RSS

Hermeneutik Menyelamatkan Bibel Merusak Al-Quran

30 Apr

Seorang Yahudi Jerman Paul Schmidt menulis sebuah buku dengan judul “Islam, The Power of Tomorrow” yang terbit pada 1936. Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa kehebatan Islam ada tiga, yakni “their faith”, “their wealth” dan “their vertility”.

Their Faith, ia menjelaskan bahwa keimanan umat Islam tergantung dari pada bukunya (Al-Quran). Their Wealth, ia mengatakan bahwa bumi yang didiami oleh muslim sangatlah kaya, baik diatasnya maupun dibawahnya. Dan ia menghimbau agar tidak membiarkan muslim mengolah sendiri kekayaan alamnya. Their Fertility, kesuburan umat Islam. Paul Schmidt mengatakan, “Hai Barat, suatu saat nanti dimanapun kalian menginjakkan kaki, kalian akan bertemu orang Islam.” Maka kemudian dibuatlah program kontrol kelahiran (Birth Control/Family Planning).

Hermeneutika

Dan salah satu cara menjauhkan muslim dari Al-Quran adalah dengan penggunaan teori Hermeneutik. Apakah Hermeneutik? Hermeneutik sebetulnya tidak diperlukan untuk mempelajari Al-Quran. Hermeneutika adalah ilmu tafsir. Ada beberapa metode tafsir dalam Kristen,

1. Exegese : mengungkap kebenaran berdasarkan bahasa asli, sehingga kebenaran akan muncul dengan sendirinya.

2. Eisegese : merohanikan yang sudah rohani. Ide manusia yang didukung dengan ayat.

3. Alegoris : merohanikan benda sebagai simbol yang memiliki arti.

Hermeneutika  ini sebenarnya dibutuhkan untuk gereja bukan untuk Islam. Semua Rohaniawan kristen membutuhkan ilmu ini agar jelas, tidak salah dalam menyampaikan pesan Bibel. Dengan exegese ingin dicapai suatu kesimpulan bahwa yang benar adalah Bibel. Jadi ilmu ini khusus untuk Rohaniawan dan bukan jemaat umum.

Seseorang yang mempelajari metode exegese terhadap Bibel, orang tersebut tanpa sadar dibangun keyakinannya menjadi semakin kuat terhadap Bibel bahwa Bibel itulah yang benar. Sampai pada akhirnya mereka akan meyakini bahwa tidak ada lagi pewahyuan. Selesai sudah pada Bibel.

Dengan exegese itu ingin ditampilkan bahwa Bibel itu kitab suci yang tidak bercacat dan itu adalah kebenaran yang mutlak. Ini yang dimaksudkan gereja bahwa semua yang dilakukan gereja harus bersumber pada Bibel. Karena Bibel adalah standar yang absolut, kebenaran absolut maka semua harus tunduk pada Bibel. Sehingga ketika orang mempelajari exegese akan mempunyai pemikiran bahwa kitab selain Bibel adalah tidak benar. Termasuk Al-Quran pun tidak benar. Karena jika ada Al-Quran maka berarti ada penambahan sedangkan ending pewahyuan adalah Bibel. Maka setelah Bibel pewahyuan ditutup dan tidak ada lagi penambahan, sehingga kebenaran Al-Quran berdasarkan ilmu tafsir exegese, tertolak. Menurut umat Kristen berdasarkan tafsir ini, setelah Yesus naik ke surga, Kitab Wahyu pasal 22 itu tidak boleh ditambahi lagi. Tak ada nabi baru maupun kitab baru.

Jadi exegese ingin menunjukkan ke inerensia-an Bibel yang artinya bahwa Bibel itu tidak bercacat dan kebenarannya sempurna. Dengan belajar Hermeneutik seseorang digiring untuk mengakui bahwa alkitab dalah sebuah kitab suci yang kebearannya mutlak.

Terkadang di agama diluar kristen melakukan sebuah proses ’penuduhan’. Bibel dikatakan mengisahkan tentang kisah pelecehan seksual, tentang teror. Nah dengan hermeneutika sebenarnya gereja ingin membuktikan bahwa hal tersebut tidak pernah ada dalam Bibel. Karena dari tafsir itu akan belajar siapa penulisnya, latar belakang penulisnya, kondisi sosial budaya pada waktu itu, ditujukan kepada siapa.

Menyelamatkan ayat-ayat Bibel

Sebagai contoh, ada dua buah surat yang satu ditulis pada tahun 1969 dan yang satunya ditulis pada tahun 1972. Secara eksplisit keduanya kalimatnya sama. Surat yang pertama ditulis, “Untuk yang terhormat Tante Girang”. Surat yang kedua ditulis dengan redaksi yang sama, “Untuk yang terhormat Tante Girang”. Ketika kita meminta pendapat pada orang, apakah makna kalimatnya sama?, maka pada umumnya orang akan berpikir negatif karena ditujukan kepada Tante Girang. Tapi ketika dipelajari dengan metode tafsir hermenuetik, akan dilihat sejarah perkembangan istilahnya, latar belakang penulisan. Ternyata surat itu ditulis pada tahun 1969 yang berbeda dengan tahun 1972. Pada tahun 1969 ketika itu istilah Tante Girang tidak bermakna negatif, tapi justru positif yang menggambarkan seorang Ibu yang bahagia yang walaupun tidak dikaruniai anak bertahun-tahun tetapi tetap bahagia dan bersyukur.

Namun selepas tahun 1972, makna istilah Tante Girang mengarah pada seorang perempuan yang tidak pernah puas dalam hal hubungan biologis. Nah ketika dalam Bibel ditemukan kalimat yang porno atau sadis, maka orang akan bilang “Oh itu pelecehan”. Tapi ketika dicek dengan metode hermeneutik ternyata maknanya tidak seperti itu. Maka dengan hermeneutik orang akan digiring untuk meyakini bahwa Bibel itu tidak bercacat.

Mementahkan Semua Hukum dalam Al-Quran

Kaum SEPILIS-JIL berkali-kali mempermasalahkan kalimat “Penafsiran Menyimpang” di sidang Mahkamah Konstitusi Penodaan Agama sebagai alasan agar Mahkamah Konstitusi mencabut UU no.1 PNPS th.1965. Menurut kaum SEPILIS-JIL negara tidak bisa membatasi sebuah ‘penafsiran’ atas sebuah nilai-nilai agama apalagi menentukan menyimpang atau tidak. Sementara informasi diluar yang beredar mengatakan bahwa ada proyek dari kalangan JIL untuk membuat tafsir baru atas Al-Quran dengan metode Hermeneutika.

Jika ilmu tafsir ini digunakan pada Al-Quran maka bukan mengokohkan ayat-ayat Al-Quran tapi justru malah akan membuat semua syariat-syariat yang terkandung dalam Al-Quran sebagai aturan-aturan yang tidak mengikat atau dengan kata lain, akan mementahkan Al-Quran sebagai hukum yang mengikat manusia. Maka sesungguhnya inilah niatan dari mereka untuk menjauhkan muslim dari Al-Quran seperti yang disampaikan Paul Schmidt diatas.

(Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat
Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Kajian

 

Tag:

3 responses to “Hermeneutik Menyelamatkan Bibel Merusak Al-Quran

  1. abdughafurkey

    April 30, 2010 at 10:24 am

    demikian konspirasi yang telah di formulakan begitu lama yang telah menggerogoti generasi muslim tentunya kita jangan diam kita harus lawan dengan segenap kemampuan kita baik itu berupa pikiran,tulisan,inilah jihad untuk melawan mereka JIL dan antek-anteknya,kita sangat bersyukur ketika tuntutan mereka tidak di amini oleh MK jangan lengah karena mereka punya seribu satu macam cara untuk melemahkan islam.

     
  2. ian

    Maret 12, 2011 at 2:57 am

    buat saya islam itu akal….
    tapi jangn di akalin!

     
  3. hehe

    November 19, 2011 at 3:33 pm

    menarik..🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: