RSS

ALKITAB TIDAK BEBAS DARI KESALAHAN

16 Agu

TIDAK ADA INJIL YANG ASLI

(Bagi.1) – ALKITAB TIDAK BEBAS DARI KESALAHAN

“Kitab Suci (Bibel) hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan,” (Dr. R. Soedarmo, Rohaniawan Kristen).

Kitab Suci merupakan hal yang sangat penting dalam masalah beragama. Dalam Islam, Al-Quran diturunkan adalah untuk mengatur kepentingan hidup manusia, dari masa Nabi Muhammad saw hingga akhir zaman. Berfungsi sebagai petunjuk dan pembeda antara benar dan salah. Isi Al-Quran  sangat sesuai dengan kebutuhan hidup manusia, tak perlu diragukan,  karena yang membuatnya adalah Allah SWT, Sang Pencipta dan Pengatur manusia.

“Kitab ini (Al Quran) tidak ada keraguan atasnya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al Baqarah:2-5)

Dalam Al-Quran Allah juga menyebutkan beberapa kitab yang pernah diturunkan sebagai petunjuk hidup bagi umat terdahulu yang disebut Zabur, Taurat dan Injil. Dan kali ini kita akan membahas tentang Injil. Apakah masih ada Injil yang asli? Ini pertanyaan yang sering mengemuka dalam diskusi-diskusi perbandingan agama.

Sebelum menginjak pada pembahasan ada atau tidaknya Injil yang asli saat ini. Maka perlu diketahui beberapa istilah seputar Injil. Yakni, Bibel, Al-Kitab dan Injil.

Injil

Injil adalah kitab yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Isa as. (Yesus Kristus), putra dari Maryam. Firman Allah SWT. “Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, di dalamnya (berisi) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Kitab Taurat, serta menjadi petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah: 46)

Kata Injil semula berasal dari bahasa Yunani euangelion, evangel atau gospel (good spell) yang berarti kabar gembira. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi Injil. Makna dari kabar gembira yang dimaksud adalah karena Nabi Isa as. menggembirakan para umatnya dengan berita akan kedatangan Muhammad saw sebagai utusan Allah SWT yang terakhir untuk seluruh alam. Nabi Isa as. mengajarkan Injil kepada para pengikutnya hanya selama tiga tahun. Tepatnya sejak usia 30 sampai usia 33 tahun. Lalu ia diangkat/diselamatkan oleb Allah SWT dari pengejaran kaum Yahudi yang ingin membunuhnya.

Bibel/Bible

Bibel adalah kata dalam bahasa Belanda yang digunakan untuk menyebut Kitab Suci umat Kristen. Sebutan yang sama dalam bahasa Inggris yakni Bible. Dalam bahasa Jerman disebut die Bibel. Bibloi hiërai adalah sebutan yang digunakan oleh Filo (20 SM – 50 M) dan Yosefus untuk menyebut Perjanjian Lama. Biblia adalah sebutan yang digunakan Hieronimus, seorang Bapak Gereja yang disuruh oleh Paus Damasus untuk merevisi Alkitab Latin, yang dari bahasa Latin yang berarti “buku”. Dan dalam bahasa Arab buku berarti “kitab” sehingga di Indonesia yang mayoritas muslim, umat Kristen juga menggunakan kata Alkitab untuk menyebut kitab suci mereka.

Al-Kitab

Kata Al-Kitab di gunakan dalam Al-Quran untuk menyebut Al-Quran itu sendiri dan beberapa kitab sebelumnya yakni, Injil, Taurat dan Zabur. Umat Islam meyakini bahwa Injil, Taurat dan Zabur adalah juga firman Allah SWT kepada nabi-nabi pada zamannya.. Sehingga hingga kini kepada ketiganya, umat Islam sangat menghormati.

Pemahaman yang salah

Namun umat Islam di Indonesia sering salah memahami kata ‘Alkitab’ yang dipakai oleh umat Kristen. Umumnya, umat memahami Alkitab yang dipegang umat kristen sebagai ‘Injil’ yang disebut-sebut dalam Qur’an. Ini sesuatu yang perlu diluruskan.

Alkitab pegangan Umat Kristen saat ini, yang juga disebut dengan nama Bible. Adalah gabungan dari literatur suci Yahudi (Jewish Bible) yang oleh umat Kristen disebut Perjanjian Lama (Old Testamen) dengan literatur asli Kristen yang mereka sebut Perjanjian Baru (New Testament). Kitab Perjanjian Lama sering disebut sebagai Kitab TENAKH, terdiri dari tiga bagian yaitu Tora, Nebi’im, dan Ketubim.

Tora atau Taurat berarti pengajaran. Kitab Taurat ini memuat lima kitab, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan.

Nebi’im berarti kitab nabi-nabi terkemudian, yang terdiri dari kitab nabi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria, dan Maleakhi.

Ketubim berarti pujian, terdiri dari kitab-kitab Zabur atau Mazmur, Amsal Sulaiman, Ayub, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, Tawarikh I, dan Tawarikh II.

Kitab Perjanjian Baru terdiri dari empat kitab Injil (karangan Matius, Markus, Lukas, dan Yohannes), 13 surat yang ditulis Paulus, 3 surat Yohannes, 1 surat Yakobus, 1 surat Yudas, 2 surat Petrus, 1 surat Lukas kepada orang Ibrani, dan Wahyu kepada Yohannes. Semua surat yang ditulis Paulus, Yakobus, Yohannes, Yudas, Petrus, dan lain-lain jelas bukan firman Tuhan.

Sehingga yang disebut Injil dalam Alkitab hanya meliputi literatur yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohannes. Namun apakah empat literatur ini merupakan salinan Injil asli yang disampaikan Nabi Isa as? Untuk menjawab ini perlu pembahasan lebih dalam lagi, namun sebelum kita membahasanya di edisi mendatang, silahkan simak komentar-komentar tokoh-tokoh, rohaniawan Kristen tentang kitab kitab mereka.

Pendapat Umat Kristen Tentang Kepalsuan Bibel

Prof. Alvar Ellegard dalam bukunya Jesus 100 Years Before Christ (1999) mengatakan, “Tujuan mereka adalah untuk menyebarkan cerita tentang Yesus yang dikemas sesuai dengan ajaran yang telah ditetapkan Gereja mereka, yang dipungut dari berbagai sumber yang cocok dengan keinginan mereka, baik dari sumber sejarah, cerita dongeng, maupun

khayalan.”

Dr.GC van Niftrik dan DS BJ Boland dalam buku Dogmatika Masa Kini (1967) menyatakan terus terang,”Kita tidak usah malu-malu mengakui bahwa terdapat berbagai kekhilafan dalam Alkitab, kekhilafan tentang angka-angka perhitungan, tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungkan kekhilafan itu pada caranya.”

Dr. R. Soedarmo: “Dengan pandangan bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci dengan bentuk sekarang masih dapat diperbaiki” (Ikhtisar Dogamtika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47). “Di dalam Perjanjian Baru pun ada kitab-kitab yang diragukan antara lain Surat Wahyu dan Yakobus yang disebut surat Jeram” (Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, 1965 hal. 49).

Drs. M. E. Duyverman dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru”, tahun 1966, halaman  24 dan 25, berkata sebagai berikut: “Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah asli yang dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh asli. Dan kira-kira pada abad keempat, di Antiochia diadakan penyelidikan dan penyesuaian salinan-salinan; agaknya terdorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar diantara salinan-salinan yang dipergunakan dengan resmi dalam Gereja.”

Dr.B.Boland dalam bukunya “Het Johannes Evangelie”, p. 9, berkata sebagai berikut: Apakah kebenaran-kebenaran dari Injil Jesus Kristus diserahkan kepada kita dalam bentuk murninya, asli dan tidak dipalsukan, ataukah telah dirubah melalui alam fikiran kebudayaan Gerika? Umumnya yang terakhirlah yang diterima oleh orang jaman kini… bahwa tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Baru pada dua abad pertama perhitungan tahun kita, pasti telah mengalami perubahan besar.

Herman Bakels (1871-1954) dalam bukunya “Nij Ketters? Ya.. Om deere Gods”, p.119-120, lewat buku “Dialog antara Ahmadiyah dengan saksi-saksi Yehowa”, p.83 dan 88 berkata sebagai berikut: Adapun enam buah kitab (Weda, Awesta, Kitab-kitab tentang Budha, Tao-teking, Kitab–kitab Confusius, Al-Qur’an) tidak begitu saya kenal. Akan tetapi Bijbel kita ini, pasti saya ketahui. Sudah 30 tahun lamanya saya mengincah Bijbel kita ini dari awal sampai akhir. Oleh karena itu terus terang saya katakan, bahwa di Eropa, saya belum kenal sebuah kitab yang lebih padat dengan hal-hal yang tidak benar dari pada Bijbel. Dia juga berkata: Hampir semua kitab-kitab dalam bibel itu menyesatkan, yakni memakai nama palsu, yaitu tidak ditulis oleh pengarang-pengarang yang tercantum nama mereka di atasnya, melainkan ditulis jauh di belakang mereka.
(sally_sety)

Dimuat di Tabloid Media Ummat

Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 16, 2009 in Kajian

 

Tag:

3 responses to “ALKITAB TIDAK BEBAS DARI KESALAHAN

  1. sedjatee

    Februari 22, 2010 at 4:25 am

    hhmmm… bikinan manusia pasti ada salahnya…
    wahyu Allah dijamin kebenarannya…
    banyak tulisan bermanfaat disini…
    tetap semangat menulis…
    salam kenal, semoga selalu sukses…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

     
  2. rinsi

    November 8, 2012 at 1:41 am

    Hanya Al Qur’ an kitab yg masih asli, karena Allah SWT langsung yang menjaga nya ,…………………

     
  3. Ali Oncom

    Maret 15, 2014 at 4:33 am

    ,”Kita tidak usah malu-malu mengakui bahwa terdapat berbagai kekhilafan dalam Alkitab, kekhilafan tentang angka-angka perhitungan, tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungkan kekhilafan itu pada caranya.”

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: