RSS

SEPOTONG SURGA DI ANDALUSIA (Catatan Bedah Buku)

23 Nov
“Islam Politik tidak mempunyai masa depan”. Begitu yang dikatakan oleh seorang penulis buku Prof.Bambang Pranowo yang hari ini bukunya sedang di bedah. Buku tersebut berjudul, MEMAHAMI ISLAM JAWA. Disamping satu judul buku lain, SEPOTONG SURGA DI ANDALUSIA yang ditulis oleh Maria Rosa Menocal.

Salah satu pembedah yang hadir bertampang cukup nyentrik. Namanya saya lupa catat. Berbaju hitam dengan kerah shanghai, menggunakan penutup kepala khas Jawa yang disebut ‘Blangkon’, menghiasi rambut ikal hitam yang sudah menyentuh bahu. Alis tegas, kumis tebal, kalo ingat hikayat-hikayat rakyat, ada cerita di Surabaya tetang tokoh “Sakera”. Nah itulah dia! Persis!

Dia dan pembedah satu lagi mempunyai pendapat yang selaras terhadap sang penulis buku, yang berpendapat bahwa Islam di Jawa didalami lebih kepada dimensi batin. Sehingga kesalehan tidak dipatok sebatas ketaatan atas syariat tapi penghayatan pada hakikat.

“Pak Dalang” saya sebut demikian, dalam pemaparannya mengutip sebuah cerita yang terjadi di sebuah masyarakat desa di Jawa. Ketika disampaikan bahwa saat ini Islam sudah bangkit, maka si Ibu tersebut menjawab dalam bahasa Jawa,
“Iyo, Alhamdulillah, Ibu yo melu seneng, Islam saiki bangkit, tapi kok malah susah yo Ngger? Nek biyen onok wong kepaten, sing liyane (non islam) yo podho me ngurusi. Nang kuburan, Islam, Kristen, Hindu, Budha podho-podho sak panggon, tapi saiki kok wis gak oleh?”

Seolah mau mengatakan bahwa Islam biarlah sebatas spiritual saja yang tidak perlulah memasuki ranah politik, ranah sosial yang nantinya justru akan menyebabkan perbenturan-perbenturan dan hilangnya kearifan kultural terhadap perbedaan-perbedaan di masyarakat.

Buku kedua yang dibedah adalah SEPOTONG SURGA DI ANDULUSIA, sebuah judul buku yang sangat cantik menurut saya. Tidak provokatif, tidak menjemukan atau sok intelek. Tapi judul yang simpati, cukup menggambarkan betapa itulah sesungguhnya yang sedang terjadi di Andalusia saat itu. Masa-masa yang sangat indah.

Buku kedua ini ditulis oleh Maria Rosa Menocal. Seorang penulis dari Barat yang tentu saja tidak hadir di acara hari ini. Narasumber pembedah adalah Hj.Irena Handono, dengan dua orang Pembanding yakni Prof.Dr.Fauzan Misra el Muhammady dan seorang aktifis dakwah Akhi Mujahidy.

Pemaparan yang dilakukan oleh Bu Irena sangat memukau peserta. Beliau mengawali dengan menunjukkan kepingan-kepingan prestasi gemilang Andalusia yang masih tersisa dari catatan sejarah. Sebagai contoh yang sempat saya tulis untuk status di fb adalah tentang ASTROLABE, alat navigasi ditemukn oleh Az Zarkali, ilmuwan Andalusia abad 9. Colombus menggunakn ini untuk perjalanan ke Amerika. Dan selama empat abad bangsa eropa masih menganggap alat ini sebagi benda magis. Bodohnya.

Dan kemudian di bandingkan dengan kondisi setelah orang-orang Kristen Trinitarian menyerbu Andalusia dan merebut menguasainya dari tangan muslim. Sungguh pembandingan yang sangat timpang. Di saat Islam memimpin Andalusia, hiduplah dengan rukun tiga agama disana. Namun ketika Kristen Trinitarian mengambil alih, mereka memberikan tiga pilihan pada Muslim & Yahudi disana : pergi tinggalkan Andalusia, konferso (masuk kristen) atau di bunuh.

Sebelum mengakhiri pemaparannya, Bu Irena bertanya pada para peserta, “Adakah mungkin tiga agama (Yahudi, Islam, Kristen) saat ini bisa hidup berdampingan?”. Pertanyaan tersebut tidak dijawab spontan, tapi dengan dengan lantang tegas Bu Irena menjawab, YA! Bisa. “Tiga agama akan bisa hidup damai berdampingan hanya dalam kepemimpinan Islam. Sejarah sudah membuktikan.”

Pemaparan Bu Irena ditanggapi oleh penanggap pertama yang beliau menyelesaikan S1 dan S2 nya di Cairo University. Pak Fauzan yang berusia mungkin hampir 70an ini dengan semangat menambahkan data-data melengkapi pemaparan Bu Irena. Dengan kalimat closing beliau, “Benar, saya setuju dengan Bu Irena, hanya dalam kepemimpinan Islam lah tiga agama bisa hidup dalam damai”. Dilanjutkan dengan Ikhwan aktivis dakwah yang menegaskan perlunya Khilafah segera berdiri.

Awalnya saya berfikir sesi tanya jawab akan menjadi sikusi yang canggung dan membosankan. Karena dua buku ini sangat bertentangan. Yang satu lebih terkesan membatasi Islam untuk diwacanakan pada ahal-hal tertentu saja. Namun di buku yang kedua, dibahas tentang keharusan Islam menjadi dasar politik, dasar hukum sebagai landasan sebuah kepemimpinan yang akan menjamin kedamaian dunia, membawa Rahmatan lil Alamiin.

Sayangnya sang penulis meninggalkan forum lebih cepat karena ada kepentingan yang sudah terjadwal. Namun Pak Dalang yang tadinya terkesan ragu-ragu dan tidak jelas. Akhirnya harus mengakui atmosfer diskusi yang mengarah pada kesadaran bahwa hanya Islam lah yang mampu membawa Rahmatan Lil Alamin. Beliau bahas kearifan ISLAM JAWA yang telah membangun sebuah strategi kultural. Proses transformasi kultural yang dilakukan ISLAM JAWA ini menyebabkan Islam cukup lama bertahan di Jawa.

Pembunuhan karakter yang dilakukan Barat terhadap Islam dan yang ironisnya umat Islam sekarang bagai hikayat “Kebo Ijo”, tidak bisa menolak disebut teroris, ekstrimis, dll, adalah disebabkan kita buta terhadap sejarah. Dan generasi muda sekarang sudah teracuni oleh opini-opini Barat, budaya-budaya Barat dan semua isme-isme dari Barat yang dianggap lebih modern, lebih mulia dari Sunnah Rasulullah dan Al-Quran.

Sampai pada kesimpulan akhir yang semuanya setuju, sepakat bulat adalah betapa pentingnya umat Islam untuk kembali menggali sejarah Islam.

Sally Sety

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2009 in Kajian

 

Tag:

One response to “SEPOTONG SURGA DI ANDALUSIA (Catatan Bedah Buku)

  1. zainuri

    Desember 27, 2011 at 9:18 am

    saya pernah baca buku ini dan sungguh kita bisa banyak belajar bagaimana kejayaan dan keruntuhan sebuah bangsa itu dipergilirkan….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: