RSS

RENUNGAN TENTANG UMUR MANUSIA

13 Feb

RENUNGAN TENTANG UMUR MANUSIA
oleh: Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad

Bahagian ini cukup teruja saya membacanya. Jadi ayuh kita baca dan renungkan bersama.

Tahap umur kedua ini memiliki masa permulaan yang agak menyerupai tahap umur alam Barzakh, iaitu semacam campuran antara beberapa sifat keakhiratan yang berkaitan dengan masa setelah kebangkitan dan beberapa sifat keduniaan yang dialami oleh manusia sebelum kematiannya. Masa permulaan di sini adalah masa dalam kandungan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan masa tersebut.

Disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: ” Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah. Kemudian Kami jadikan (sari tanah) itu air mani yang tersimpan dalam tempat yang bernama rahim. Lalu Kami jadikan air mani itu segumpal darah, lalu gumpalan darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan Kami jadikan gumpalan daging itu tulang belulang, lalu Kami lapisi tulang belulang itu dengan daging. Kemudian Kami bentuk ia jadi mahluk yang lain. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.” (QS: 23;12-14)

Demikian juga Rasullullah telah bersabda: “Sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam kandungan ibu berupa setitis air mani selama 40 hari, kemudian menjadi darah yang beku selama 40 hari pula, kemuidan menjadi segumpal daging selama itu juga. Kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya, meniupkan ruh baginya dan memerintahkan menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalannya dan kesudahannya, sebagai orang sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya seseorang dari kamu beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak dengan surga hanya sehasta, tapi ia didahului oleh suratan takdirnya dan iapun beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya seseorang dari kamu beramal dengan amalan ahli neraka hingga jarak diantaranya dengan neraka itu hanya sehasta, namun ia didahului oleh takdirnya dan iapaun beramal dengan amalan ahli surga, sehingga masuklah ia ke dalam surga.” (HR Abdullah bin Mas’ud r.a. dalam shahih Bukhari dan Muslim)

Ibnul Jauzi telah membahagikan umur kepada tahap kedua ini menjadi lima masa:

1. Masa kanak-kanak; dari sejak dilahirkan hingga mencapai umur 15 tahun
2. Masa muda; dari umur 15 tahun hingga umur 35 tahun
3. Masa dewasa; dari umur 35 tahun hingga umur 50 tahun
4. Masa tua; dari umur 50 tahun hingga umur 70 tahun
5. Masa usia lanjut; dari umur 70 tahun hingga akhir umur yang ditentukan oleh Allah SWT.

1. Masa Kanak-Kanak
Pada tahap masa kanak-kanak berlaku masa keringanan dari Allah SWT iaitu belum adanya taklif (beban kewajiban) atas anak-anak untuk mengerjakan solat dan puasa ataupun kewajiban syara’ (agama) lainnya. Hanya saja para orang tua diwajibkan menyuruh mereka mengerjakannya kerana kebaikan dan amal soleh dari anak yang belum baligh selain menjadi amal kebaikannya juga akan menjadi catatan pahala bagi ibu-bapanya selama kedua orang-tuanya memperhatikan pendidikan dan pemeliharaannya. Jika anak telah mencapai masa baligh dan telah sempurna akalnya yaitu kira-kira umur 15 tahun maka ia telah menjadi mukallaf. Saat itulah segala kewajiban agama telah berlaku atas dirinya. Kedua malaikat pengawas diperintahkan oleh Allah untuk mencatat segala aktiviti baik lahir maupun batinnya.

Sebagaimana firman Allah: “Dan sesungguhnya bagi kamu ada beberapa penjaga. Penulis-penulis yang mulia. Mereka mengetahui apa yang kamu lakukan.” (QS: 82; 10-12)

“Ketika dua malaikat pencatat membuat catatan, satu duduk di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri. Tiada yang diucapkan, satu perkataanpun, melainkan ada di dekatnya (malaikat) pengawas yang selalu hadir.” (QS. 50; 17-18)

Malaikat ini akan mendampingi dan hadir pada hari kiamat di hadapan pengadilan Allah SWT dan keduanya menjadi saksi baginya. “Dan datanglah setiap orang bersama (malaikat) pengiring dan (malaikat) penyaksi.” (QS. 50; 21)

2. Masa Muda
Pada tahap masa muda terjadi banyak perubahan baik secara fizikal maupun non-fizikal. Pada masa ini akan dipenuhi dengan semangat dan kekuatan serta memuncaknya kesuburan (vitality). Masa muda ini merupakan kesempatan untuk memperbanyak amalan-amalan serta kebaikan-kebaikan. Namun kecenderungan yang terjadi adalah sebagian besar memanfaatkannya untuk pemuasan nafsu keduniaan. Dalam hal ini Rasullullah saw telah mengingatkan: “Rebutlah lima perkara sebelum terjadi lima perkara: Masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sihatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa lapangmu sebelum tiba masa sibukmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum tiba masa ajalmu.” (HR. Al-Hakim, Baihaqi, Ibnu Abi’ddunia, Ibnul-Mubarrak) “Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara:

1. Tentang umurnya, untuk apa dihabiskan
2. Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan
3. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan
4. Tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya. ” (HR. Tirmidzi)

3. Masa Dewasa
Sedangkan apabila seseorang telah mencapai masa dewasa, Allah SWT memberikan karnia hikmah dan kebijaksanaan sehingga kelihatan padanya berbagai ketaatan dan menujukan hatinya kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT: ” Dan setelah menjadi dewasa dan cukup umurnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan. Demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang melakukan kebajikan. ” (QS. 28;14)

” … sehingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku jalan untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau karniakan kepadaku dan kedua ibu-bapaku, dan doronglah aku untuk berbuat amal soleh yang Engkau redhai …” (QS. 46;15)

as-Syaikh al-Arif Abdul Wahhab bin Ahmad as-Sya’rani dalam kitabnya al-Bahrul-Maurud menyebutkan: “Telah diambil janji-janji dari kita, bahwa apabila kita telah mencapai umur 40 tahun, hendaklah bersiap-siap dengan melipat kasur-kasur dan selalu ingat bahwa kita sekarang sedang dalam perjalanan menuju akhirat pada setiap nafas yang kita tarik sehingga tidak akan lagi merasa tenang hidup di dunia. Di samping itu hendaknya kita menghitung setiap detik dari umur kita sesudah melebihi 40 tahun, sebanding dengan 100 tahun sebelumnya.”

Imam Syafi’i (rahimahullah), setelah mencapai umur 40 tahun, berjalan dengan sebatang tongkat kayu. Ketika ditanya sebabnya, beliau berkata: “Supaya aku senantiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju akhirat.”

Berkata Wahab bin Munabbih: ” Aku baca dalam beberapa kitab, bahawasanya ada suatu suara menyeru dari langit ke-empat pada setiap pagi: ‘ Wahai orang-orang yang telah berusia 40 tahun! kamu adalah tanaman yang telah dekat dengan masa penuaiannya. Wahai orang-orang yang telah berusia 50 tahun! Sudahkah kamu ingat tentang apa yang telah kamu perbuat dan apa yang belum? Wahai orang-orang yang telah berusia 60 tahun! Tidak ada lagi dalih bagimu. Oh, alangkah baiknya seandainya semua mahluk tidak diciptakan! Atau jika mereka telah diciptakan, seharusnya mereka mengetahui, mengapa mereka diciptakan. Awas, saatmu telah tiba! Waspadalah! ”

4. Masa Tua
Setelah mencapai tahap umur dewasa maka manusia akan beralih kepada umur tua. Dalam tahapan ini akan nampak tanda-tanda kelemahan seseorang. Tahap umur ini oleh Rasullullah saw dinamakan ‘pergulatan dengan maut’, iaitu masa-masa umur 60’an hingga 70’an. Dalam hal ini beliau bersabda: “Masa penuaian umur umatku dari 60 hingga 70 tahun”. (HR. Muslim & Nasa-i)

Rasullullah saw., sahabat Abubakar, Umar dan Ali ra. juga diwafatkan oleh Allah SWT pada kisaran usia ini. Umat sekarang ini tergolong umat yang berumur pendek dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Diriwayatkan bahawa ketika sebahagian dari bani Adam meninggal dunia pada umur kurang lebih 200 tahun, maka banyaklah mahluk yang merasa simpati terhadapnya, kerana telah meninggal dalam usia yang muda. Diriwayatkan lagi bahwa Rasullullah saw. ketika merasakan umur umatnya terlalu pendek bila dibandingkan dengan umat sebelumnya, beliaupun memohon dan bertadharru’ kepada Allah SWT, mengadukan bahwa tidak cukup waktu bagi umatnya untuk memperbanyak ketaatan kepada Allah SWT dan menambah amalan untuk akhiratnya. Maka Allah SWT menganugerahkan kepadanya kepada umat Muhammad malam Lailatul Qadar yang lebih utama dari seribu bulan, untuk memanjangkan nilai umur mereka dan menambah pula pahala dan kebajikan mereka sedemikian rupa. Maka bila beribadah dan munajat kepada Allah SWT pada malam Lailatul Qadar itu, ia seperti beribadah selama seribu bulan yang setara dengan 83 tahun 4 bulan. Demikianlah perhatian Rasullullah saw. yang sangat besar dalam memperjuangkan nasib umatnya.

Telah diriwayatkan bahwa orang pertama yang beruban ialah Nabi Ibrahim a.s. Ketika beliau melihat rambut putih itu beliau bertanya: “Wahai Tuhanku, apa ini?”. Allah menjawab: ” Ini (tanda) kewibawaan.” Berkata Ibrahim: “Tuhanku, tambahkanlah itu bagiku!” Berkata Al-Khatib Ibnu Nutabah: “Sesungguhnya uban itu laksana perbatasan hidup yang tak dapat disekat, kerusakannya tidak dapat diperbaiki oleh zaman. Ia adalah cahaya yang muncul bersama dengan surutnya nafas seseorang, yang akan memimpin seseorang ke tempat longgokan tulang-belulang. Oleh kerana itu semuga Allah merahmatimu, jangan membakar cahaya ubanmu dengan api-api dosamu!”

Bersabda nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadist Qudsi: “Telah berfirman Allah SWT:’Demi kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku, dan keperluan sekalian mahluk-Ku kepada-Ku, sesungguhnya Aku merasa malu menyiksa hamba-Ku, baik lelaki maupun wanita yang telah beruban kerana mencapai umur tua di dalam Islam’. Kemudian Rasullullah saw. menangis . Lalu ditanyakan kepadanya:”Apa sebab engkau menangis, ya Rasullullah ?” Jawab beliau: “Aku menangisi orang tua yang Allah malu kepadanya, sedangkan dia tidak malu kepada Allah SWT.”

Sekali peristiwa, Ma’an bin Zaidah datang menghadap Khalifah al-Ma’mun, lalu Khalifah bertanya: “Bagaimana keadaanmu setelah menjadi tua seperti ini?” Jawabnya: “Aku mudah tersungkur hanya kerana tersandung sebuah kerikil, dan dapat diikat hanya dengan sehelai rambut.” Tanya Khalifah :”Bagaimana halnya dengan makan minum dan tidurmu?” Jawabnya:”Bila aku lapar, aku menjadi marah, bila aku makan aku bosan, bila dalam majlis aku mengantuk, bila di atas tempat tidur mataku terbuka!”. Tanya Khalifah selanjutnya:”Bagaimana halmu dengan wanita ?” Jawabnya: ‘Yang tua dan buruk aku tidak ingin kepadanya, yang cantik molek tidak suka kepadaku!” Kata Khalifah selanjutnya:” Orang sebijak engkau ini tidak patut menjadi tua” (dari kitab Rabi’ul-Abraar)

Berkata Imam Ghazali dalam uraiannya untuk mengingatkan pada orang-orang yang sudah tua: “Jika anda katakan bahawa mati itu tidak akan terjadi kecuali disebabkan kerana sakit dan jarang sekali ia datang dengan tiba-tiba, ketahuilah benar-benar bahawasannya mati itu adakalanya terjadi dengan tiba-tiba. Dan apabila anda sakit, maka anda tidak akan mampu lagi mengerjakan amal-amal soleh sedangkan itu bekal untuk akhirat kelak”.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu dilalaikan oleh harta dan anak-anakmu dari mengingat Allah. maka barang siapa melakukan yang demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah rezeki yang kami berikan kepadamu sebelum maut datang menjumpai seseorang dari kamu; Lalu berkata:’Tuhanku Kalau dapat Engkau tangguhkan matiku sebentar saja, niscaya aku akan memberi sedekah dan aku akan menjadi orang-orang yang mengerjakan kebaikan.’ Allah tidak akan memberi tangguh kepada seseorang apabila telah sampai ajalnya, dan Allah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan.” (QS 63:9-11)

Rasullullah saw. pernah ditanya: “Adakah orang lain yang akan dibangkitkan bersama para syuhada?” Jawab beliau: “Ya, mereka itulah yang mengingat mati sebanyak 20 kali dalam sehari semalam.” Di lain peristiwa beliau menjawab: “Merekalah yang banyak mengingat mati dan selalu bersiap-siap menyambutnya. Merekalah orang-orang bijak, yang meninggalkan dunia dengan penuh kehormatan dan tiba di akhirat dengan penuh kemuliaaan.”” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Abi’ddunia)

Dalam sebuah hadis dijelaskan: “Anggaplah dirimu di dunia ini sebagai seorang asing atau musafir lalu, dan anggaplah dirimu sebagai seorang diantara penghuni kubur”. (HR Bukhari)

Rasullullah saw bersabda: “Apalah erti dunia bagiku. Hubunganku dengan dunia ini laksana seorang pengembara yang sedang berjalan di panas terik, tiba-tiba kelihatan olehnya sebatang pohon, lalu iapun berteduh sejenak dibawahnya, sesaat kemudian ia pergi lagi dan meninggalkannya.” (HR Tirmidzi)

Sehubungan dengan uraian Al-Ghazali mengenai kematian seseorang yang disebabkan oleh sakit, Rasullullah saw mengajurkan supaya orang yang sedang sakit banyak beristighfar mengingat Allah sebab ia tidak tahu barangkali ia akan mati kerana sakit tersebut. Sekali waktu Rasullullah saw menjenguk seorang yang sedang sakit dan beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana perasaanmu?” Jawabnya:”Aku meletakkan sepenuh harapan kepada Tuhanku dan aku selalu cemas tentang dosa-dosaku”. Maka berkatalah beliau:”Selama kedua sifat ini terkumpul dalam hati seorang muslim, sedang ia dalam keadaan kritis, maka Allah akan mengabulkan semua yang diharapkan dan meyelamatkan dari semua yang ditakutinya.” (HR Tirmidzi)

Dalam hadis lain disebutkan: “Seseorang hamba muslim, ketika menghadapi maut akan digembirakan dengan rahmat Allah dan kurniaNya, sehingga ia ingin sekali bertemu dengan Allah SWT dan Allah SWT pun ingin bertemu dengannya. Sebaliknya seorang munafik ketika menghadapi maut akan dipertakuti dengan azab Allah SWT., maka ia tak ingin bertemu dengan Allah SWT dan Allah SWT pun tak ingin bertemu dengannya. Maka kaum mukminin yang penuh dengan takwa akan digembirakan oleh rahmat Allah SWT ketika hendak keluar dari dunia ini sehingga ruh-ruh mereka hampir-hampir akan terbang dari jasad mereka karena sangat rindu akan Tuhannya dan ingin sekali untuk segera menemui-Nya disaat para malaikat memberi salam kepada mereka menggembirakan mereka dengan surga dan jaminan bahwa mereka tidak akan ketakutan dan tidak akan pula bersedih hati sebagaimana dalam firman Allah: “Orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan baik (kepada mereka dikatakan): ‘Selamatlah kamu! Masuklah ke dalam surga disebabkan amal baik yang telah kamu kerjakan'” (QS 16:32) (HR Bukhari & Muslim)

Beberapa do’a yang dianjurkan oleh Rasullullah saw dibaca pada saat sakit diantaranya adalah: “Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dholimiin” ‘Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini tergolong orang-orang yang aniaya’. Dalam satu riwayat disebutkan bila membaca do’a ini sebanyak 40 kali lalu ia meninggal kerana penyakitnya itu maka ia sama dengan mati syahid.

Dari Anas ra. berkata bahwa Rasullullah saw. bersabda mengenai perjalanan manusia dari bayi hingga mencapai umur baligh: “Segala kebajikan yang dikerjakannya akan dicatat pahalanya untuk kedua orang tuanya. Jika ia melakukan kesalahan tidaklah dicatat baginya suatu dosa dan tidak pula bagi kedua orang tuanya. Apabila ia telah baligh dan qalam mulai mencatat perbuatannya, maka Allah SWT akan memerintahkan kedua malaikat yang bersamanya untuk memelihara serta membenarkan langkahnya. Apabila ia mencapai umur 40 tahun sebagai seorang muslim, maka Allah akan memeliharanya dari tiga penyakit yaitu gila, lepra, dan sopak (belang). Apabila ia mencapai umur 50 tahun, Allah akan meringankan hisabnya. Apabila ia mencapai usia 60 tahun, Allah memudahkan baginya untuk kembali kepada-Nya dalam hal-hal yang disukai-Nya. Apabila ia mencapai umur 70 tahun, niscaya ia akan dicintai seluruh penghuni langit. Apabila ia mencapai usia 80 tahun Allah akan mencatatkan segala kebajikan baginya dan mengampuni segala kejahatannya. Apabila ia mencapai umur 90 tahun Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu dan dosanya yang akan datang dan mengizinkannya memberi syafaat pada semua ahli rumahnya dan ia selalu dibawah pengawasan Allah SWT. Apabila ia mencapai usia yang tua renta (pikun), sehingga tidak mengetahui lagi apa yang dahulu pernah ia ketahui, maka Allah SWT akan mencatatkan segala kebajikan yang pernah dilakukan pada masa sehatnya dulu dan bila ia berbuat suatu dosa maka tidaklah akan dicatatkan lagi baginya sesuatupun.”

Sekali peristiwa seorang jenazah melewati dii hadapan Rasullullah beliau berkata: “Bebas atau membebaskan!” beliau ditanya:”Wahai Rasulullah Apa maksud bebas atau membebaskan?” Beliau menjawab:”Seorang mukmin yang meninggal dunia akan bebas dari gangguan dunia dan penderitaannya, menuju kepada rahmat Allah. Sedangkan kematian seorang fajir (durhaka) akan membebaskan seluruh hamba Allah, negara, pepohonan dan binatang dari gangguannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Berkata Rasulullah saw. kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin sedang kubur adalah tempat aman baginya dan surga adalah tempat tujuannya.” Wahai Abu Dzar sesungguhnya dunia ini adalah surga bagi orang kafir, sedang kubur adalah tempat siksaannya dan neraka adalah tempat tujuannya.”

Berkata Ibnu Abbas ra.: “Sekiranya anda lihat seseorang sedang menghadapi maut maka gembirakanlah agar ia menemui Tuhannya dengan mnyimpan sangkaan baik terhadap-Nya. Tetapi selama hidup pertakutilah ia dengan hukuman Allah.”

Imam Ali ra. berkata: “Apabila seorang mukmin meninggal dunia, tempat sholatnya di bumi akan menangisinya dan tempat naik amalannya ke langit pun akan menangisinya pula”

Bersabda Rasulullah saw: “Siapa saja yang matinya di penghujung Ramadhan maka ia masuk surga. Siapa saja yang matinya di penghujung hari Arafah, maka ia masuk surga. Dan siapa yang matinya tepat saat ia selesai bersedekah, maka ia masuk surga.” “Barang siapa meninggal dunia pada malam Jum’at atau hari Jum’at, maka ia akan terlindung dari siksa kubur, dan di hari kiamat ia akan datang dengan tanda-tanda para syuhada padanya.”

..insyaallah nanti akan dimutakan umur tahap ke-3….

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 13, 2010 in Tausiyah

 

One response to “RENUNGAN TENTANG UMUR MANUSIA

  1. Evi sultriana

    April 4, 2012 at 12:59 pm

    Jazakillaah

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: