RSS

Arsip Bulanan: Maret 2013

Penciptaan Adam as Menurut Bibel

Image

Seringkali dalam tulisan-tulisan kita menjumpai pendapat yang mengatakan, bahwa di dunia ini terdapat tiga agama langit yang disebut sebagai agama samawi, yang bersumber dari nabi Ibrahim as (Abrahamic Faith), yaitu Yahudi dengan kitab Taurat, Kristen dengan kitab Injil (Bibel) dan Islam dengan kitabnya Al-Quran. Selanjutnya pendapat tersebut menggiring pada pemikiran bahwa semua agama adalah sama.

Ide penyamaan kebenaran agama-agama, khususnya antara Islam, Nasrani dan Yahudi sebenarnya telah lama diemban dan didakwahkan oleh Nurcholish Madjid. Pendekatan millah Ibrahim inilah yang menyimpulkan bahwa Islam, Nasrani, dan Yahudi adalah sama-sama pewaris agama Ibrahim, dan para pemeluknya adalah orang-orang beriman.

Tentu pendapat ini adalah pendapat yang salah.

Sejumlah nama nabi dan kehidupannya di bahas dalam Bibel Perjanjian Lama, dan nama-nama nabi tersebut juga ada dalam Al-Quran. Namun apakah boleh dengan demikian mengatakan bahwa sesungguhnya ‘semua agama adalah sama benarnya’? Justru dengan adanya pembahasan nama-nama nabi dan kehidupannya dalam Al-Quran yang mana nama-nama nabi tersebut juga ada dalam Bibel, membuktikan bahwa Al-Quran adalah pengkoreksi dari kitab-kitab sebelumnya.

Dengan kata lain, kitab-kitab sebelumnya sudah cacat, tidak lagi bisa dijadikan sumber kebenaran. Sedangkan ukuran kebenaran sebuah agama adalah kitabnya, maka jika kitabnya sudah cacat/tidak benar, maka agamanya pun tidak bisa dianggap benar. Itulah kemudian mengapa Allah SWT mengutus Rasulullah saw.

Sebagaimana Allah SWT menegaskan dalam Al-Quran surah Ali Imran : 19, Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Kali ini saya akan membahas tentang perbedaan Islam dan Kristen terutama untuk membantah pendapat ‘penyamaan kebenaran agama-agama’ dengan merinci para nabi yang ada dalam Al-Qur’an dan Bibel.

Nabi Adam as

Agama Islam dan Kristen mengakui bahwa manusia yang diciptakan pertama kali adalah Adam.

Menurut keyakinan Kristen, dalam Kitab Kejadian 1: 26-27,

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Dari ayat Bibel diatas, tidak dijelaskan bagaimana proses Tuhan Allah menciptakan Adam dan tidak menjelaskan dari bahan apa Adam diciptakan. Hanya disebutkan ia diciptakan seperti “rupa atau gambaran Kita”.

Disini nampak sekali bahwa ada keterbatasan akal pendeta-pendeta Kristen kala itu untuk menggambarkan Dzat Tuhannya sehingga terjebak pada personifikasi dengan menyamakan Sang Pencipta Yang Maha Agung dengan mahluk ciptaanNya. Manusia mengetahui bahwa mahluk yang paling sempurna adalah manusia, maka Tuhan Yang Maha Sempurna juga bentuknya tidak jauh dari wujud manusia.

Demikian penjelasan Bibel tentang nabi Adam as, yang tentunya Al-Quran membahasnya lebih detail. Baik mulai dari penciptaan maupun misi yang harus diemban nabi Adam as sebagai manusia di bumi.

Bagaimana dengan Penciptaan Hawa? InsyaAllah Penciptaan Hawa menurut Bibel akan kami jelaskan di edisi berikutnya.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2013 in Uncategorized

 

Doktrin ‘100% tuhan 100% manusia’ Darimana Asalnya?

Dalam ilmu Kristologi tidak ada penjelasan yang paten, tidak ada jawaban yang pasti dan tiap orang Kristen selalu berbeda tentang bagaimana Yesus menjadi Tuhan.

 Novel Da Vinci Code yang membongkar sejarah Yesus dan mensejajarkannya dengan manusia (bukan tuhan) yang juga makan, minum, mempunyai istri dan mempunyai keturunan, mengundang kemarahan besar pihak Vatikan. Di Indonesia, demi menjaga keutuhan iman Kristen, kemudian muncullah berbagai judul buku yang menentang, membantah bahkan ada yang cenderung ‘lebay’ seperti judul “Da Peci Code”.

Dan akhirnya kehebohan informasi sejarah yang dimuat dalam Novel Da Vinci Code pun tenggelam. Namun demikian, dalam sebuah wawancara NatGeo terhadap seorang Pendeta P.Mc.Brien tentang Novel Da Vinci Code, ia menjawab,

“Ya,Yesus memang menikah. Dan pernikahan bukan hal yang dosa.”

NatGeo bertanya, “Apakah hal itu tidak membahayakan eksistensi ketuhanannya?”.

Dan pendeta tersebut menjawab, “No, absolutely not! Yesus is truly God, truly human!” (Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia)

Inilah yang mau kita bahas dalam tulisan kali ini. “100% Tuhan sekaligus 100% manusia.” Bagaimana mungkin? Dari segala sisi analisa rasional dogma ini sangat sulit dicerna. Tapi yang patut diketahui adalah, dari mana datangnya dogma ini? Apakah dari Yesus sendiri? Pernahkan Yesus sendiri mengatakan dalam Bibel, bahwa dirinya adalah 100% Tuhan, 100% Manusia?? Tidak pernah! Justru sebaliknya dalam Bibel banyak sekali ayat-ayat yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan, seorang manusia.

Lalu kapan dogma Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan? Seperti yang sudah pernah saya bahas di edisi-edisi sebelumnya, sepeninggal Yesus, orang-orang Kristen masih beranggapan bahwa Yesus adalah manusia. Keyakinan ini adalah keyakinan umat mayoritas. Namun ada juga sekte ‘menyimpang’ yang dipimpin oleh Paulus yang menuhankan Yesus dan menganggap Paulus sebagai Rasul. Sekte menyimpang ini sangat kecil awalnya, namun karena tidak ditangani dengan baik, sekte ini mampu mendekat pada poros kekuasaan yang mana saat itu para penguasa-penguasa Romawi masih mengikuti Paganisme.

Akhirnya kelompok ‘menyimpang’ yang minoritas ini mampu mendominasi Konsili yang diadakan di Nicea tahun 325M. Justru kelompok mayoritas yang di pimpin Arius dikalahkan, sebagian diusir keluar dari konsili. Arius mendapatkan hukuman dari Kaisar, dan pahamnya yang benar tersebut malah dianggap sebagai paham sesat yang dianggap membahayakan keutuhan imperium Romawi.

Ternyata tidak semudah itu menjadikan Yesus yang seorang manusia menjadi tuhan dalam satu masa konsili. Pertentangan-pertentangan terus terjadi hingga menimbulkan huru-hara di berbagai daerah. Akhirnya diselenggarakan Konsili Konstantinopel yang Pertama tahun 381M dan Konsili Efesus pada tahun 431M. Konsili Efesus menjawab kebingungan, jika Yesus adalah tuhan maka ibunya, Maria, sebagai apa? Dan konsili menetapkan doktrin bahwa Bunda Maria sebagai Bunda Allah (theotokos).

Konsili Chalcedon tahun 451M. Di konsili inilah ditetapkan Doktrin yang mengatakan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia. Sedangkan gereja-gereja timur yang berpusat di Alexandria masih mengikuti paham Arianisme bahwa Yesus adalah manusia dan bukan tuhan. Kaisar Romawi mengucilkan gereja-gereja timur dan memberi kekuasaan besar terhadap gereja Bizantium. Demikian bunyi ketetapan di Konsili di Chalcedon, Oktober 451 M yang disponsori oleh Kaisar Romawi saat itu, Marcion.

”Following the holy fathers we confess with one voice that the one and only Son, our Lord Jesus Christ, is perfect in Godhead and perfect in mahood, tryly God and tryly man…”
(Sesuai dengan ajaran para pemimpin gereja, kami bersaksi dengan suara bulat bahwa satu-satunya Anak, Tuan kita Yesus Kristus, adalah Tuhan sempurna (100%) dan manusia yang sempurna (100%), Tuhan yang sesungguhnya dan manusia yang sesungguhnya).

Prof. John Hick dalam bukunya The Myth of God Incarnate mengatakan :
”What the orthodoxy developed as the two natures of Jesus, divine and human coinhering in one historical Jesus Christ remains a form of words without assignable meaning… for to say without explanation that the historical Jesus of Nazareth was also God is a devoid of meaning..That Jesus was God the Son incarnate is not literally true since it has no literal meaning but it is an application to Jesus of a mythical concept whose function is analogous to that of the nation of divine son ship ascribed in ancient word to a king”

(Apa yang diciptakan oleh golongan Kristen Orthodoks tentang ke dwi sifat-an (dua kodrat) Yesus sebagai Khalik dan makhluk dalam diri Yesus hanyalah merupakan kata-kata tanpa arti. Karena dengan mengatakan tanpa penjelasan bahwa manusia Yesus adalah juga Tuhan, adalah suatu yang tidak memiliki makna. Bahwa Yesus adalah inkarnasi Tuhan secara harfiah tiak benar, karena secara harfiah tidak ada artinya dan hanya dapat diterapkan kepada Yesus dalam mitos yang fungsinya mirip seperti pandangan tentang raja sebagai anak dewa dalam legenda).

Huston smith, pakar perbandingan agama dalam bukunya The World’s Religion hal. 340 mengomentari ke-dwisifat-an Yesus :
”to be fully devine mean one has to be free human limitation. If he has only one human limitation then he is not God. But according to the creed, he has every human limitation. How then can he be God?”

(Untuk sepenuhnya ilahi, berarti dia harus bebas dari segala keterbatasan manusia. Kalau dia memiliki satu kelemahan manusia, berarti dia bukan Tuhan. Tetapi berdasarkan kredo, dia (yesus) memiliki segala keterbatasan sebagai seorang manusia. Oleh sebab itu mana mungkin dia Tuhan?)

Randolph Ross dalam bukunya Common sense Christianity dengan tegas menyatakan:
”Not because it is difficult to understand, but because it can not be meaningfully be said..not only impossible according to our understanding of the laws of nature..but impossible according to the rule of logic upon which all our reasoning is based”

(bukan hanya karena sulit dimengerti, tetapi karena tidak ada maknanya..tidak hanya mustahil berdasarkan hukum alam tetapi juga mustahil berdasarkan akal sehat dimana logika berfikir kita didasarkan.

Namun walaupun ajaran yang tidak masuk akal ini mendapat tantangan dari ilmuwan dan pakar Alkitab, Gereja tetap mempertahankannya mati-matian karena umat Kristiani sudah terlanjur menerima bahwa dua kodrat Yesus merupakan syarat untuk menjadikannya sebagai Juru Selamat sesuai agama pagan Yunani.

Apakah upaya yang dilakukan Gereja untuk menjadikan anak Allah sebagai Tuhan? Dengan mengatakan bahwa Anak Allah (Tuhan) adalah Logosnya filsafat Yunani. Siapa yang mengatakan bahwa Logos (Firman) adalah anak Allah (Tuhan)? Yang mengatakan demikian adalah Philo dari Alexandria. Dia mendifinisikan Logos sebagai ”Protogenes huios theou”

Gelar anak Tuhan ini kemudian digunakan oleh Paulus untuk Yesus. Selanjutnya penyalin Injil yang umumnya adalah pengikut Paulus juga ikut-ikutan menyebut Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan) dengan menambahkannya ke dalam ayat-ayat Injil.

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, anak Allah“ (Markus 1:1)
”Jawabnya : “Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah” (Kis. 8:37).

Kata “Anak Allah” dari kedua ayat tersebut di atas tidak ada dalam teks Injil Markus maupun Kisah Para Rasul yang diperkirakan ditulis pada tahun 325 M. Kata “Anak Allah” dalam kedua kitab diatas, baru diselipkan di akhir abad ke IV atau awal abad ke V.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2013 in Uncategorized

 

Hermeneutik Menyelamatkan Bibel Merusak Al-Quran

Image
 
Seorang Yahudi Jerman Paul Schmidt menulis sebuah buku dengan judul “Islam, The Power of Tomorrow” yang terbit pada 1936. Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa kehebatan Islam ada tiga, yakni “their faith”, “their wealth” dan “their vertility”.

 Their Faith, ia menjelaskan bahwa keimanan umat Islam tergantung dari pada bukunya (Al-Quran). Their Wealth, ia mengatakan bahwa bumi yang didiami oleh muslim sangatlah kaya, baik diatasnya maupun dibawahnya. Dan ia menghimbau agar tidak membiarkan muslim mengolah sendiri kekayaan alamnya. Their Fertility, kesuburan umat Islam. Paul Schmidt mengatakan, “Hai Barat, suatu saat nanti dimanapun kalian menginjakkan kaki, kalian akan bertemu orang Islam.” Maka kemudian dibuatlah program kontrol kelahiran (Birth Control/Family Planning).

 

Hermeneutika

 Dan salah satu cara menjauhkan muslim dari Al-Quran adalah dengan penggunaan teori Hermeneutik. Apakah Hermeneutik? Hermeneutik sebetulnya tidak diperlukan untuk mempelajari Al-Quran. Hermeneutika adalah ilmu tafsir. Ada beberapa metode tafsir dalam Kristen,

1. Exegese : mengungkap kebenaran berdasarkan bahasa asli, sehingga kebenaran akan muncul dengan sendirinya.

2. Eisegese : merohanikan yang sudah rohani. Ide manusia yang didukung dengan ayat.

3. Alegoris : merohanikan benda sebagai simbol yang memiliki arti.

 Hermeneutika  ini sebenarnya dibutuhkan untuk gereja bukan untuk Islam. Semua Rohaniawan kristen membutuhkan ilmu ini agar jelas, tidak salah dalam menyampaikan pesan Bibel. Dengan exegese ingin dicapai suatu kesimpulan bahwa yang benar adalah Bibel. Jadi ilmu ini khusus untuk Rohaniawan dan bukan jemaat umum.

 Seseorang yang mempelajari metode exegese terhadap Bibel, orang tersebut tanpa sadar dibangun keyakinannya menjadi semakin kuat terhadap Bibel bahwa Bibel itulah yang benar. Sampai pada akhirnya mereka akan meyakini bahwa tidak ada lagi pewahyuan. Selesai sudah pada Bibel.

 Dengan exegese itu ingin ditampilkan bahwa Bibel itu kitab suci yang tidak bercacat dan itu adalah kebenaran yang mutlak. Ini yang dimaksudkan gereja bahwa semua yang dilakukan gereja harus bersumber pada Bibel. Karena Bibel adalah standar yang absolut, kebenaran absolut maka semua harus tunduk pada Bibel. Sehingga ketika orang mempelajari exegese akan mempunyai pemikiran bahwa kitab selain Bibel adalah tidak benar. Termasuk Al-Quran pun tidak benar. Karena jika ada Al-Quran maka berarti ada penambahan sedangkan ending pewahyuan adalah Bibel. Maka setelah Bibel pewahyuan ditutup dan tidak ada lagi penambahan, sehingga kebenaran Al-Quran berdasarkan ilmu tafsir exegese, tertolak. Menurut umat Kristen berdasarkan tafsir ini, setelah Yesus naik ke surga, Kitab Wahyu pasal 22 itu tidak boleh ditambahi lagi. Tak ada nabi baru maupun kitab baru.

 Jadi exegese ingin menunjukkan ke inerensia-an Bibel yang artinya bahwa Bibel itu tidak bercacat dan kebenarannya sempurna. Dengan belajar Hermeneutik seseorang digiring untuk mengakui bahwa alkitab dalah sebuah kitab suci yang kebearannya mutlak.

 Terkadang di agama diluar kristen melakukan sebuah proses ’penuduhan’. Bibel dikatakan mengisahkan tentang kisah pelecehan seksual, tentang teror. Nah dengan hermeneutika sebenarnya gereja ingin membuktikan bahwa hal tersebut tidak pernah ada dalam Bibel. Karena dari tafsir itu akan belajar siapa penulisnya, latar belakang penulisnya, kondisi sosial budaya pada waktu itu, ditujukan kepada siapa.

 

Menyelamatkan ayat-ayat Bibel

 Sebagai contoh, ada dua buah surat yang satu ditulis pada tahun 1969 dan yang satunya ditulis pada tahun 1972. Secara eksplisit keduanya kalimatnya sama. Surat yang pertama ditulis, “Untuk yang terhormat Tante Girang”. Surat yang kedua ditulis dengan redaksi yang sama, “Untuk yang terhormat Tante Girang”. Ketika kita meminta pendapat pada orang, apakah makna kalimatnya sama?, maka pada umumnya orang akan berpikir negatif karena ditujukan kepada Tante Girang. Tapi ketika dipelajari dengan metode tafsir hermenuetik, akan dilihat sejarah perkembangan istilahnya, latar belakang penulisan. Ternyata surat itu ditulis pada tahun 1969 yang berbeda dengan tahun 1972. Pada tahun 1969 ketika itu istilah Tante Girang tidak bermakna negatif, tapi justru positif yang menggambarkan seorang Ibu yang bahagia yang walaupun tidak dikaruniai anak bertahun-tahun tetapi tetap bahagia dan bersyukur.

 Namun selepas tahun 1972, makna istilah Tante Girang mengarah pada seorang perempuan yang tidak pernah puas dalam hal hubungan biologis. Nah ketika dalam Bibel ditemukan kalimat yang porno atau sadis, maka orang akan bilang “Oh itu pelecehan”. Tapi ketika dicek dengan metode hermeneutik ternyata maknanya tidak seperti itu. Maka dengan hermeneutik orang akan digiring untuk meyakini bahwa Bibel itu tidak bercacat.

 

Mementahkan Semua Hukum dalam Al-Quran

 Kaum SEPILIS-JIL berkali-kali mempermasalahkan kalimat “Penafsiran Menyimpang” di sidang Mahkamah Konstitusi Penodaan Agama sebagai alasan agar Mahkamah Konstitusi mencabut UU no.1 PNPS th.1965. Menurut kaum SEPILIS-JIL negara tidak bisa membatasi sebuah ‘penafsiran’ atas sebuah nilai-nilai agama apalagi menentukan menyimpang atau tidak. Sementara informasi diluar yang beredar mengatakan bahwa ada proyek dari kalangan JIL untuk membuat tafsir baru atas Al-Quran dengan metode Hermeneutika.

 

Jika ilmu tafsir ini digunakan pada Al-Quran maka bukan mengokohkan ayat-ayat Al-Quran tapi justru malah akan membuat semua syariat-syariat yang terkandung dalam Al-Quran sebagai aturan-aturan yang tidak mengikat atau dengan kata lain, akan mementahkan Al-Quran sebagai hukum yang mengikat manusia. Maka sesungguhnya inilah niatan dari mereka untuk menjauhkan muslim dari Al-Quran seperti yang disampaikan Paul Schmidt diatas.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 10, 2013 in Uncategorized

 

DIMANA DASAR DOKTRIN TRINITAS?

tritunggal

Di tulisan edisi sebelumnya saya sudah membahas tentang Paskah sebagai pondasi bagi ketuhanan Yesus. Dimana perayaan Paskah lebih penting ketimbang Natal. Jika Natal adalah tentang tanggal kelahiran Yesus. Sedangkan Paskah berbicara tentang penebusan dosa dan kebangkitan. Tanpa kematian Yesus, maka tidak ada penebusan dosa,  tanpa kebangkitan maka Yesus bukan Tuhan.

Agama Kristen dewasa ini (mengapa saya menggunakan kata ‘dewasa ini’, uraian dibawah akan menjelaskan) beranggapan bahwa Tuhan adalah tiga dalam satu atau satu dalam tiga. Ketiganya adalah Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus. Agama Kristen memegang kuat pendapat bahwa masing-masing dari ketiganya sebagai Tuhan dan ketiganya bersama-sama menjadi Tuhan. Doktrin ini yang disebut sebagai TRINITAS yang juga diyakini oleh sebagian mereka umat Kristen sebagai doktrin misterius bahkan tak berlebihan jika disebut misteri dari segala misteri.

Namun pihak Kristen akan membantah keraguan tentang TRINITAS dan membela mati-matian doktrin ini dengan alasan-alasan berikut :

–         Kalau Allah itu bukan tiga pribadi dalam satu hakikat (trinitas), mengapa ada tertulis di AlKitab: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam surga : Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.”

–         Kalau Yesus itu bukan Allah sejati, mengapa AlKitab mencatat bahwa dia berkuasa menghidupkan orang mati, mengampuni dosa manusia, dan membuat berbagai mujizat yang dahsyat?

–         Mengapa AlKitab mencatat berulang-ulang kali bahwa Yesus disembah? Bukankah hanya Allah saja yang patut disembah?

–         Kalau Yesus bukanlah Allah sejati, mengapa ia berkata: “Aku dan Bapa adalah satu?” Dan “Barang siapa yang telah melihat Aku, ia melihat Bapa”?

–         Kalau Yesus bukanlah Allah, mengapa Tomas sebagai murid Yesus berkata: “Ya Tuhan dan Allahku”?

–         Kalau Yesus bukanlah Allah, mengapa ada tertulis dalam AlKitab: “…segala sesuatu diciptakan oleh Dia….” dan “…..dunia dijadikan oleh-Nya”?

–         Kalau Yesus bukanlah Allah yang menjelma menjadi manusia, mengapa Yesaya menubuatkan tentang lahirnya “seorang anak yang namanya disebut orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”?

–         Mengapa Rasul Paulus berkata: “seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam dia”?

–         Kalau Yesus bukanlah Allah, mengapa ia bisa bangkit dari kematian?

Itulah bantahan-bantahan umat Kristen untuk mempertahankan doktrin Trinitasnya. Semua dalih tersebut bisa dipatahkan dengan mudah dengan menggunakan dalil dari Bibel itu sendiri (insyaAllah akan dimuat pada edisi berikutnya). Tapi sebelum itu semua, sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh para pendukung Trinitas: Apakah Doktrin Trinitas diajarkan dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

 

Dalam Perjanjian Lama

The Encyclopedia of Religion menuliskan : “para teolog dewasa ini setuju bahwa AlKitab Ibrani (Perjanjian Lama) tidak memuat doktrin tentang Tritunggal”.

New Catholic Encyclopedia mengakui: “Doktrin Tritunggal tidak diajarkan dalam Perjanjian Lama”.

Imam Jesuit Edmund Fortman dalam bukunya The Triune God juga mengakui: “Perjanjian Lama….tidak secara tegas ataupun samar-samar memberi tahu lkepada kita mengenai Allah Tiga Serangkai yang adalah Allah, Anak dan Roh Kudus…. Bahkan mencari di dalam “Perjanjian Lama” kesan-kesan atau gambaran di muka atau ‘tanda-tanda terselubung’ mengenai trinitas dari pribadi-pribadi, berarti melampaui kata-kata dan tujuan dari para penulis tulisan-tulisan suci”

 

Dalam Perjanjian Baru

The Encyclopedia of Religion mengatakan: “Para teolog setuju bahwa Perjanjian Baru juga tidak memuat doktrin yang jelas mengenai Tritunggal”.

Imam Jesuit Fortman menegaskan: “Para penulis Perjanjian Baru…tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara. ….. Dimanapun kita tidak menemukan doktrin tritunggal dari tiga subyek kehidupan dan kegiatan ilahi yang berbeda dalam keilahian yang sama”.

The New Encyclopedia Britannica mengatakan: “Kata Tritunggal atau doktrinnya yang jelas tidak terdapat dalam Perjanjian Baru”.

Bernhard Lohse dalam A Short History of Christian Doctrine menegaskan: Sejauh ini menyangkut Perjanjian Baru, seseorang tidak menemukan di dalamnya doktrin Tritunggal yang aktual”.

The New International Dictionary of New Testament Theology dan teolog Karl Barth mengatakan: “Perjanjian Baru tidak memuat doktrin Tritunggal yang diperkembangkan”. ‘AlKitab tidak memuat deklarasi yang terus terang bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dari zat yang sama’.

Profesor E.Washburn Hopkins dari Universitas Yale menekankan: “Bagi Yesus dan Paulus doktrin tritunggal jelas tidak dikenal; ….. mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai itu”. (Origin and Evolution of Religion)

Sejarawan Arthur Weigall menyatakan: “Yesus Kristus tidak pernah menyebutkan perwujudan demikian, dan dimanapun dalam Perjanjian Baru tidak terdapat kata ‘Tritunggal’. Gagasannya baru diterima oleh Gereja tiga ratus tahun setelah kematian Tuan kita”. (The Paganism in Our Christianity).

Perjanjian Lama tegas Monoteistik. Allah adalah pribadi tunggal (bukan Tritunggal)…. Tentang hal ini tidak ada pemisahan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ajaran Monoteistik terus berlanjut, dan Yesus lahir sebagai orang Yahudi. Ajarannya memiliki inti Yahudi (Allah tunggal); Benar dia mengajarkan sebuah injil baru tetapi bukan sebuah teologi baru. (L.L Paine, A Critical History of the Evolution of Trinitarianism, Boston 1902)

Jadi, dari ke-39 kitab Ibrani (Perjanjian Lama), maupun ke-27 kitab Yunani Kristen (Perjanjian Baru), seluruh pasal dan ayat-ayat AlKitab sama sekali tidak ada yang memuat ajaran yang jelas mengenai Doktrin Trinitas!

 

Apakah Doktrin Trinitas diajarkan oleh orang-orang Kristen Awal?

Komentar para sejarawan dan teolog:

“Kekristenan yang mula-mula tidak mempunyai doktrin Tritunggal seperti yang setelah itu dirinci dalam kredo-kredo”. The New International Dictionary od The New Testament Theology.

 “Namun orang-orang Kristen yang pertama pada awal mula tidak pernah mempunyai pikiran untuk menerapkan gagasan (Trinitas) kepada kepercayaan mereka sendiri. Mereka memberikan pengabdian mereka kepada Allah Bapa dan kepada Yesus Kristus, Anak Allah, dan mereka mengakui …. Roh Kudus; tetapi tidak ada buah pikiran bahwa ketiga pribadi ini adalah suatu Tritunggal, setara dan dipersatukan dalam satu.” Paganism in Our Christianity.

“Pada mulanya kepercayaan Kristen bukan kepada Allah Tiga Serangkai…. Halnya tidak demikian pada zaman rasul-rasul atau sebelumnya, seperti diperlihatkan dalam Perjanjian Baru dan tulisan-tulisan Kristen yang awal lainnya.” Encyclopedia of Religion and Ethics.

“Perumusan ‘satu Allah dalam tiga Pribadi’ tidak ditetapkan dengan tegas, dan pasti belum dilebur sepenuhnya ke dalam kehidupan Kristen dan pengakuan imannya, sebelum akhir abad ke-4. …. Di antara Bapa-Bapa Rasuli, tidak pernah bahkan sedikit pun ada yang mendekati sikap atau pandangan seperti itu.” New Catholic Encyclopedia.

“Kepercayaan tentang Allah yang terdiri dari beberapa pribadi (Tritunggal) keluar dari konsep Allah Yang Esa …”. Chief Rabbi J.H Herzt, Pentateuch and Haftorahs, London, 1960

 Demikian bantahan terhadap Doktrin TRINITAS yang berasal dari mereka sendiri. Dari pendapat-pendapat para sejarawan dan teolog tersebut secara umum kita dapat simpulkan, bahwa Doktrin Trinitas tidak berdasar pada Bibel sebagai kitab suci umat Kristen. Namun lebih berupa doktrin yang dibuat oleh Gereja yang diputuskan sebelum akhir abad ke-4, tepatnya yakni pada saat Konsili Nicea tahun 325M.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 10, 2013 in Uncategorized

 

Tag: