RSS

Arsip Bulanan: Februari 2010

PENODAAN AGAMA

Akhir-akhir ini pemberitaan di berbagai media diramaikan dengan adanya upaya pencabutan UU No.1 PNPS Th.1965 tentang Penodaan agama. Dan hingga saat ini sidang Judicial Review di Mahkamah Konstutusi pun masih berlanjut.

Pihak KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) yang mewakili suara umat Kristen di Indonesia dan juga Romo Frans Magnis Suseno yang bisa dikatakan mewakili suara umat Katholik di Indonesia, kedua perwakilan umat ini mempunyai pendapat yang sama dengan kaum SEPILIS-JIL (Sekularis, Pluralis, Liberalis-Jaringan Islam Liberal), yakni menuntut dicabutnya UU Penodaan Agama tersebut.

Namun yang menarik, ditengah-tengah perjuangan kaum SEPILIS-JIL dan umat Kristen untuk mencabut UU Penodaan Agama ini, di Hollywood Amerika, seorang aktris, Lindsay Lohan, berpose gaya Yesus saat disalib pada sebuah majalah PURPLE FASHION Magazine. Ia berdiri mengenakan gaun panjang putih dengan belahan dada sangat lebar hingga perut, tangan merentang, memakai mahkota duri, persis sekali dengan adegan Yesus disalib dalam film The Passion of The Christ.

Jika menggunakan logika kaum SEPILIS-JIL maka ini tidak bisa dikatakan sebagai tindakan penodaan agama. Mengikuti konsep berpikir mereka, maka tindakan ini adalah sebuah kebebasan berekspresi. Ketika pelakunya adalah seorang artis maka yang dilakukan adalah dalam koridor seni. Bukan pelecehan agama. Justru orang yang memprotesnya adalah pihak-pihak yang melanggar HAM.

Tidak hanya berbicara tentang pelecehan/penodaan/penghinaan sebuah agama, UU No.1 PNPS Th.1965 juga berbicara tentang penafsiran menyimpang terhadap suatu agama. Inilah yang dibahas cukup dalam oleh Frans Magnis Suseno dalam sesi berbicaranya di Sidang Konstitusi. Menurutnya negara tidak perlu ikut campur dalam menentukan mana “menyimpang” mana yang tidak.

Ada beberapa sekte Kristen di Indonesia yang mempunyai pandangan yang sangat berbeda dengan Kristen pada umumnya. Dan bagi Kristen umum sekte-sekte ini disebut sesat/menyimpang, mereka adalah Saksi Jehova yang menganggap Yesus adalah manusia dan Sekte Kristen Tauhid yang juga menganggap Yesus adalah seorang manusia, seorang nabi. Mereka sama sekali tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan, seperti halnya Kristen pada umumnya yang menganggap Yesus adalah 100% manusia dan 100% tuhan.

Nah, apakah mereka tidak menghujat doktrin Gereja? Tentu saja mereka dianggap menghujat. Namun pihak Saksi Jehova & Kristen Tauhid juga mempunyai alasan-alasan serta analisa yang tak mampu dipatahkan oleh pihak Kristen Trinitas.

Sebelum membahas tentang bagaimana keyakinan Saksi Jehova dan Kristen Tauhid tentang Yesus dan Tuhan (insyaAllah akan dibahas di tulisan-tulisan berikutnya), maka saya akan membahas bagaimana sejarah “Ketuhanan” Yesus. Rapuhnya dogma ketuhanan ini sehingga membuat celah adanya penafsiran-penafsiran yang berbeda.

Sebelum abad ke-3 masehi, Yesus/Yoshua/Esau/Isa (as) tidak dikenal sebagai tuhan. Seluruh tanah Palestina, tanah Arab, sebagian Afrika hingga Persia mengetahui bahwa Yesus adalah seorang utusan Tuhan seperti halnya Nabi Musa as yang membawa kitab Taurat. Maka ajaran Yesus adalah meneruskan ajaran Nabi Musa as yang sudah menyimpang dari ajaran aslinya.

Matius  5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Tak hanya berkembang di wilayah Palestina, ajaran Yesus ini meluas hingga ke wilayah Alexandria (Mesir). Saat itu Alexandria merupakan salah satu pusat peradaban dunia yang sudah maju. Alexandria menjadi pusat intelektual yang pengaruhnya membentang dari India hingga Mesir.

Dengan sangat cepat ajaran teologis ‘baru’ (monoteisme) yang dibawa Yesus menyebar dikalangan cendikiawan dan kaum terpelajar di Alexandria. Setelah peristiwa penyaliban Yesus, pengikut ajaran Tauhid ini terus tumbuh membesar berlipat-lipat. Tidak hanya di wilayah pinggiran Mesir namun ajaran ini juga menyebar ke utara menuju jantung pemerintahan imperium Roma, Byzantium (yang sekarang di wilayah Turki).

Dalam sekejab, masyarakat imperium Romawi disana yang beragama Pagan, berubah menjadi pengikut agama Tauhid yang diajarkan oleh Yesus. Masyarakat yang umumnya terpelajar, sangat antusias berdiskusi mengikuti perkembangan ajaran baru ini. Seorang Uskup dari Nyssa mengatakan demikian dalam sebuah khotbahnya, “Di kota ini jika Anda mengajak seorang pemilik toko mengobrol, ia akan berdebat dengan Anda mengenai apakah Putra Allah itu diperanakkan atau tidak. Jika Anda bertanya tentang kualitas roti, sang pembuat roti akan menjawab, ‘Bapa lebih besar, sementara Putra lebih kecil.”

Semangat dakwah dari pengikut ajaran Tauhid Yesus hingga penghancuran simbol-simbol paganisme tak pelak menimbulkan konflik dalam imperium Romawi. Sedangkan kaisar Romawi saat itu, Konstantin, adalah penganut Paganisme.  Hal ini menyebabkan terguncangnya stabilitas imperium Romawi.

Untuk menyelamatkan imperium ini, Kaisar Konstantin mengadakan Konsili di Nicea pada tahun 325 M. Yang ditutup dengan keputusan antara lain, mengangkat Yesus sebagai Tuhan (yang dilakukannya dengan mekanisme voting). Pemilihan kitab-kitab yang ditetapkan sebagai Injil. Dari ratusan Injil yang ada yang dipilih adalah Injil Matius, Markus, Lukas & Yohanes. Semua ini diputuskan secara politik oleh Konstantin melalui konsili yang sama.

Memutuskan untuk menyatukan Romawi dalam sebuah agama yg tunggal, yaitu agama Kristen, dengan meleburkan simbol-simbol, tanggal-tanggal, dan ritus-ritus Pagan kedalam tradisi Kristen yang sedang tumbuh. Dengan cara itu Konstantin telah menciptakan semacam agama hybrid yg dapat diterima kedua belah pihak.

Upaya yang dilakukan Konstantin ternyata tak bertahan lama. Imperium Romawi akhirnya terbelah menjadi dua, Barat dan Timur setelah kepemimpinan Theodisius I. Kristen Trinitas (hasil konsili) dijadikan agama resmi negara dan memutuskan kaum pengikut Arian (Tauhid, yang menganggap Yesus adalah nabi) sebagai aliran menyimpang/sesat dan atas perintah Kaisar mereka diburu untuk dimusnahkan.

Maka, tidakkah umat Kristen berkaca dari sejarah, bahwa eksistensinya terbangun dari campur tangan pemerintah yang saat itu telah menghukumi pengikut Arian sebagai penganut aliran “menyimpang”? Bagaimanapun juga UU No.1 PNPS th.1965 masih tetap diperlukan untuk menyelamatkan negeri ini akibat konflik umat beragama yang akan berujung pada tercabik-cabiknya NKRI.

(Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat

Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 20, 2010 in Kajian

 

Tag:

Jurus ‘ICCPR’ Tak Mempan

“Aliansi Kebebasan Agama” adalah nama lain dari kaum SEPILIS-JIL. Mereka berusaha dengan gigih untuk mencabut UU Penodaan Agama, UU No.1 PNPS th.1965. Mereka berdalih bahwa UU Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama itu bertentangan dengan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Dalam konvensi yang telah diratifikasi Indonesia itu dinyatakan kebebasan memeluk agama merupakan jenis hak asasi yang tidak dapat dibatasi oleh apapun.

Apakah benar demikian?

Coba kita cermati bunyi pasal 18 dari KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK SIPIL DAN POLITIK atau yang disebut International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR),

Pasal 18

1. Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, pentaatan, pengamalan dan pengajaran.

2. Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya.

3. Kebebasan menjalankan dan menentukan agama atau kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan berdasarkan hukum, dan yang diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan, atau moral masyarakat, atau hak-hak dan kebebasan mendasar orang lain.

4. Negara Pihak dalam Kovenan ini berjanji untuk menghormati kebebasan orang tua dan apabila diakui, wali hukum yang sah, untuk memastikan bahwa pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri.

Dalam Pasal 18 ayat 3 diatas sangat jelas dikatakan bahwa kebebasan menjalankan atau menentukan agama dibatasi oleh hukum. Jadi tidak ada Kebebasan Mutlak seperti yang selalu diteriak-teriakkan oleh kaum SEPILIS-JIL ini. Dan apalagi yang menyangkut tentang keamanan, ketertiban dan moral masyarakat, maka tidak ada Kebebasan Mutlak yang akhirnya membebaskan siapapun untuk menafsirkan agama secara serampangan, menyimpang lalu menyebarluaskan sehingga menimbulkan keresahan yang berujung pada konflik dan anarkisme.

ICCPR adalah produk Hukum HAM Internasional. Indonesia dimasa rezim Suharto dianggap anti terhadap HAM Internasional. Dan setelah tumbangnya rezim ini Indonesia berusaha memperbaiki reputasi HAM Indonesia di dunia internasional dengan cara meratifikasi Konvensi Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang disahkan dalam UU RI No. 12 Tahun 2005.

Hal ini ditempuh, karena menolak ICCPR akan dikategorikan pada Pelanggaran HAM yang berdampak pada menghambat Pemerintah Indonesia untuk mendapatkan dukungan internasional yang mengakibatkan krisis ekonomi berkepanjangan.

Di masa lalu, Indonesia memiliki komitmen HAM melalui forum internasional seperti Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955, dimana seluruh peserta setuju dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Sally Sety

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2010 in Mahkamah Konstitusi

 

Tag:

RENUNGAN TENTANG UMUR MANUSIA

RENUNGAN TENTANG UMUR MANUSIA
oleh: Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad

Bahagian ini cukup teruja saya membacanya. Jadi ayuh kita baca dan renungkan bersama.

Tahap umur kedua ini memiliki masa permulaan yang agak menyerupai tahap umur alam Barzakh, iaitu semacam campuran antara beberapa sifat keakhiratan yang berkaitan dengan masa setelah kebangkitan dan beberapa sifat keduniaan yang dialami oleh manusia sebelum kematiannya. Masa permulaan di sini adalah masa dalam kandungan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan masa tersebut.

Disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: ” Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah. Kemudian Kami jadikan (sari tanah) itu air mani yang tersimpan dalam tempat yang bernama rahim. Lalu Kami jadikan air mani itu segumpal darah, lalu gumpalan darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan Kami jadikan gumpalan daging itu tulang belulang, lalu Kami lapisi tulang belulang itu dengan daging. Kemudian Kami bentuk ia jadi mahluk yang lain. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.” (QS: 23;12-14)

Demikian juga Rasullullah telah bersabda: “Sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam kandungan ibu berupa setitis air mani selama 40 hari, kemudian menjadi darah yang beku selama 40 hari pula, kemuidan menjadi segumpal daging selama itu juga. Kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya, meniupkan ruh baginya dan memerintahkan menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalannya dan kesudahannya, sebagai orang sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya seseorang dari kamu beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak dengan surga hanya sehasta, tapi ia didahului oleh suratan takdirnya dan iapun beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya seseorang dari kamu beramal dengan amalan ahli neraka hingga jarak diantaranya dengan neraka itu hanya sehasta, namun ia didahului oleh takdirnya dan iapaun beramal dengan amalan ahli surga, sehingga masuklah ia ke dalam surga.” (HR Abdullah bin Mas’ud r.a. dalam shahih Bukhari dan Muslim)

Ibnul Jauzi telah membahagikan umur kepada tahap kedua ini menjadi lima masa:

1. Masa kanak-kanak; dari sejak dilahirkan hingga mencapai umur 15 tahun
2. Masa muda; dari umur 15 tahun hingga umur 35 tahun
3. Masa dewasa; dari umur 35 tahun hingga umur 50 tahun
4. Masa tua; dari umur 50 tahun hingga umur 70 tahun
5. Masa usia lanjut; dari umur 70 tahun hingga akhir umur yang ditentukan oleh Allah SWT.

1. Masa Kanak-Kanak
Pada tahap masa kanak-kanak berlaku masa keringanan dari Allah SWT iaitu belum adanya taklif (beban kewajiban) atas anak-anak untuk mengerjakan solat dan puasa ataupun kewajiban syara’ (agama) lainnya. Hanya saja para orang tua diwajibkan menyuruh mereka mengerjakannya kerana kebaikan dan amal soleh dari anak yang belum baligh selain menjadi amal kebaikannya juga akan menjadi catatan pahala bagi ibu-bapanya selama kedua orang-tuanya memperhatikan pendidikan dan pemeliharaannya. Jika anak telah mencapai masa baligh dan telah sempurna akalnya yaitu kira-kira umur 15 tahun maka ia telah menjadi mukallaf. Saat itulah segala kewajiban agama telah berlaku atas dirinya. Kedua malaikat pengawas diperintahkan oleh Allah untuk mencatat segala aktiviti baik lahir maupun batinnya.

Sebagaimana firman Allah: “Dan sesungguhnya bagi kamu ada beberapa penjaga. Penulis-penulis yang mulia. Mereka mengetahui apa yang kamu lakukan.” (QS: 82; 10-12)

“Ketika dua malaikat pencatat membuat catatan, satu duduk di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri. Tiada yang diucapkan, satu perkataanpun, melainkan ada di dekatnya (malaikat) pengawas yang selalu hadir.” (QS. 50; 17-18)

Malaikat ini akan mendampingi dan hadir pada hari kiamat di hadapan pengadilan Allah SWT dan keduanya menjadi saksi baginya. “Dan datanglah setiap orang bersama (malaikat) pengiring dan (malaikat) penyaksi.” (QS. 50; 21)

2. Masa Muda
Pada tahap masa muda terjadi banyak perubahan baik secara fizikal maupun non-fizikal. Pada masa ini akan dipenuhi dengan semangat dan kekuatan serta memuncaknya kesuburan (vitality). Masa muda ini merupakan kesempatan untuk memperbanyak amalan-amalan serta kebaikan-kebaikan. Namun kecenderungan yang terjadi adalah sebagian besar memanfaatkannya untuk pemuasan nafsu keduniaan. Dalam hal ini Rasullullah saw telah mengingatkan: “Rebutlah lima perkara sebelum terjadi lima perkara: Masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sihatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa lapangmu sebelum tiba masa sibukmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum tiba masa ajalmu.” (HR. Al-Hakim, Baihaqi, Ibnu Abi’ddunia, Ibnul-Mubarrak) “Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara:

1. Tentang umurnya, untuk apa dihabiskan
2. Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan
3. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan
4. Tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya. ” (HR. Tirmidzi)

3. Masa Dewasa
Sedangkan apabila seseorang telah mencapai masa dewasa, Allah SWT memberikan karnia hikmah dan kebijaksanaan sehingga kelihatan padanya berbagai ketaatan dan menujukan hatinya kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT: ” Dan setelah menjadi dewasa dan cukup umurnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan. Demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang melakukan kebajikan. ” (QS. 28;14)

” … sehingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku jalan untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau karniakan kepadaku dan kedua ibu-bapaku, dan doronglah aku untuk berbuat amal soleh yang Engkau redhai …” (QS. 46;15)

as-Syaikh al-Arif Abdul Wahhab bin Ahmad as-Sya’rani dalam kitabnya al-Bahrul-Maurud menyebutkan: “Telah diambil janji-janji dari kita, bahwa apabila kita telah mencapai umur 40 tahun, hendaklah bersiap-siap dengan melipat kasur-kasur dan selalu ingat bahwa kita sekarang sedang dalam perjalanan menuju akhirat pada setiap nafas yang kita tarik sehingga tidak akan lagi merasa tenang hidup di dunia. Di samping itu hendaknya kita menghitung setiap detik dari umur kita sesudah melebihi 40 tahun, sebanding dengan 100 tahun sebelumnya.”

Imam Syafi’i (rahimahullah), setelah mencapai umur 40 tahun, berjalan dengan sebatang tongkat kayu. Ketika ditanya sebabnya, beliau berkata: “Supaya aku senantiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju akhirat.”

Berkata Wahab bin Munabbih: ” Aku baca dalam beberapa kitab, bahawasanya ada suatu suara menyeru dari langit ke-empat pada setiap pagi: ‘ Wahai orang-orang yang telah berusia 40 tahun! kamu adalah tanaman yang telah dekat dengan masa penuaiannya. Wahai orang-orang yang telah berusia 50 tahun! Sudahkah kamu ingat tentang apa yang telah kamu perbuat dan apa yang belum? Wahai orang-orang yang telah berusia 60 tahun! Tidak ada lagi dalih bagimu. Oh, alangkah baiknya seandainya semua mahluk tidak diciptakan! Atau jika mereka telah diciptakan, seharusnya mereka mengetahui, mengapa mereka diciptakan. Awas, saatmu telah tiba! Waspadalah! ”

4. Masa Tua
Setelah mencapai tahap umur dewasa maka manusia akan beralih kepada umur tua. Dalam tahapan ini akan nampak tanda-tanda kelemahan seseorang. Tahap umur ini oleh Rasullullah saw dinamakan ‘pergulatan dengan maut’, iaitu masa-masa umur 60’an hingga 70’an. Dalam hal ini beliau bersabda: “Masa penuaian umur umatku dari 60 hingga 70 tahun”. (HR. Muslim & Nasa-i)

Rasullullah saw., sahabat Abubakar, Umar dan Ali ra. juga diwafatkan oleh Allah SWT pada kisaran usia ini. Umat sekarang ini tergolong umat yang berumur pendek dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Diriwayatkan bahawa ketika sebahagian dari bani Adam meninggal dunia pada umur kurang lebih 200 tahun, maka banyaklah mahluk yang merasa simpati terhadapnya, kerana telah meninggal dalam usia yang muda. Diriwayatkan lagi bahwa Rasullullah saw. ketika merasakan umur umatnya terlalu pendek bila dibandingkan dengan umat sebelumnya, beliaupun memohon dan bertadharru’ kepada Allah SWT, mengadukan bahwa tidak cukup waktu bagi umatnya untuk memperbanyak ketaatan kepada Allah SWT dan menambah amalan untuk akhiratnya. Maka Allah SWT menganugerahkan kepadanya kepada umat Muhammad malam Lailatul Qadar yang lebih utama dari seribu bulan, untuk memanjangkan nilai umur mereka dan menambah pula pahala dan kebajikan mereka sedemikian rupa. Maka bila beribadah dan munajat kepada Allah SWT pada malam Lailatul Qadar itu, ia seperti beribadah selama seribu bulan yang setara dengan 83 tahun 4 bulan. Demikianlah perhatian Rasullullah saw. yang sangat besar dalam memperjuangkan nasib umatnya.

Telah diriwayatkan bahwa orang pertama yang beruban ialah Nabi Ibrahim a.s. Ketika beliau melihat rambut putih itu beliau bertanya: “Wahai Tuhanku, apa ini?”. Allah menjawab: ” Ini (tanda) kewibawaan.” Berkata Ibrahim: “Tuhanku, tambahkanlah itu bagiku!” Berkata Al-Khatib Ibnu Nutabah: “Sesungguhnya uban itu laksana perbatasan hidup yang tak dapat disekat, kerusakannya tidak dapat diperbaiki oleh zaman. Ia adalah cahaya yang muncul bersama dengan surutnya nafas seseorang, yang akan memimpin seseorang ke tempat longgokan tulang-belulang. Oleh kerana itu semuga Allah merahmatimu, jangan membakar cahaya ubanmu dengan api-api dosamu!”

Bersabda nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadist Qudsi: “Telah berfirman Allah SWT:’Demi kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku, dan keperluan sekalian mahluk-Ku kepada-Ku, sesungguhnya Aku merasa malu menyiksa hamba-Ku, baik lelaki maupun wanita yang telah beruban kerana mencapai umur tua di dalam Islam’. Kemudian Rasullullah saw. menangis . Lalu ditanyakan kepadanya:”Apa sebab engkau menangis, ya Rasullullah ?” Jawab beliau: “Aku menangisi orang tua yang Allah malu kepadanya, sedangkan dia tidak malu kepada Allah SWT.”

Sekali peristiwa, Ma’an bin Zaidah datang menghadap Khalifah al-Ma’mun, lalu Khalifah bertanya: “Bagaimana keadaanmu setelah menjadi tua seperti ini?” Jawabnya: “Aku mudah tersungkur hanya kerana tersandung sebuah kerikil, dan dapat diikat hanya dengan sehelai rambut.” Tanya Khalifah :”Bagaimana halnya dengan makan minum dan tidurmu?” Jawabnya:”Bila aku lapar, aku menjadi marah, bila aku makan aku bosan, bila dalam majlis aku mengantuk, bila di atas tempat tidur mataku terbuka!”. Tanya Khalifah selanjutnya:”Bagaimana halmu dengan wanita ?” Jawabnya: ‘Yang tua dan buruk aku tidak ingin kepadanya, yang cantik molek tidak suka kepadaku!” Kata Khalifah selanjutnya:” Orang sebijak engkau ini tidak patut menjadi tua” (dari kitab Rabi’ul-Abraar)

Berkata Imam Ghazali dalam uraiannya untuk mengingatkan pada orang-orang yang sudah tua: “Jika anda katakan bahawa mati itu tidak akan terjadi kecuali disebabkan kerana sakit dan jarang sekali ia datang dengan tiba-tiba, ketahuilah benar-benar bahawasannya mati itu adakalanya terjadi dengan tiba-tiba. Dan apabila anda sakit, maka anda tidak akan mampu lagi mengerjakan amal-amal soleh sedangkan itu bekal untuk akhirat kelak”.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu dilalaikan oleh harta dan anak-anakmu dari mengingat Allah. maka barang siapa melakukan yang demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah rezeki yang kami berikan kepadamu sebelum maut datang menjumpai seseorang dari kamu; Lalu berkata:’Tuhanku Kalau dapat Engkau tangguhkan matiku sebentar saja, niscaya aku akan memberi sedekah dan aku akan menjadi orang-orang yang mengerjakan kebaikan.’ Allah tidak akan memberi tangguh kepada seseorang apabila telah sampai ajalnya, dan Allah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan.” (QS 63:9-11)

Rasullullah saw. pernah ditanya: “Adakah orang lain yang akan dibangkitkan bersama para syuhada?” Jawab beliau: “Ya, mereka itulah yang mengingat mati sebanyak 20 kali dalam sehari semalam.” Di lain peristiwa beliau menjawab: “Merekalah yang banyak mengingat mati dan selalu bersiap-siap menyambutnya. Merekalah orang-orang bijak, yang meninggalkan dunia dengan penuh kehormatan dan tiba di akhirat dengan penuh kemuliaaan.”” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Abi’ddunia)

Dalam sebuah hadis dijelaskan: “Anggaplah dirimu di dunia ini sebagai seorang asing atau musafir lalu, dan anggaplah dirimu sebagai seorang diantara penghuni kubur”. (HR Bukhari)

Rasullullah saw bersabda: “Apalah erti dunia bagiku. Hubunganku dengan dunia ini laksana seorang pengembara yang sedang berjalan di panas terik, tiba-tiba kelihatan olehnya sebatang pohon, lalu iapun berteduh sejenak dibawahnya, sesaat kemudian ia pergi lagi dan meninggalkannya.” (HR Tirmidzi)

Sehubungan dengan uraian Al-Ghazali mengenai kematian seseorang yang disebabkan oleh sakit, Rasullullah saw mengajurkan supaya orang yang sedang sakit banyak beristighfar mengingat Allah sebab ia tidak tahu barangkali ia akan mati kerana sakit tersebut. Sekali waktu Rasullullah saw menjenguk seorang yang sedang sakit dan beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana perasaanmu?” Jawabnya:”Aku meletakkan sepenuh harapan kepada Tuhanku dan aku selalu cemas tentang dosa-dosaku”. Maka berkatalah beliau:”Selama kedua sifat ini terkumpul dalam hati seorang muslim, sedang ia dalam keadaan kritis, maka Allah akan mengabulkan semua yang diharapkan dan meyelamatkan dari semua yang ditakutinya.” (HR Tirmidzi)

Dalam hadis lain disebutkan: “Seseorang hamba muslim, ketika menghadapi maut akan digembirakan dengan rahmat Allah dan kurniaNya, sehingga ia ingin sekali bertemu dengan Allah SWT dan Allah SWT pun ingin bertemu dengannya. Sebaliknya seorang munafik ketika menghadapi maut akan dipertakuti dengan azab Allah SWT., maka ia tak ingin bertemu dengan Allah SWT dan Allah SWT pun tak ingin bertemu dengannya. Maka kaum mukminin yang penuh dengan takwa akan digembirakan oleh rahmat Allah SWT ketika hendak keluar dari dunia ini sehingga ruh-ruh mereka hampir-hampir akan terbang dari jasad mereka karena sangat rindu akan Tuhannya dan ingin sekali untuk segera menemui-Nya disaat para malaikat memberi salam kepada mereka menggembirakan mereka dengan surga dan jaminan bahwa mereka tidak akan ketakutan dan tidak akan pula bersedih hati sebagaimana dalam firman Allah: “Orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan baik (kepada mereka dikatakan): ‘Selamatlah kamu! Masuklah ke dalam surga disebabkan amal baik yang telah kamu kerjakan'” (QS 16:32) (HR Bukhari & Muslim)

Beberapa do’a yang dianjurkan oleh Rasullullah saw dibaca pada saat sakit diantaranya adalah: “Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dholimiin” ‘Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini tergolong orang-orang yang aniaya’. Dalam satu riwayat disebutkan bila membaca do’a ini sebanyak 40 kali lalu ia meninggal kerana penyakitnya itu maka ia sama dengan mati syahid.

Dari Anas ra. berkata bahwa Rasullullah saw. bersabda mengenai perjalanan manusia dari bayi hingga mencapai umur baligh: “Segala kebajikan yang dikerjakannya akan dicatat pahalanya untuk kedua orang tuanya. Jika ia melakukan kesalahan tidaklah dicatat baginya suatu dosa dan tidak pula bagi kedua orang tuanya. Apabila ia telah baligh dan qalam mulai mencatat perbuatannya, maka Allah SWT akan memerintahkan kedua malaikat yang bersamanya untuk memelihara serta membenarkan langkahnya. Apabila ia mencapai umur 40 tahun sebagai seorang muslim, maka Allah akan memeliharanya dari tiga penyakit yaitu gila, lepra, dan sopak (belang). Apabila ia mencapai umur 50 tahun, Allah akan meringankan hisabnya. Apabila ia mencapai usia 60 tahun, Allah memudahkan baginya untuk kembali kepada-Nya dalam hal-hal yang disukai-Nya. Apabila ia mencapai umur 70 tahun, niscaya ia akan dicintai seluruh penghuni langit. Apabila ia mencapai usia 80 tahun Allah akan mencatatkan segala kebajikan baginya dan mengampuni segala kejahatannya. Apabila ia mencapai umur 90 tahun Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu dan dosanya yang akan datang dan mengizinkannya memberi syafaat pada semua ahli rumahnya dan ia selalu dibawah pengawasan Allah SWT. Apabila ia mencapai usia yang tua renta (pikun), sehingga tidak mengetahui lagi apa yang dahulu pernah ia ketahui, maka Allah SWT akan mencatatkan segala kebajikan yang pernah dilakukan pada masa sehatnya dulu dan bila ia berbuat suatu dosa maka tidaklah akan dicatatkan lagi baginya sesuatupun.”

Sekali peristiwa seorang jenazah melewati dii hadapan Rasullullah beliau berkata: “Bebas atau membebaskan!” beliau ditanya:”Wahai Rasulullah Apa maksud bebas atau membebaskan?” Beliau menjawab:”Seorang mukmin yang meninggal dunia akan bebas dari gangguan dunia dan penderitaannya, menuju kepada rahmat Allah. Sedangkan kematian seorang fajir (durhaka) akan membebaskan seluruh hamba Allah, negara, pepohonan dan binatang dari gangguannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Berkata Rasulullah saw. kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin sedang kubur adalah tempat aman baginya dan surga adalah tempat tujuannya.” Wahai Abu Dzar sesungguhnya dunia ini adalah surga bagi orang kafir, sedang kubur adalah tempat siksaannya dan neraka adalah tempat tujuannya.”

Berkata Ibnu Abbas ra.: “Sekiranya anda lihat seseorang sedang menghadapi maut maka gembirakanlah agar ia menemui Tuhannya dengan mnyimpan sangkaan baik terhadap-Nya. Tetapi selama hidup pertakutilah ia dengan hukuman Allah.”

Imam Ali ra. berkata: “Apabila seorang mukmin meninggal dunia, tempat sholatnya di bumi akan menangisinya dan tempat naik amalannya ke langit pun akan menangisinya pula”

Bersabda Rasulullah saw: “Siapa saja yang matinya di penghujung Ramadhan maka ia masuk surga. Siapa saja yang matinya di penghujung hari Arafah, maka ia masuk surga. Dan siapa yang matinya tepat saat ia selesai bersedekah, maka ia masuk surga.” “Barang siapa meninggal dunia pada malam Jum’at atau hari Jum’at, maka ia akan terlindung dari siksa kubur, dan di hari kiamat ia akan datang dengan tanda-tanda para syuhada padanya.”

..insyaallah nanti akan dimutakan umur tahap ke-3….

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 13, 2010 in Tausiyah

 

ISLAM BUKAN BUDAYA ARAB

Pagi ini sebuah email membuat saya sempat kaget, tertegun sekian menit setelah menyaksikan sebuah video tautan dari forum diskusi di Multiply sebagai berikut : http://indonesiancommunity.multiply.com/reviews/item/431 atau tautan Youtube di : http://www.youtube.com/watch?v=_pQg8iU_wM4

Dan false-opini yg saya khawatirkan adalah menganggap Arab = Islam. Tindakan kriminal seorang warga negara Arab yang kebetulan dia berasal dari Royal Family akan dianggap sebagai ‘budaya Islam’ / ‘budaya kekerasan alam Islam’. Sehingga pada diakhir pembuatan opini ini pesan tersimpan yang mau disampaikan melalui alam bawah sadar pembacanya adalah….”Yaa…memang ISLAM itu TERORIS”.
Astaghfirullah!!!

Cukuplah kita yang merasakan pedihnya fitnah ini. Dan kita wajib meluruskan. Jangan biarkan generasi anak cucu kita terinfeksi oleh fitnah-fitnah keji macam ini.

ISLAM BUKAN BUDAYA ARAB

Sebagian kaum muslimin agak sulit membedakan antara Islam dengan budaya Arab. Sehingga sering terjadi salah paham terhadap kedua hal tersebut. Budaya Arab terkadang diangggap sebagai Islam, dan sebaliknya Islam dianggap sebagai budaya Arab. Hal ini perlu kita pelajari lebih dalam agar kita dapat membedakan antara agama dan produk budaya.

Sebelum Islam diturunkan diseluruh negeri, dunia diliputi oleh kebodohan dan kegelapan yang merata di segala lini kehidupan. Agama terakhir saat itu yaitu Nasrani yang seharusnya menjaga kemurnian ajaran sebelumnya yang bersumber pada kitab Taurat, telah demikian terdistorsi dari ajaran awal (aslinya). Kehidupan di seluruh negeri saat itu tidak terlepas dari syirik, khurafat dan sebagainya sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Zaman itulah yang kita kenal dengan istilah zaman jahiliyyah.

Kemudian datanglah Islam dengan membawa wahyu Allah SWT, yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Islam datang sebagai “pengkritik” segala budaya-budaya yang ada di dunia. Kritik yang dilakukan Islam adalah dalam rangka menyempurnakan akhlaq manusia agar mereka dapat menciptakan kehidupan yang benar-benar manusiawi, baik akhlaq sebagai makhluq kepada Allah sebagai Khaliqnya (pencipta) yang diistilahkan juga dengan hablum minallah, maupun akhlaq antara sesama manusia atau hablum minan naas.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia.” (H.R. Bukhari dan Ahmad. Lihat Silsilah ash-Shahihah 15).

Fungsi Islam sebagai pengkritik ini pertama kali dijalankan sejak pertama kali Islam itu turun ke muka bumi ini. Berhubung Islam turun di Arab, maka pihak yang pertama kali dikritik oleh Islam adalah budaya Arab.

Bangsa Arab sebagaimana bangsa-bangsa yang lainnya saat itu merupakan bangsa yang tenggelam paling jauh dalam berbagai kerusakan akhlaq, mereka gemar berperang baik antar suku maupun antar qabilah. Mereka juga gemar meminum khamr, judi dan mereka memperlakukan wanita layaknya seperti barang, dan kerusakan terbesar pada saat itu adalah perbuatan mereka yang beribadah kepada Allah namun juga beribadah kepada selain Allah (Syirik), dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan akhlaq lainnya pada masa itu yang menjadikan kehidupan mereka jauh dari sifat manusiawi yang hakiki.

Maka mulailah Islam menjalankan fungsinya sebagai pengkritik. Di mulai dari hal yang terpenting yang menjadi prioritas utama yaitu kerusakan akhlaq manusia terhadap Allah yaitu perbuatan syirik. Dimana asas-asas budaya Arab yang saat itu mengandung unsur-unsur kesyirikan, dan segala kemaksiatan, semuanya dikoreksi total oleh Islam dan diganti dengan asas-asas yang berlandaskan ketauhidan kepada Allah, hingga akhirnya bangsa Arab berubah dari bangsa yang penuh dengan kesyirikan, khurafat dan sebagainya tadi, menjadi bangsa yang muwahhid (mentauhidkan Allah Ta`ala).

Demikianlah fungsi koreksi tersebut masuk ke semua lini kehidupan dan budaya bangsa Arab, hingga akhirnya masyarakat dan budaya Arab itu tunduk kepada Islam. Oleh sebab itu bangsa Arab justru kemudian menjadi bangsa yang paling pertama merasakan serangan kritik dan koreksi dari Islam.

Kemudian fungsi kritik itu terus meluas masuk ke negara-negara sekitarnya seperti Persia, Romawi, Cina dan akhirnya sampai ke Indonesia. Maka tidak ada pilihan lain bagi masyarakat atau budaya suatu bangsa, ketika Islam masuk ke sana, sementara mereka mengkui Islam sebagai agamanya, maka orang-orang disana harus siap untuk dikritik oleh Islam dan siap berubah dari seorang musyrik menjadi seorang muwahhid (orang yang bertauhid), apapun latar belakang budaya ataupun bangsanya.

Islam sesungguhnya memiliki konsep bagaimana berinteraksi dengan budaya-budaya di luar Islam. Islam mempersilahkan siapapun untuk mengemukakan pandangan-pandangan ataupun melakukan tindakan-tindakan budaya seperti apapun, asalkan tidak melanggar ketentuan halal-haram, pertimbangan mashlahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan), serta prinsip al Wala` (kecintaan yang hanya kepada Allah dan apa saja yang dicintai Allah) dan al Bara` (berlepas diri dan membenci dari apa saja yang dibenci oleh Allah), dimana ketiga prinsip inilah yang menjadi jati diri dan prinsip umat Islam yang tidak boleh diutak-atik dalam berinteraksi dengan budaya-budaya lain diluar Islam.

Sehingga dari ketiga prinsip ini akan lahir sebuah Kebudayaan Islam, dimana kebudayaan Islam ini selalu memiliki satu ciri khusus yang tidak dimiliki oleh budaya dan bangsa manapun diluar Islam, yakni budaya yang berasaskan Tauhidul `Ibadah Lillahi Wahdah (mempersembahkan segala bentuk peribadatan hanya kepada Allah).

Selama prinsip-prinsip dan asas tersebut tidak dilanggar, maka kita dipersilahkan seluas-luasnya untuk berhubungan ataupun mengambil manfaat dari bangsa-bangsa dan budaya manapun di luar Islam. Sebab segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, baik itu sifatnya ilmu pengetahuan maupun materi (yang selain perkara agama tentunya), itu semua memang diciptakan oleh Allah untuk kita umat manusia, kaum muslimin, walaupun berasal dari orang-orang kafir.

Sebagaimana firman Allah SWT: Dialah (Allah), yang telah menciptakan segala yang ada dibumi ini untuk kalian…(Q.S. Al Baqarah [2]: 29)

Maka sesungguhnya kedudukan budaya Arab itu sama dengan budaya Persia, Romawi, Melayu, Jawa dan sebagainya di mana budaya-budaya tersebut adalah pihak yang harus siap dikritik oleh Islam ketika Islam telah masuk ke negeri-negeri tersebut.

Maka tidak benar jika dikatakan Islam (seperti jilbab, kerudung dan sebagainya) adalah produk budaya Arab. Sebab justru budaya Arab adalah budaya yang paling pertama dikritik dan dikoreksi oleh Islam sebelum budaya-budaya yang lainnya. Maka apa saja yang telah diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai agama, maka itulah Islam.

Sementara segala sesuatu yang tidak diterangkan oleh Allah dan RasulNya dalam perkara agama, maka itu bukanlah Islam, meskipun perkara tersebut telah menjadi kebiasaan dan populer pada masyarakat Arab atau masyarakat Islam yang lainnya.

Sebab, Arab tidaklah sama dengan Islam, dan sebaliknya Islam tidaklah serupa dengan Arab. Akan tetapi budaya Arab dan budaya-budaya yang lainnya yang mau tunduk kepada Islam, maka itulah yang pantas dinamakan budaya Islam.

(Sally / Adi Supriadi)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 13, 2010 in Kajian

 

Tag: ,

Arswendo Malah Gembosi SEPILIS-JIL

Sidang Mahkamah Konstitusi, Judicial Review atas UU No.1 PNPS Th.1965.
Kemarin hari Rabu, 10 Februari 2010 pukul 10.00 WIB kembali digelar Sidang Konstitusi membahas tentang Judicial Review atas UU No.1 PNPS th.1965 tentang Penodaan Agama yang diajukan oleh kaum SEPILIS-JIL.

Hal yang menarik dalam sidang ke-II kali ini adalah kehadiran Arswendo sebagai Saksi Korban yang diajukan oleh pihak Pemohon (SEPILIS-JIL).

Arswendo Atmowiloto Pimred Tabloid Monitor pada tahun 1990 dijerat UU Penodaan Agama dengan hukuman pidana selama 5 tahun karena telah melecehkan Nabi Muhammad saw dengan membuat polling angket berhadiah di tabloid Monitor yang menempatkan Nabi Muhammad saw di nomer ke-11.

Sejatinya, Arswendo dihadirkan adalah untuk menguatkan gugatan pihak SEPILIS-JIL terhadap argumen mereka bahwa UU Penodaan Agama seharusnya dicabut. Namun alih-alih menguatkan, Arswendo malah ‘menggembosi’ SEPILIS-JIL.

Arswendo mengaku tidak tahu kalau membuat polling Nabi Muhammad saw adalah sebuah penistaan, “Saya baru tahu bahwa membandingkan Nabi Muhammad dengan manusia lain adalah penodaan, sebelum itu tidak pernah ada penjelasan mengenai hal ini.”

“Pasal ini seperti gigi yang mulai goyang. Dia bisa dicabut bisa pula dirawat dipertahankan dengan penjelasan-penjelasan yang mudah dipahami. Sehingga tidak mengulang kejadian yang sama,” demikian lanjut Arswendo.

Arswendo Atmowiloto

Arswendo Atmowiloto Menyesal Lukai Umat
http://www.antara.co.id/berita/1265786283/arswendo-atmowiloto-menyesal-lukai-umat

Sedangkan utusan dari MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), mengatakan, “Bila penodaan agama dilakukan kepada agama yang banyak penganutnya maka penganut agama tersebut dapat melakukan perlawanan dalam bentuk juridis maupun aksi-aksi lainnya.

Kebebasan yang tanpa bebas akan menimbulkan konflik dan anarkisme. Apakah dengan dicabutnya UU PNPS akan membuat agama-agama kecil lebih terlindungi? Atau, jangan-jangan justru menjadi semakin tidak terlindungi dan menjadi pihak yang teraniaya. Karena tidak ada lagi aturan hukum yang menjadi pegangan. Karena itulah kami menolak pencabutan UU No.1 PNPS th.1965.”

Berikut adalah ringakasan sesi tanya-jawab dari Pemohon (Sepilis-Jil), Pihak Terkait (MUI, PBNU, Pemerintah) dengan Saksi Korban (Arswendo).

Pemohon:
– “Apakah ketika membuat polling, anda membayangkan bahwa akan muncul nama nabi Muhammad?
– Apakah menempatkan Nabi Muhammad di nomer 11 itu rekasaya atau sesuai faktual sesuai dengan polling?
– Apakah membikin polling itu anda gunakan sebagai semangat permusuhan?”

MUI :
– “Apakah pada waktu itu korban terpikir/terasa bahwa memasukkan nama nabi Muhammad pada no 11 akan terjadi, akan terluka hati dan perasaan umat Islam Indonesia? Karena Iwan Fals (di peringkat ke-4) itupun tidak senang dan terasa terluka juga karena ia berada tujuh nomer di atas Nabi Muhammad saw.
– Saudara menyatakan, bahwa tidak tahu akan menimbulkan penodaan agama. Pertanyaan saya : Apakah ada rasa menyesal? Apakah ada kekhawatirkan apabila orang lain melakukan hal yang sama akan berakibat kerusuhan/chaos? Anda menyebutkan UU No.1 PNPS th.1965 seperti gigi yang mau tanggal sehingga bisa dicabut atau diperkuat. Apakah secara eksplisit saudara menyatakan bahwa memang diperlukan suatu aturan, suatu UU unt mengindari orang secara sembarangan melakukan penodaan agama?
– Bagaimana metodologi bagaimana memilih responden?”

PBNU:
– “Sehubungan dengan aturan Penodaan Agama, apakah dengan dicabutnya peraturan tersebut maksudnya terbantu kebebasan dan diperbolehkan penodaan agama?”

Pemerintah:
– “Saya meminta saudara mengingat siapa-siapa nama polling dari no.1 hingga 11.
– Bagaimana kalau Imam atau taruhlah seperti Nabi Muhammad saw, di agama yang saudara yakini, apakah kalau diperlakukan demikian saudara tidak ternoda, tidak terhina?
– Saudara dijerat dengan Pasal 1 UU PNPS No.1 Th. 1965. Apakah itu kaitan dengan dengan kebebasan beragama atau dengan penodaan?
– Bagaimana kalau UU ini tidak ada? Apakah saudara juga tidak membayangkan kalau pada saat itu demo sedemikian besar mengancam jiwa saudara? Apa yang saudara pikirkan?”

Arswendo :
– “Saya menyesal karena membuat Islam marah. Itu kesalahan saya yang paling dalam. Pada minggu yang sama ketika peristiwa itu terjadi permintaan maaf di Televisi dan dimuat di nomer berikutnya di halaman satu seluruhnya isinya hanya permintaan maaf.
– Tidak ada metodologi khusus.
– Yang lainnya saya kira sudah termasuk disini. Karena untuk ini saya boleh tidak menjawab dan saya mungkin tidak terlalu mempunyai jawaban.
– (tentang istilah gigi) Saya memanggap ini ada masalah, dibiarkan karena masih ada kasus semacam ini….. boleh, dicabut…. ya bisa. Atau tetep saja diralat dengan beberapa perincian yang jelas.”

Pemohon : “Apakah menempatkan no 11 itu faktual hasil polling ataukah rekayasa?”
Arswendo :
– “Pada waktu itu. Itu bukan rekayasa semuanya ada nomer-nomer urutnya.”

Pemerintah : “Yang tadi no. 1 sampai dengan 11 itu siapa saja?”
Arswendo :
– “Saya tidak begitu ingat, yang nomer satu yang saya ingat adalah Presiden Suharto, urutan persisnya saya tidak, mungkin Sukarno bisa Sadam Husein diurutan ke tiga dan lain sebagainya. Kemudian sampai dengan no 10 saya sendiri dan no 11 nabi Muhammad itu.”

Sontak pengunjung di luar ruang siding bersorak “Owwwhhhh…..sudah untung dia tidak mati.”

Yah, seharusnya Arswendo bersyukur karena adanya UU No.1 PNPS Th.1965 memberikan proses peradilan sehingga dia terselamatkan dari amarah umat Islam yang memungkinkan dia tewas ditangan peradilan massa.

(Sally Sety)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2010 in Mahkamah Konstitusi

 

Tag:

Siapa-siapa Yang Akan Bertarung di Sidang MK

UU Penodaan Agama di gugat oleh kaum SEPILIS-JIL dengan mengajukan Judicial Review pada Mahkamah Konstitusi. Mereka para Pemohon Principal adalah dari 7 Lembaga & 4 individu, yang satu sudah meninggal.
1. IMPARSIAL,
2. ELSAM,
3. PHBI,
4. DEMOS,
5. Perkumpulan Masyarakat Setara,
6. Yayasan Desantara,
7. YLBHI,
8. KH.Abdurrahman Wahid,
9. Prof.DR.Musdah Mulia,
10. Prof.M.Dawam Rahardjo
11. KH.Maman Imanul Haq

Para kuasa hukum pihak Pemohon (Sepilis-JIL). Dari sekian banyak Pemohon (7) hanya 2 saja yang datang!
Namun Pihak Pemohon Principal yang hadir dalam Sidang Konstitusi Uji Material UU Penodaan Agama, 4 Februari 2010, hanya 2 orang.
1. Syamsuddin Radjab (PBHI)
2. Anton Pradjasto (Perkumpulan Pusat Studi HAM dan Demokrasi/Demos)

Dengan Kuasa Hukum Pemohon:
1. Uli Parulian Sihombing, S.H., LL.M.
2. Febi Yonesta, S.H. M.
3. Choirul Anam, S.H.
4. Totok Yulianto, S.H.
5. Siti Aminah, S.H.
6. Nurcholis Hidayat, S.H.
7. Judianto Simanjuntak, S.H.
8. Wahyu Wagiman, S.H.
9. Indria Fernida, S.H.
10. Zainal Abidin, S.H.
11. Muhammad Isnur, S.H.
12. Vicky Silvanie, S.H.
13. Adam M. Pantauw, S.H.

Pihak Pemerintah yang hadir:
1. Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si. (Menteri Agama)
2. Patrialis Akbar, S.H. (Menteri Hukum dan HAM)
3. Bahrul Hayat, Ph. D. (Sekjen Kementerian Agama)
4. Prof. Dr. HM. Atho Mudzar (Kabalitbang dan Diklat Keagamaan Kementerian Agama)
5. Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar (Dirjen Bimas Islam)
6. DR. Jason Lase, S.Th., M.Si. (Dirjen Bimas Kristen)
7. Drs. Stef Agus (Dirjen Bimas Katolik) Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS. (Dirjen Bimas Hindu)
8. Drs. Budi Setiawan, M. Sc. (Dirjen Bimas Buddha)
9. H. Mubarok (Staf)
10. Drs. H. Abdul Fatah (Staf)
11. Abdul Wahid, S.H., M.H. (Dirjen Peraturan Perundang-undangan)
12. Qomaruddin (Direktur Litigasi Dephukham)
13. Mualimin Abdi (Kasubdit Dephukham untuk Penyiapan dan Pendampingan Sidang MK)

Pihak Ahli dari Pemerintah:
– Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin (Wakil Ketua MPR)

Pihak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang hadir:
1. H. Chairuman Harahap, S.H., M.H. (Anggota DPR)
2. Drs. H. Adang Daradjatun (Anggota DPR)
3. Jhonson Rajagukguk (Ketua Biro Hukum DPR)
4. Rudi Rohmansyah (Tim Biro Hukum DPR)
5. Dwi Prihartomo (Tim Biro Hukum Setjen)

Pihak Terkait (Majelis Ulama Indonesia/MUI):
1. Drs. H. Amidhan (Koordinator)
2. H.M. Lutfi Hakim, S.H., M.H. (Anggota)
3. Hj. Aisyah Amini, S.H., M.H. (Anggota)
4. H. Sutito, S.H., M.H. (Anggota)
5. Wirawan Adnan, S.H. (Anggota)
6. H.M. Assegaf, S.H. (Anggota)
7. Muhammad H. Hazim Imihdan, S.H. (Anggota)
8. Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A. (Sekretaris)

Pihak Terkait (Muhammadiyah):
1. Dr. Saleh Partaonan Daulay, M.A., M.Hum. (Sekretaris Lembaga Hukum dan HAM PPM)
2. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. (Sekretaris Majelis Dikdasmen PPM)
3. Muhajir Sodrudin, S.H., M.Hum. (Anggota Lembaga Hukum dan HAM) Abdul Malik

Pihak Terkait (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia/PGI):
– Pendeta Einer Sitompul

————————————————————————————————————–

Mahkamah Konstitusi

Yang akan hadir di Sidang Konstitusi besok (setelah tanggal 4 Feb’10),

Pemohon : telah menyiapkan 8 orang Ahli, yaitu:
1. Ahmad Syafii Maarif;
2. Arswendo Atmowiloto;
3. Frans Magnis Suseno;
4. J. E. Sahetapi;
5. Lutfi Assyaukani;
6. Sardi;
7. Sutandyo Wignyo Subroto;
8. W. Cole Darheim, dari…, nanti kita akan sidang teleconference dengan Amerika.

Ahli yang disiapkan oleh Pemerintah:
1. Prof. Dr. Bagir Manan;
2. Prof. Dr. Harun Kamil;
3. Prof. Dr. Satya Arinanto;
4. Dr. Mudzakkir;
5. Dr. Amin Suma;
6. Prof. Rahmat Syafii;
7. Lukman Hakim Syaifuddin,
8. Kemudian KH. Hafid Usman,
9. KH Muhammad Sanusi Bacho,
10. Bagendo Letter, Prof. Mahdini,
11. KH. Masyruri Mughni,
12. Prof. Dr. Abdullah Syah,
13. Prof. Dr. HM Atok Mudhart,
14. Prof. Dr. Rusdi Muhammad,
15. Prof. Dr. Ridwan Nasir,
16. Prof. Dr. Noor Syam,
17. Prof. Dr. Ali Aziz, M.A.

Kemudian organisasi masyarakat yang mengajukan permohonan sebagai Pihak Terkait yang dikabulkan untuk menjadi Pemohon di dalam sidang adalah:
1. DPP Partai Persatuan Pembangunan;
2. DPP Front Pembela Islam;
3. Yayasan Irena Center;
4. Pimpinan Pusat Al Irsyad;
5. Pimpinan Pusat Dewan Dakwah Islamiah;
6. Pimpinan Pusat Persatuan Islam;
7. DPP Ittihadul Mubalighin;
8. Forum Kerukunan Umat Beragama DKI Jakarta;
9. Hizbut Tahrir Indonesia;
10. Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia.

31 ahli yang diminta dihadirkan oleh pihak Hakim Konstitusi di Mahkamah Konstitusi a/l:
1. Jimly Asshiddiqie, (Mantan Ketua MK)
2. Yusril Ihza Mahendra (Mantan Menhukham)
3. Musthofa Bisri (Gus Mus).
4. Ulil Abshar Abdalla
5. Amien Rais. (Mantan Ketua MPR),
6. Thamrin Amal Tamagola,
7. Taufik Ismail, (Penyair)
8. Emha Ainun Nadjib, (budayawan)
9. Garin Nugroho, (sutradara)
10. Andrea Hirata (Novelis)
11. Quraish Shihab, (GB Ilmu Tafsir)
12. Alwi Shihab,
13. Djaduk Ferianto.
14. Ahmad Fedyani Saifuddin, (GB Antropologi UI)
15. Azyumardi Azra, (GB Sejarah UIN Syarif Hidayatullah)
16. Pastor Mudji Sutrisno, (rohaniawan)
17. KH. Hasyim Muzadi (Ketua NU)
18. Jalaluddin Rakhmat (GB Komunikasi Unpad)
19. Komarudin Hidayat (Rektor UIN),
20. Pendeta SAE Nababan (rohaniawan)

(nama-nama lain belum diketahui)

Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=125359
http://www.republika.co.id/berita/103263/andrea-hirata-jadi-ahli-dalam-sidang-mk

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 9, 2010 in Mahkamah Konstitusi

 

Hasil Sidang MK 4 Feb 2010

Assalamualaikum wrwb,

Sebelumnya saya memohon maaf atas keterlambatan menulis hasil Sidang MK beberapa hari yang lalu karena beberapa hal mengenai kesehatan. Alhamdulillah kini mulai pulih dan kembali siap menyampaikan kepada Ikhwah semua. InsyaAllah.

(Sally Sety)
————————————————————————————————————–

Hasil Perkembangan Sidang Mahkamah Konstutusi tentang UU No.1 PNPS Th.1965.

Sidang Mahkamah Konstitusi, Judicial Review atas UU No.1 PNPS Th.1965.
Pada tanggal 4 Februari 2010 pk.10.00WIB digelarlah Sidang Konstitusi yang membahas tentang UU No.1 PNPS 1965 yang mengatur tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama.

Isi Undang-undang yang digugat kaum SEPILIS-JIL ini adalah sebagai berikut:
Pasal 1 :
SETIAP ORANG dilarang DENGAN SENGAJA di muka umum MENCERITAKAN, MENGANJURKAN atau MENGUSAHAKAN DUKUNGAN UMUM untuk melakukan PENAFSIRAN tentang SESUATU AGAMA yang dianut di Indonesia, atau melakukan KEGIATAN2 KEAGAMAAN YANG MENYERUPAI kegiatan2 keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana MENYIMPANG DARI POKOK2 AJARAN AGAMA itu.

Pada intinya kaum SEPILIS-JIL menganggap penerapan UU Penodaan Agama bertentangan dengan UUD 1945, bertentangan dengan prinsip persamaan dalam hukum (equality before the law) dan prinsip-prinsip HAM dimana setiap individu berhak bebas dari perlakukan diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang diskriminatif.

Agenda sidang perkara No.140/PUU-VII/2009 pada hari tersebut adalah mendengarkan keterangan Pemerintah, DPR (III) dan Pihak Terkait (MUI, Muhammadiyah, PGI-Persekutuan Gereja2 Indonesia).

Risalah sidang bisa di down-load disini:
http://www.scribd.com/doc/26529282/Risalah-Sidang-Perkara-No-140-PUU-VII-2010-4-Feb-2010

Layout Persidangan
Dari pihak Pemerintah, Menag Suryadharma Ali mengatakan, gugatan kelompok lembaga sosial masyarakat (LSM) tentang uji materi UU No.1/PNPS tahun 1965 tentang penyalahgunaan dan/atau penodaan agama dinilai tidak rasional. Suryadharma Ali lebih lanjut menyatakan Undang undang No.1 PNPS tahun 1965 tentang penodaan agama masih sangat kita perlukan. “Jika Undang undang ini digugat dan dikabulkan, kita khawatir ini menjadi awal pintu masuk maraknya aliran dan paham sempalan yang tidak terkedali, serta kekebasan beragama yang tanpa koridor”, katanya.

Menkumham Patrialis Akbar, juga setuju dengan pendapat Menag bahwa bila UU Pencegahan Penodaan Agama dicabut, maka akan terjadi kekacauan di tengah masyarakat. Sehingga sikap Pemerintah adalah tegas menolak dicabutnya UU Penodaan Agama tersebut.

“Pemerintah Tolak Pencabutan UU Penodaan Agama”
http://bataviase.co.id/node/85317

“Pemerintah Keberatan Pencabutan UU Penodaan Agama”
http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/02/04/brk,20100204-223522,id.html

Dari pihak DPR, H. Chairuman Harahap, SH, MH menyatakan bahwa semangat dan jiwa UU tersebut masih relevansi. Karena itu permohonan dari kalangan LSM itu tidak dapat diterima.
“Kami menyatakan menolak (permohonan) seluruhnya atau tidak dapat diterima,” Chairuman seraya menambahkan, UU PNPS tidak bertentangan dengan UUD 1945.

Dari Pihak Terkait (MUI), secara lantang dan tegas menolak pencabutan UU Penodaan Agama tersebut. Tim kuasa hukum MUI, Lutfi Hakim, memaparkan, para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum karena tidak terdapat kerugian konstitusional dari pemohon yang bersifat spesifik atau potensial akan terjadi di masa mendatang.

Menurut dia, merupakan suatu argumentasi yang bertentangan dengan penalaran yang wajar bila setelah puluhan tahun berlalu YLBHI mengatakan bahwa hak konstitusional yayasan itu terlanggar oleh UU tersebut. Apalagi, berbagai LSM dan yayasan yang mengajukan uji materi tersebut, sama sekali tidak ada yang bergerak secara khusus di bidang keagamaan.

Kuasa Hukum pihak MUI
Dari Pihak Terkait (Ormas Muhammadiyah), diwakili oleh DR.Saleh Partaonan Daulay menyatakan sikap resmi Muhammadiyah, “Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya. Menyatakan UU NO.1 PNPS th.1965 tidak bertentangan dengan uud 1945”.

Dari Pihak Terkait PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) diwakili oleh Einer Sitompul menyatakan :
“PGI berpendapat agar PNPS 1965 itu dikritisi dalam soal fungsi dan isinya karena multitafsir dan cenderung multi tafsir dan dikhawatirkan akan terjadi intervensi negara yang terlalu jauh terhadap kehidupan beragama.”

Para kuasa hukum pihak Pemohon (Sepilis-JIL). Dari sekian banyak Pemohon (7) hanya 2 saja yang datang!
Maka, skor sidang konstitusi MK terhadap UU Penodaan Agama, No.1 PNPS Th.1965 pada tanggal 4 Februari 2010 lalu bisa disimpulkan:
– 2 Setuju dicabut/direvisi UU Penodaan Agama. (LSM Sepilis-Jil)
– 4 Menolak dicabut/direvisi UU Penodaan Agama. (Pemerintah, DPR, MUI, Muhammadiyah).

Sidang akan berlanjut pada tanggal 10 Februari 2010.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 9, 2010 in Mahkamah Konstitusi