RSS

Aturan Selibat Gereja Timbulkan Penyakit Sosial

30 Apr

PERTANYAAN :

Kasus pelecehan seksual seperti ini sebenarnya sudah lama atau masih baru?

Mengapa itu bisa terjadi? Apakah itu memang dibolehkan oleh doktrin gereja?

Apakah itu juga terjadi di Indonesia?

Mengapa korbannya tidak ada yang mengadu/mengaku?

Apakah para pastor tidak takut dosa?

Apakah ini membuktikan bahwa doktrin gereja bertentangan dengan fitrah manusia?

JAWABAN  Hj.Irena Handono :


Kasus Pelecehan Seksual sudah terjadi sejak lama

Kepada semua media pihak Vatikan membuat opini bahwa Kasus Pelecehan Seksual ini adalah kasus yang baru pertama kali terjadi namun sebenarnya hal ini  sudah terjadi sejak lama. Jika kita baca tentang sejarah para Paus, maka kita akan dapati banyak sekali kasus-kasus seputar ini. Paus Damasus I (366-384 M) ia telah menikah dan memiliki anak-anak namun mereka semuanya tidak diakuinya lagi setelah dia diangkat menjadi Paus. Paus Damasus diadili atas kejahatan zina pada synode yang dihadiri 44 Uskup dan bahkan oleh gereja telah diputuskan untuk mendapatkan hukuman mati. Paus Sixtus III (432-440M) diadili karena menggoda seorang biarawati. Paus Leo I (440-661M) bahkan secara cerdik memanfaatkan kerusakan seksual untuk mempeluas kekuatan politis gereja. Abad ke-10 sinonim dengan penyelewengan dan korupsi yang tak tahu malu. Periode ini dikenal dengan sebutan ‘Kekuasaan Porno Kepausan’ (the Papal Pornocracy), sebab kepausan dipegang oleh sepasang pelacur (dunia Kristen menyebut demikian), Theodora dan Marozia yang merupakan gundik para Paus. Marozia menjadi gundik pertama kali saat berusia 6 tahun (kasus Phedofilia yang pertama dalam gereja).


Hukum selibat bukan doktrin dalam agama kristen

Bibel sama sekali tidak mengajarkan selibasi. Murid-murid Yesus semuanya menikah dan bahkan Yesus sendiripun menikah, mempunyai beberapa istri dan beberapa anak. Namun karena pelanggaran Paulus, Kristen disebarkan keluar dari dari wilayah Israel dan memasuki jantung ibukota Roma. Disana terjadi perbenturan dengan budaya setempat dimana saat itu moral masyarakat Roma demikian jatuh terpuruknya. Seksualitas dalam segala rupa menjadi ajang berkumpulnya kebobrokan moral masyarakat dalam segala lapisan. Fenomena ini tidak bisa diatasi oleh para rahib Kristen malah mereka menjauhi seksualitas dan menghukuminya sebagai kegiatan yang kotor, menjijikkan dan melanggar dosa.

Hukum Selibat dalam kekristenan sebenarnya bukanlah doktrin dalam agama Kristen namun lebih tepat disebut sebagai aturan gereja. Karena pada kenyataannya tidak semua gereja melakukan hal ini. Kristen Protestan tidak mengenal hukum selibat namun gereja-gereja Katholik baik di Barat maupun Timur, mengenalnya. Makanya kasus pelecehan seksual terhadap anak hanya kita dengar dari pihak Katolik saja dan tidak pada Kristen Protestan.

Dasar hukum mengenai pelarangan untuk menikah bagi para pastor dan kewajiban mereka yang telah menikah untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan istri-istri mereka adalah dekrit Konsili Elvira pada abad ke-4 dan kemudian Konsili Kartago.

Konsili Elvira (sekitar tahun 305). (Kanon 33): Diputuskan bahwa semua pernikahan dilarang bagi para uskup, imam dan diakon, atau bagi semua rohaniwan yang memegang jabatan gerejawi, dan bahwa mereka tidak berhubungan badan dengan istri-istri mereka dan tidak menghasilkan anak; siapa saja yang melanggar hal ini akan dicabut jabatan kehormatan kleriknya.

Konsili Kartago (tahun 390). (Kanon 3): Adalah pantas bahwa para uskup dan imam Tuhan yang suci termasuk juga kaum Levi, yakni mereka yang memberikan pelayanan pada sakramen ilahi, mentaati penahanan nafsu yang sempurna, supaya mereka bisa meraih semua kesederhanaan yang mereka minta dari Tuhan; apa yang diajarkan oleh Para Rasul dan apa yang telah lama ditaati, biarlah kita juga berusaha keras untuk menjaganya. Sungguh menggembirakan kita semua bahwa uskup, imam dan diakon – para penjaga kesucian – menahan diri dari hubungan badan dengan istri-istri mereka, supaya mereka yang melayani di Altar bisa menjada sebuah kesucian yang sempurna.

Satu lagi aturan gereja tentang Selibat adalah Directa Decretal dan Cum in unum merupakan dekrit dari Paus Sirisius (sekitar tahun 385) yang menegaskan tentang hukum selibat yang harus diikuti oleh para pelayan gereja. Kemudian pada tahun 1022 Paus Benediktus VII melarang pernikahan dan gundik bagi rohaniwan. Dan di tahun 1139 Paus Innocent II membatalkan seluruh pernikahan rohaniwan, dan pastor baru harus menceraikan istri-istri mereka.

Dasar lain yang diambil adalah ajaran-ajaran Santo Paulus dari Tarsus yang menyatakan bahwa selibat merupakan tahapan kehidupan yang tinggi, dan keinginannya ini dinyatakan dalam 1 Korintus 7:7-8, 7:32-35:

Tentunya hukum-hukum buatan manusia yang tidak mengikuti fitrah manusia sangat potensial menimbulkan penyimpangan.


Skandal yang sangat terutup

Apakah juga terjadi di Indonesia? Saya belum mendapatkan data konkret tentang hal ini. Ini disebabkan demikian tertutupnya mereka dan memang ada aturan yang mengharuskan untuk menutup aib ini. Dokumen ini adalah CRIMEN SOLLICITATIONIS, sebuah dokumen rahasia yang berisi tentang prosedur untuk mengatasi skandal kejahatan seksual pada anak dalam gereja Katholik.

Itulah yang saya sebutkan diatas, karena memang ada aturan gereja yang melarang untuk mengungkapkannya. Karena jika dilakukan maka akan menodai kesucian gereja. Dalam dokumen tersebut, memaksakan sumpah kepada anak-anak yang menjadi korban untuk tetap merahasiakan kejahatan seksual yang dialaminya, pastor yang diduga serta bukt-bukti apapun.


Apakah Dosa?

Tentang dosa, dalam Bibel tidak ada penjelasan rinci mana yang dosa mana yang tidak. Seperti dalam Al-Quran, kita mempunyai batasan mana mahram mana yang tidak, mana perbuatan yang tergolong berzina, bahkan dalam bergaul antara suami-istri pun dalam Islam disebutkan adab-adab nya. Sedangkan Kristen tidak mempunyai hal ini semua. Jadi bagi mereka batasan mana dosa mana yang tidak itu juga akan dirumuskan berikutnya dalam keputusan gereja setelah suatu kasus terjadi.


Menentang fitrah manusia

Benar, aturan gereja mengenai Selibat ini tidak sesuai fitrah manusia, sangat menyimpangi hukum Allah SWT. Sehingga mustahil untuk diterapkan. Ketika diterapkan justru menimbulkan masalah baru yang lain. Itulah beda hukum manusia dan hukum Allah. Ketika hukum manusia diterapkan maka justru menimbulkan bencana sedangkan jika hukum Allah yang diterapkan akan membawa kemaslahatan yang luas dan mendatangkan Rahmat bagi seluruh alam. Bahkan Uskup Agung Wina Christoph Schonborn berpendapat bahwa selibasi menjadi salah satu penyebab skandal seks yang menghantam gereja Katolik.

(ditulis oleh : Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat
Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Kajian, Uncategorized

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: