RSS

Arsip Bulanan: April 2010

PASKAH, Pondasi Keimanan Kristen Budaya Pagan?

Setiap tahun umat Kristen merayakan Paskah. Hampir semua gereja di muka bumi ini menggelar berbagai macam acara menyambut Hari Raya Paskah ini, mulai dari lomba-lomba, pentas seni, membagi telur paskah, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai ucapan syukur atas peristiwa luar biasa dahsyat yang terjadi 2000 tahun yang lalu. Apa peristiwa ‘luar biasa dahsyat’ tersebut? Inilah yang akan kita kupas dalam tulisan ini.

Paus Leo Agung (440-461) menekankan pentingnya Paskah dan menyebutnya festum festorum – perayaan dari semua perayaan, dan berkata bahwa Natal hanya dirayakan untuk mempersiapkan perayaan Paskah.

Bagaimana awal mula perayaan ini dan urgensinya bagi umat Kristen, akan dibahas secara singkat dalam tulisan ini.

Umat Kristen menyebut Paskah sebagai Easter. Sedangkan umat Yahudi juga memperingati Paskah yang mereka sebut Pesach. Walaupun keduanya berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan, namun Paskah umat Kristen dan Yahudi berbeda.

Pesach/Passover

Pesach / Paskah (Ibrani) adalah perayaan Yahudi yang diadakan pada tanggal 14 bulan Nisan (bulan Yahudi) sebagai peringatan keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir dibawah nabi Musa as atau yang dikenal dengan Exodus. Malam sebelumnya, Tuhan menyuruh mereka mempersembahkan korban anak domba dan makan roti tidak beragi dimana darah anak-domba itu digunakan untuk memberi tanda pada rumah-rumah orang Yahudi untuk membedakannya dengan rumah-rumah orang Mesir (Kel. 12:1-28).

Easter

Sedangkan Paskah (Easter) adalah perayaan umat Kristen untuk memperingati kebangkitan Yesus. Tanggalnya berubah-ubah tapi pasti jatuh di hari minggu, sehingga disebut Minggu Paskah. Istilah Easter berakar dari bahasa Inggris Kuno Ēastre atau Ēostre. Nama ini mengacu pada nama Dewi Ēostre/ Astarte dari budaya Anglo-Saxon di Jerman. Festivalnya disebut Ostara, yakni untuk menghormati Astarte (dewi kesuburan) yang berlangsung di awal musim semi. Simbol kelinci dipakai sebagai lambang kesuburan karena kelinci adalah binatang yang mudah beranak-pinak. Dan telur sebagai simbol awal kehidupan.

Easter, sebuah festival untuk menghormati Astarte, dewi kesuburan, yang dilambangkan kelinci dan telur sebagai simbol-simbol kesuburan umum dalam budaya pagan. (Encyclopedia Britannica, 1982 Edition, vol. 4, halaman 501.)

Yesus seperti yang telah dibahas dibeberapa tulisan yang lalu, adalah berasal dari bani Israel yang beragama Yahudi. Ia mengikuti agama nabi Musa as juga seluruh tradisi agama Yahudi termasuk Pesach. Hal ini terbukti dengan peristiwa Perjamuan Malam yang dilakukannya sesuai ritual Yahudi dengan menggunakan roti tak beragi (Luk. 22:7-38). Perjamuan Malam ini kemudian hari oleh umat Kristen disebut sebagai Perjamuan Kudus.

Sinkretisme

Lalu bagaimana budaya Pagan “Easter” berubah menjadi hari Kebangkitan Yesus sebagai Tuhan? Disinilah letak titik kritis dari pondasi keimanan Kristen. Dari semula Yesus telah melarang murid-muridnya untuk menyebarkan risalah yang dibawanya kepada orang-orang diluar bani Israel. Agama Yahudi adalah khusus untuk bani Israel dan Yesus memerintahkan muridnya mencari duabelas suku yang hilang dari bani Israel bukan untuk menyebarkan pada bangsa selain Israel.

Namun ini dilanggar. Paulus yang bukan murid Yesus tapi justru pemburu/pembunuh pengikut Yesus, mengaku sebagai murid dan ikut-ikutan menyebarkan risalah Yesus. Apa yang disampaikan oleh Paulus pada pengikutnya tentulah berbeda dengan apa yang diajaran Yesus. Yesus melarang minum khmr tapi Paulus justru membolehkan. Yesus mewajibkan khitan, justru Paulus melarang. Yesus mengajarkan monotheisme Paulus mengajarkan dualisme (Tuhan Ayah dan Tuhan Anak). Dan Paulus inilah yang pertamakali menyebarkan ajaran Yesus keluar dari bani Israel. Ia menyebarkannya kepada bangsa Romawi.

Imperium Romawi sangat kuat akan budaya paganis. Agama mereka adalah menyembah Dewa Matahari, Sol Invictus. Ketika agama baru Kristen yang disebarluaskan oleh Paulus lambat laun memasuki wilayah tersebut maka terjadilah perbenturan-perbenturan budaya yang hampir membelah Roma. Sehingga atas dasar kepentingan politik demi keutuhan imperium Roma maka diselenggarakanlah Konsili Nicea 325M. Pertentangan Yesus manusia atau Tuhan  dalam Konsili ini akhirnya memutuskan bahwa Yesus adalah Tuhan Anak. Inilah solusi yang dilakukan Konstantin penguasa tertinggi Romawi untuk menyelamatkan imperiumnya. Ia membuat agama Hybrid, mencampurkan polyteisme yang berasal dari agama pagan dan monoteisme yang berasal dari agama Yahudi dalam suatu konsep baru yang disebut Trinitas. Tiga dalam satu, satu dalam tiga.

Lalu bagaimana membuat ‘benang merah’ antara Yesus yang dikenal luas sebagai manusia dan Yesus sebagai tuhan. Maka dalam konsili yang di pimpin oleh Kaisar Konstantin tersebut menetapkan hari Paskah (Easter) sebagai hari kebangkitan Yesus. Yesus dikatakan mati setelah disalib lalu dikuburkan dan setelah tiga hari kemudian bangun/bangit dari kematian untuk naik ke langit dan duduk di kanan tuhan Bapa. Manusia biasa tidak mungkin melakukan hal tersebut, sehingga masuk akal lah Yesus adalah tuhan. Hari Paskah harus dirayakan tepat pada hari minggu walaupun tanggalnya selalu berubah-ubah.

Umat Kristen telah mengubah konsep ritual Pesakh yang sebenarnya mengenang keluarnya bani Israel dari perbudakan di Mesir menjadi penebusan dosa. Jika dalam agama Yahudi yang dikorban adalah seekor domba. Maka dalam keyakinan baru ini, Yesus lah pengganti domba.

Ekaristi yang diambil dari peristiwa Jamuan Malam adalah jamuan kudus yang menyimbolkan roti sebagai tubuh Yesus dan anggur sebagai darah. Kembali lagi ini masih berkaitan dengan tradisi Pagan, dengan kisah Cult Dionysious, dewa anggur yunani yang mati dan jadi immortal. Bahkan sesajian manusia dan pengorbanan darah untuk menebus dosa dan menyenangkan tuhan/dewa adalah juga tradisi Pagan.

Paulus mengatakan demikian,

“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” (1 Kor. 5:7).

Istilah-istilah sehubungan dengan Paskah (Easter) antara lain:

– Masa Pra Paskah, yakni 40 hari sebelum Minggu Paskah.

– Pekan Suci, yakni sepekan sebelum Minggu Paskah.

Minggu Palem, yakni hari Minggu pertama dalam Pekan Suci. Hari ini memperingati masuknya Yesus ke kota Yerusalem menaiki seekor keledai.

– Kamis Suci, memperingati Perjamuan Malam terakhir Yesus

Jumat Agung, memperingati kematian Yesus

– Sabtu Suci atau Sabtu Sunyi, memperingati hari pada saat Yesus di dalam kuburan.

Tiga hari terakhir ini (Kamis, Jumat dan Sabtu) sebelum Minggu Paskah disebut sebagai Trihari Suci atau Triduum Paskah.

– Pekan Paskah adalah tujuh hari setelah Minggu Paskah. Yang masing-masing diberi akhiran Paskah, seperti “Senin Paskah”, “Selasa Paskah”, hingga “Oktaf Paskah”, yaitu hari Minggu setelah Minggu Paskah.

– Masa Paskah adalah 40 hari (yang kemudian diperpanjang menjadi 50 hari) yang diakhiri dengan hari Pentakosta (hari ke-50).

Sebagian gereja Kristen menolak perayaan Natal Dan Paskah, contoh adalah Gereja Yesus Sejati (true jesus church). Mereka juga tidak mempercayai dengan konsep trinity seperti halnya Kristen Saksi Jehova.

Inilah peristiwa yang diawal tulisan saya sebut sebagai “luar biasa dahsyat”. Penyimpangan ajaran monoteisme dan polyteisme yang di mix sedemikian rupa sehingga membuahkan sebuah ajaran hybrid dengan konsep tiga tapi satu, satu tapi tiga. Serta pengesahan seorang manusia menjadi Tuhan. Maka seperti yang diucapkan Paus Leo Agung (440-461), demikian pentingnya peringatan Paskah bagi umat Kristen sebagai dasar/pondasi iman Kristen. Paskah lebih penting ketimbang Natal. Jika Natal bermasalah pada tanggal kelahiran. Sedangkan Paskah berbicara tentang penebusan dosa dan kebangkitan. Tanpa kematian Yesus maka tidak ada penebusan dosa,  tanpa kebangkitan maka Yesus bukan Tuhan.

( Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat
Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Kajian, Uncategorized

 

Tag:

Aturan Selibat Gereja Timbulkan Penyakit Sosial

PERTANYAAN :

Kasus pelecehan seksual seperti ini sebenarnya sudah lama atau masih baru?

Mengapa itu bisa terjadi? Apakah itu memang dibolehkan oleh doktrin gereja?

Apakah itu juga terjadi di Indonesia?

Mengapa korbannya tidak ada yang mengadu/mengaku?

Apakah para pastor tidak takut dosa?

Apakah ini membuktikan bahwa doktrin gereja bertentangan dengan fitrah manusia?

JAWABAN  Hj.Irena Handono :


Kasus Pelecehan Seksual sudah terjadi sejak lama

Kepada semua media pihak Vatikan membuat opini bahwa Kasus Pelecehan Seksual ini adalah kasus yang baru pertama kali terjadi namun sebenarnya hal ini  sudah terjadi sejak lama. Jika kita baca tentang sejarah para Paus, maka kita akan dapati banyak sekali kasus-kasus seputar ini. Paus Damasus I (366-384 M) ia telah menikah dan memiliki anak-anak namun mereka semuanya tidak diakuinya lagi setelah dia diangkat menjadi Paus. Paus Damasus diadili atas kejahatan zina pada synode yang dihadiri 44 Uskup dan bahkan oleh gereja telah diputuskan untuk mendapatkan hukuman mati. Paus Sixtus III (432-440M) diadili karena menggoda seorang biarawati. Paus Leo I (440-661M) bahkan secara cerdik memanfaatkan kerusakan seksual untuk mempeluas kekuatan politis gereja. Abad ke-10 sinonim dengan penyelewengan dan korupsi yang tak tahu malu. Periode ini dikenal dengan sebutan ‘Kekuasaan Porno Kepausan’ (the Papal Pornocracy), sebab kepausan dipegang oleh sepasang pelacur (dunia Kristen menyebut demikian), Theodora dan Marozia yang merupakan gundik para Paus. Marozia menjadi gundik pertama kali saat berusia 6 tahun (kasus Phedofilia yang pertama dalam gereja).


Hukum selibat bukan doktrin dalam agama kristen

Bibel sama sekali tidak mengajarkan selibasi. Murid-murid Yesus semuanya menikah dan bahkan Yesus sendiripun menikah, mempunyai beberapa istri dan beberapa anak. Namun karena pelanggaran Paulus, Kristen disebarkan keluar dari dari wilayah Israel dan memasuki jantung ibukota Roma. Disana terjadi perbenturan dengan budaya setempat dimana saat itu moral masyarakat Roma demikian jatuh terpuruknya. Seksualitas dalam segala rupa menjadi ajang berkumpulnya kebobrokan moral masyarakat dalam segala lapisan. Fenomena ini tidak bisa diatasi oleh para rahib Kristen malah mereka menjauhi seksualitas dan menghukuminya sebagai kegiatan yang kotor, menjijikkan dan melanggar dosa.

Hukum Selibat dalam kekristenan sebenarnya bukanlah doktrin dalam agama Kristen namun lebih tepat disebut sebagai aturan gereja. Karena pada kenyataannya tidak semua gereja melakukan hal ini. Kristen Protestan tidak mengenal hukum selibat namun gereja-gereja Katholik baik di Barat maupun Timur, mengenalnya. Makanya kasus pelecehan seksual terhadap anak hanya kita dengar dari pihak Katolik saja dan tidak pada Kristen Protestan.

Dasar hukum mengenai pelarangan untuk menikah bagi para pastor dan kewajiban mereka yang telah menikah untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan istri-istri mereka adalah dekrit Konsili Elvira pada abad ke-4 dan kemudian Konsili Kartago.

Konsili Elvira (sekitar tahun 305). (Kanon 33): Diputuskan bahwa semua pernikahan dilarang bagi para uskup, imam dan diakon, atau bagi semua rohaniwan yang memegang jabatan gerejawi, dan bahwa mereka tidak berhubungan badan dengan istri-istri mereka dan tidak menghasilkan anak; siapa saja yang melanggar hal ini akan dicabut jabatan kehormatan kleriknya.

Konsili Kartago (tahun 390). (Kanon 3): Adalah pantas bahwa para uskup dan imam Tuhan yang suci termasuk juga kaum Levi, yakni mereka yang memberikan pelayanan pada sakramen ilahi, mentaati penahanan nafsu yang sempurna, supaya mereka bisa meraih semua kesederhanaan yang mereka minta dari Tuhan; apa yang diajarkan oleh Para Rasul dan apa yang telah lama ditaati, biarlah kita juga berusaha keras untuk menjaganya. Sungguh menggembirakan kita semua bahwa uskup, imam dan diakon – para penjaga kesucian – menahan diri dari hubungan badan dengan istri-istri mereka, supaya mereka yang melayani di Altar bisa menjada sebuah kesucian yang sempurna.

Satu lagi aturan gereja tentang Selibat adalah Directa Decretal dan Cum in unum merupakan dekrit dari Paus Sirisius (sekitar tahun 385) yang menegaskan tentang hukum selibat yang harus diikuti oleh para pelayan gereja. Kemudian pada tahun 1022 Paus Benediktus VII melarang pernikahan dan gundik bagi rohaniwan. Dan di tahun 1139 Paus Innocent II membatalkan seluruh pernikahan rohaniwan, dan pastor baru harus menceraikan istri-istri mereka.

Dasar lain yang diambil adalah ajaran-ajaran Santo Paulus dari Tarsus yang menyatakan bahwa selibat merupakan tahapan kehidupan yang tinggi, dan keinginannya ini dinyatakan dalam 1 Korintus 7:7-8, 7:32-35:

Tentunya hukum-hukum buatan manusia yang tidak mengikuti fitrah manusia sangat potensial menimbulkan penyimpangan.


Skandal yang sangat terutup

Apakah juga terjadi di Indonesia? Saya belum mendapatkan data konkret tentang hal ini. Ini disebabkan demikian tertutupnya mereka dan memang ada aturan yang mengharuskan untuk menutup aib ini. Dokumen ini adalah CRIMEN SOLLICITATIONIS, sebuah dokumen rahasia yang berisi tentang prosedur untuk mengatasi skandal kejahatan seksual pada anak dalam gereja Katholik.

Itulah yang saya sebutkan diatas, karena memang ada aturan gereja yang melarang untuk mengungkapkannya. Karena jika dilakukan maka akan menodai kesucian gereja. Dalam dokumen tersebut, memaksakan sumpah kepada anak-anak yang menjadi korban untuk tetap merahasiakan kejahatan seksual yang dialaminya, pastor yang diduga serta bukt-bukti apapun.


Apakah Dosa?

Tentang dosa, dalam Bibel tidak ada penjelasan rinci mana yang dosa mana yang tidak. Seperti dalam Al-Quran, kita mempunyai batasan mana mahram mana yang tidak, mana perbuatan yang tergolong berzina, bahkan dalam bergaul antara suami-istri pun dalam Islam disebutkan adab-adab nya. Sedangkan Kristen tidak mempunyai hal ini semua. Jadi bagi mereka batasan mana dosa mana yang tidak itu juga akan dirumuskan berikutnya dalam keputusan gereja setelah suatu kasus terjadi.


Menentang fitrah manusia

Benar, aturan gereja mengenai Selibat ini tidak sesuai fitrah manusia, sangat menyimpangi hukum Allah SWT. Sehingga mustahil untuk diterapkan. Ketika diterapkan justru menimbulkan masalah baru yang lain. Itulah beda hukum manusia dan hukum Allah. Ketika hukum manusia diterapkan maka justru menimbulkan bencana sedangkan jika hukum Allah yang diterapkan akan membawa kemaslahatan yang luas dan mendatangkan Rahmat bagi seluruh alam. Bahkan Uskup Agung Wina Christoph Schonborn berpendapat bahwa selibasi menjadi salah satu penyebab skandal seks yang menghantam gereja Katolik.

(ditulis oleh : Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat
Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Kajian, Uncategorized

 

Tag:

Hermeneutik Menyelamatkan Bibel Merusak Al-Quran

Seorang Yahudi Jerman Paul Schmidt menulis sebuah buku dengan judul “Islam, The Power of Tomorrow” yang terbit pada 1936. Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa kehebatan Islam ada tiga, yakni “their faith”, “their wealth” dan “their vertility”.

Their Faith, ia menjelaskan bahwa keimanan umat Islam tergantung dari pada bukunya (Al-Quran). Their Wealth, ia mengatakan bahwa bumi yang didiami oleh muslim sangatlah kaya, baik diatasnya maupun dibawahnya. Dan ia menghimbau agar tidak membiarkan muslim mengolah sendiri kekayaan alamnya. Their Fertility, kesuburan umat Islam. Paul Schmidt mengatakan, “Hai Barat, suatu saat nanti dimanapun kalian menginjakkan kaki, kalian akan bertemu orang Islam.” Maka kemudian dibuatlah program kontrol kelahiran (Birth Control/Family Planning).

Hermeneutika

Dan salah satu cara menjauhkan muslim dari Al-Quran adalah dengan penggunaan teori Hermeneutik. Apakah Hermeneutik? Hermeneutik sebetulnya tidak diperlukan untuk mempelajari Al-Quran. Hermeneutika adalah ilmu tafsir. Ada beberapa metode tafsir dalam Kristen,

1. Exegese : mengungkap kebenaran berdasarkan bahasa asli, sehingga kebenaran akan muncul dengan sendirinya.

2. Eisegese : merohanikan yang sudah rohani. Ide manusia yang didukung dengan ayat.

3. Alegoris : merohanikan benda sebagai simbol yang memiliki arti.

Hermeneutika  ini sebenarnya dibutuhkan untuk gereja bukan untuk Islam. Semua Rohaniawan kristen membutuhkan ilmu ini agar jelas, tidak salah dalam menyampaikan pesan Bibel. Dengan exegese ingin dicapai suatu kesimpulan bahwa yang benar adalah Bibel. Jadi ilmu ini khusus untuk Rohaniawan dan bukan jemaat umum.

Seseorang yang mempelajari metode exegese terhadap Bibel, orang tersebut tanpa sadar dibangun keyakinannya menjadi semakin kuat terhadap Bibel bahwa Bibel itulah yang benar. Sampai pada akhirnya mereka akan meyakini bahwa tidak ada lagi pewahyuan. Selesai sudah pada Bibel.

Dengan exegese itu ingin ditampilkan bahwa Bibel itu kitab suci yang tidak bercacat dan itu adalah kebenaran yang mutlak. Ini yang dimaksudkan gereja bahwa semua yang dilakukan gereja harus bersumber pada Bibel. Karena Bibel adalah standar yang absolut, kebenaran absolut maka semua harus tunduk pada Bibel. Sehingga ketika orang mempelajari exegese akan mempunyai pemikiran bahwa kitab selain Bibel adalah tidak benar. Termasuk Al-Quran pun tidak benar. Karena jika ada Al-Quran maka berarti ada penambahan sedangkan ending pewahyuan adalah Bibel. Maka setelah Bibel pewahyuan ditutup dan tidak ada lagi penambahan, sehingga kebenaran Al-Quran berdasarkan ilmu tafsir exegese, tertolak. Menurut umat Kristen berdasarkan tafsir ini, setelah Yesus naik ke surga, Kitab Wahyu pasal 22 itu tidak boleh ditambahi lagi. Tak ada nabi baru maupun kitab baru.

Jadi exegese ingin menunjukkan ke inerensia-an Bibel yang artinya bahwa Bibel itu tidak bercacat dan kebenarannya sempurna. Dengan belajar Hermeneutik seseorang digiring untuk mengakui bahwa alkitab dalah sebuah kitab suci yang kebearannya mutlak.

Terkadang di agama diluar kristen melakukan sebuah proses ’penuduhan’. Bibel dikatakan mengisahkan tentang kisah pelecehan seksual, tentang teror. Nah dengan hermeneutika sebenarnya gereja ingin membuktikan bahwa hal tersebut tidak pernah ada dalam Bibel. Karena dari tafsir itu akan belajar siapa penulisnya, latar belakang penulisnya, kondisi sosial budaya pada waktu itu, ditujukan kepada siapa.

Menyelamatkan ayat-ayat Bibel

Sebagai contoh, ada dua buah surat yang satu ditulis pada tahun 1969 dan yang satunya ditulis pada tahun 1972. Secara eksplisit keduanya kalimatnya sama. Surat yang pertama ditulis, “Untuk yang terhormat Tante Girang”. Surat yang kedua ditulis dengan redaksi yang sama, “Untuk yang terhormat Tante Girang”. Ketika kita meminta pendapat pada orang, apakah makna kalimatnya sama?, maka pada umumnya orang akan berpikir negatif karena ditujukan kepada Tante Girang. Tapi ketika dipelajari dengan metode tafsir hermenuetik, akan dilihat sejarah perkembangan istilahnya, latar belakang penulisan. Ternyata surat itu ditulis pada tahun 1969 yang berbeda dengan tahun 1972. Pada tahun 1969 ketika itu istilah Tante Girang tidak bermakna negatif, tapi justru positif yang menggambarkan seorang Ibu yang bahagia yang walaupun tidak dikaruniai anak bertahun-tahun tetapi tetap bahagia dan bersyukur.

Namun selepas tahun 1972, makna istilah Tante Girang mengarah pada seorang perempuan yang tidak pernah puas dalam hal hubungan biologis. Nah ketika dalam Bibel ditemukan kalimat yang porno atau sadis, maka orang akan bilang “Oh itu pelecehan”. Tapi ketika dicek dengan metode hermeneutik ternyata maknanya tidak seperti itu. Maka dengan hermeneutik orang akan digiring untuk meyakini bahwa Bibel itu tidak bercacat.

Mementahkan Semua Hukum dalam Al-Quran

Kaum SEPILIS-JIL berkali-kali mempermasalahkan kalimat “Penafsiran Menyimpang” di sidang Mahkamah Konstitusi Penodaan Agama sebagai alasan agar Mahkamah Konstitusi mencabut UU no.1 PNPS th.1965. Menurut kaum SEPILIS-JIL negara tidak bisa membatasi sebuah ‘penafsiran’ atas sebuah nilai-nilai agama apalagi menentukan menyimpang atau tidak. Sementara informasi diluar yang beredar mengatakan bahwa ada proyek dari kalangan JIL untuk membuat tafsir baru atas Al-Quran dengan metode Hermeneutika.

Jika ilmu tafsir ini digunakan pada Al-Quran maka bukan mengokohkan ayat-ayat Al-Quran tapi justru malah akan membuat semua syariat-syariat yang terkandung dalam Al-Quran sebagai aturan-aturan yang tidak mengikat atau dengan kata lain, akan mementahkan Al-Quran sebagai hukum yang mengikat manusia. Maka sesungguhnya inilah niatan dari mereka untuk menjauhkan muslim dari Al-Quran seperti yang disampaikan Paul Schmidt diatas.

(Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat
Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Kajian

 

Tag: