dalam agama Kristen yang terjadi pada akhir abad ke-19 hingga sampai pada tingkatan mutual exclusion (saling mengkafirkan), dan mendorong presiden Amerika Serikat pada waktu itu, Grover Cleveland, turun tangan untuk mengakhiri perang antar madzhab tersebut. Hal ini bisa dipahami, mengingat pada awal-awal abad ke-20 telah bermunculan bermacam-macam aliran fundamentalis di Amerika Serikat.

Selain konflik antar aliran madzhab dalam Kristen, faktor politik juga terkait erat dengan latar belakang gagasan ini. Kecenderungan umum dunia Barat waktu itu tengah berusaha menuju modernisasi di segala bidang. Dan salah satu ciri dari modern adalah demokrasi, globalisasi dan HAM. Keabsolutan gereja dalam memegang nilai kebenaran bertolak belakang dengan nilai-nilai dalam modernisasi.

Gereja menentang Pluralisme Agama

Walaupun pluralisme dimunculkan oleh para teolog kristen Ernst Troeltsch,  Arnold Toynbee, tokoh Protestan liberal Friedrich Schleiermacher, John hick. Namun pihak Gereja  menentang keras  ide ini, baik yang datang dari pihak Katolik, Protestan ataupun aliran lainnya.

Pertama: pengiriman misionaris Kristen ke seluruh penjuru dunia – khususnya dunia Islam yang terus berlangsung sampai sekarang ini.

Kedua: John Hick (salah seorang tokoh pluralisme Internasional saat ini) banyak ditentang oleh para teolog Kristen dan pihak gereja, bahkan dia diusir dari posisi penting yang dia pegang di gereja Presbyterian. Perdebatan sengit yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul: Problems in the Philosophy of Religion, merupakan salah satu bukti kuat tentang sanggahan dan penentangan terhadap pemikiran pluralisme agama, khususnya yang dikembangkan oleh John Hick dari kalangan pastur dan teolog Kristen.

Salah kaprah

Ironisnya, problema yang menimpa masyarakat Kristen Barat ini justru kemudian diadopsi oleh sebagian kalangan Muslim yang ’terpesona’ oleh Barat atau memandang bahwa hanya dengan mengikuti peradaban Baratlah maka kaum Muslim akan maju. Termasuk dalam hal cara pandang terhadap agama-agama lain, banyak yang kemudian menjiplak begitu saja, cara pandang kaum Iklusifis dan Pluralis Kristen dalam memandang agama-agama lain.

Pluralisme berbeda jauh dengan pluralitas, karena pluralitas adalah pandangan bahwa secara realita bangsa ini adalah plural (majemuk) dan berdiri di atas berbagai perbedaan yang menjadi sebuah sunnatullāh yang tidak dapat dihindari. Banyak masyarakat Indonesia salah kaprah memaknai antara pluralisme dan pluralitas.

Terhadap pluralistas, bukankah bangsa Indonesia terdiri atas berbagai ethnis yang beragam dan fakta historis membuktikan bahwa tidak pernah terjadi pertumpahan darah besar-besaran akibat perbedaan etnis ini, justru yang ada adalah bercampurnya etnis-etnis ini dalam negara kesatuan Indonesia dan hidup rukun berdampingan.

Dan sekarang cendekiawan- cendekiawan yang mengaku muslim malah mengambil paham pluralisme ini dan disebarkan ke kalangan umat Islam. Suatu hal yang sangat keblinger.

Menilik sejarah perkembangan dan tanggapan atau reaksi kalangan mereka sendiri terhadap ide pluralisme ini, maka kita tidak perlu susah-susah menghabiskan energi untuk mencari kelemahan ide ini, sebab di kalangan mereka sendiri, terjadi pertentangan habis-habisan.

Tapi disisi lain ide ini kalau dikembangkan di negara yang mayoritas penduduknya adalah Islam, maka sangat menguntungkan sekali bagi proses Kristenisasi. Ketika kedua agama (Islam dan Kristen) tersebut dianggap sama, tidak ada beda selain tata cara dan bajunya, maka umat yang ’sendiko dawuh” (taat) dengan himbauan pluralis tersebut tak lagi memiliki ghirah / kecemburuan dalam beragama. Baginya tidak ada yang istimewa pada Islam bila dibandingkan dengan Kristen, tak ada kelebihannya seorang Muslim dibandingkan dengan penganut Kristen, karena semua agama sama.

Pada saat yang bersamaan, secara finansial para misionaris Kristen lebih menjanjikan keuntungan seperti yang menjadi misi unggulan mereka. Terutama di daerah-daerah yang masih dibilang miskin. Logika manusia normal, ketika harus memilih antara dua agama yang sama-sama dianggap benar tentunya variabel lain yang dijadikan alat timbang adalah keuntungan materi. Maka dengan ringan mereka mau melepas baju Islamnya untuk mendapatkan materi dengan bergabung dengan jema’at Kristen, toh tak ada nilai lebih Islam sehingga harus dipertahankan dengan menanggung lapar dan kemiskinan. Di sinilah kontribusi Jaringan Islam Liberal penyebar pluralisme terhadap Misinonaris Kristen terbukti.

Yang perlu dipikirkan, jika pihak Gereja saja sangat menentang keras dengan kemunculan ide ini, baik dari pihak Katolik, Protestan ataupun aliran lainnya, padahal berasal dari teolog mereka, apakah  kaum muslim akan mengambil paham pluralisme agama ini ? Kalau orang Islam masih  mengambilnya berarti ia keblinger dan mata hatinya sudah buta.

(Sally Sety)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2009 in Kajian

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: