RSS

“Lahirnya Paham Feminisme”

14 Apr

wom

Sejarah Feminisme

Feminisme dalam kamus Oxford didefinisikan sebagai advocacy of women’s right and sexual equality atau pembelaan terhadap hak perempuan dan kesetaraan pria-wanita.

Feminisme lahir di Eropa, berawal dari sebuah perkumpulan perempuan-perempuan terpelajar kalangan bangsawan di Middelburg, Belanda pada 1785. Dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet, perkumpulan yang memperjuangkan universal sisterhood ini menjadi gerakan yang cukup menarik perhatian wanita Eropa. Tapi walaupun menyandang nama ”universal”, perjuangan mereka hanya untuk perempuan kulit putih saja, sedangkan perempuan negeri jajahan bagi mereka tak lebih dari seorang budak.

Pergerakan dari Eropa ini kemudian berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill. Perkembangan lebih lanjut, Feminisme menjadi beberapa aliran antara lain : Feminisme liberal, radikal, anarkis, marxis, sosialis post kolonial, dll.

Faktor penyebab timbulnya gerakan feminisme

Gerakan feminisme timbul bukan tanpa alasan, tapi sebagai bentuk protes terhadap normal-norma sosial yang berlaku pada saat itu dan ditempat itu yakni di barat. Sedangkan pembentuk norma-norma sosial adalah para pemimpin agama, hal ini sudah jelas. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana norma-norma sosial yang berlaku saat itu.

Sejak abad ke-4 M, agama dijadikan kekuatan politik untuk menyatukan imperium terbesar saat itu, Romawi. Dibawah kepemimpinan Konstantin, agama Katholik-Roma menjadi satu-satunya agama resmi negara.

Sehingga norma sosial yang berlaku dalam masyarakat adalah norma-norma yang dibentuk oleh Gereja, dan gereja bersumberkan pada Bibel. Lalu bagaimana Bibel berbicara tentang perempuan ? berikut beberapa contohnya :Kesalahan kekal manusia

Timotius 22:14 Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.

2:15 Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengkudusan dengan segala kesederhanaan.

Ajaran-ajaran seperti itulah yang akhirnya menyebabkan Kristen mengganggap Perempuan sumber kejahatan dan tipu daya. Christome menjelaskan : “Perempuan adalah keburukan yang pasti, tipu daya alam dan bencana yang tak terelakkan, bahaya dalam rumah, fitnah yang merusak dan ia jahat berlumur darah”. Well Doran : The History of Civilisation, jilid 16.

Mazmur 51:7 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Bibel menyatakan bahwa maksiat adalah sebuah dosa besar yang diturunkan dari Hawa sampai ke anak cucunya. Kisah tentang Hawa yang memberikan buah terlarang pada Adam terdapat dalam Bibel Perjanjian Lama, Kejadian 3 :1-19. Pemikiran ”kesalahan” yang ditujukan kepada Hawa sudah melekat dari dahulu, II Korintus 11:3. Dan itulah sebabnya gereja mengatakan manusia mewarisi dosa Adam, Roma 5:12. Dan juga itulah yang menyebabkan kematian turun ke bumi, Roma 6:21. Sehingga Hawa berhak mendapatkan laknat abadi yang rasanya lebih pahit dari kematian.

Konsep ini membawa pengaruh besar dalam peradaban Eropa, seperti yang dijelaskan Fuad Afrad al-Bustani, ” Sesungguhnya agama Kristen melihat ”dosa asal” itu sebagai akidah dan dasar utama dalam pengajaran agama. Semua orang mewarisi dosa itu sejak lahir dari bapak manusia pertama, dosa asal, sumber dosa-dosa yang bertimbun-timbun pada keturunannya yang dibayar oleh Yesus, Adam yang baru”. Ensiklopedia Pengetahuan, kata Adam, hal 107.

Penghinaan dan penindasan terhadap perempuan dalam Bibel

Bibel berpendapat bahwa tingkatan perempuan berada lebih rendah dari laki-laki, menindas semua hak perempuan dan menyatakan perempuan dibawah kekuasaan laki-laki disemua periode hidupnya sampai mati. Teks Bibel juga menyatakan (Ulangan 24 : 1-4) bahwa laki-laki diperbolehkan menceraikan isterinya kapan saja, apapun sebabnya. Bahkan mengatakan perempuan sebagai najis sehingga menjadi alasan untuk diceraikan.

Bibel memandang hina terhadap perempuan yang mengalami haid dan nifas. Mereka dianggap najis, apapun yang mereka sentuh akan tertular najis. Dan najis adalah dosa sehingga mereka harus mempersembahkan korban pada Tuhan untuk menghapus dosa.

Imamat 15

15:25 Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis.

15:26 Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya.

15:27 Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

15:28 Tetapi jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir.

15:29 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati dan membawanya kepada imam ke pintu Kemah Pertemuan.

15:30 Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, karena lelehannya yang najis itu.

Lukas 23

23:29 Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui.

Ayat diatas justru menggiring perempuan untuk membuat dirinya menjadi infertil (mandul). Tidak menyusui anak lebih baik dari menyusui. Maka dengan begitu kondisi perempuan makin bertambah buruk.

Posisi perempuan bertambah rendah karena Hawa dianggap penanggung dosa yang pertama yang menyebabkan Adam keluar dari taman sorga. Bahkan ada pemikiran, jangan-jangan Hawa bukanlah manusia. Dalam sebuah buku, seorang pendeta pernah mengatakan demikian, ”Perempuan tidak ada ikatan atau hubungan spesies manusia”. Wester Mark : The History of Marriage.

Hal senada juga disebutkan dalam sebuah Ensiklopedia, kutipan sebuah hasil rapat dua konferensi kegerejaan mengenai perempuan yang dilaksanakan di Roma tahun 582 M (beberapa tahun sebelum Islam datang) mengeluarkan komunike :”Perempuan adalah mahluk yang tidak mempunyai jiwa dan oleh sebab itu selamanya tidak akan menikmati taman Firdaus dan tidak masuk kerajaan langit. Perempuan adalah kekejian perbuatan setan, tidak ada hak bicara dan tertawa dan tidak boleh memakan daging, bahkan setinggi-tingginya hak dia adalah menghabiskan semua kesempatan untuk melayani laki-laki tuannya, atau menyembah Tuhan Allah”. Encyclopedie La Rousse, kata Femme.

Kondisi perempuan di peradaban barat

Kritikan dari kaum perempuan datang dari Madame Avril. Tapi disaat itu bangsa-bangsa barat memeluk agama kristen, pendapat tokoh agama sangat mempengaruhi nasib perempuan.

I Timotius 22:11 Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.

2:12 Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.

Penghinaan terhadap perempuan berlanjut dan hak-hak sosial dirampas sepanjang abad pertengahan hingga awal abad modern. Kondisi perempuan terus berjalan dari yang buruk kepada yang lebih buruk sampai abad ke-17 M. Ketika itu perempuan berada pada level perbudakan dan kehinaan yang paling rendah.

Anehnya, di Inggris ada undang-undang yang memperbolehkan laki-laki menjual istri-istrinya dengan harga yang telah ditetapkan yakni 6 pounsterling. Sekitar tahun 1790, harganya menjadi 2 sen. Dan kemudian undang-udang tersebut dibatalkan pada 1805. Abbas Akkad : Al-mar’ah fil al-Qur’an, hal.192.

Kemudian perempuan mulai bergerak dalam komunitas-komunitas kewanitaan, bergabung untuk menuntut hak mereka melepaskan diri dari penindasan norma-norma gereja. Yang pertama kali mereka tuntut adalah melepaskan belenggu yang mengekang mereka dari larangan-larangan yang ditetapkan pada kaum perempuan. Kemudian muncullah “The Bibel of Woman” yang diterbitkan di New York pada 1895. Edisi terjemah Bibel yang bercorak feminist.

Islam hadir memuliakan perempuan

Sebenarnya kedatangan Islam pada abad ke-7 M membawa revoulusi gender. Islam hadir sebagai ideologi pembaharuan terhadap budaya-budaya yang menindas perempuan, merubah status perempuan secara drastis. Tidak lagi sebagai second creation (mahluk kedua setelah laki-laki) atau penyebab dosa. Justru Islam mengangkat derajat perempuan sebagai sesama hamba Allah seperti halnya laki-laki. Perempuan dalam Islam diakui hak-haknya sebagai manusia dan warga negara, dan berperan aktif dalam berbagai sektor termasuk politik dan militer. Islam mengembalikan fungsi perempuan yang juga sebagai khalifah fil ardl pengemban amanah untuk mengelola alam semesta.

Jadi dengan kata lain, gerakan emansipasi perempuan dalam sejarah peradaban manusia sudah dipelopori oleh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Lalu ketika pada abad ke-18 timbul gerakan yang membebaskan perempuan di Eropa, itu dikarenakan kedangkalan mereka terhadap sumber-sumber Islam-’aturan baru’ yang diturunkan Allah untuk menghapus aturan cacat yang mereka miliki (Bibel). Yang seharusnya ketika mereka mengenal Islam maka sudah cukuplah semua aturan yang ada dalam Islam (Al-Quran dan Sunnah) untuk memenuhi tuntutan mereka, hak-hak mereka yang di tindas oleh budaya saat itu. Tapi penyebaran Islam ini terhambat oleh mereka yang tidak mau tunduk pada Islam, walaupun sebenarnya mereka mengetahui kemuliaan Islam.

Gerakan feminis tidak akan pernah berhasil jika tidak kembali mengacu pada ajaran Islam (Al-Quran dan Sunnah). Gagasan-gagasan asing yang diimpor dari Barat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, hanya akan memperburuk kondisi perempuan dan mengantarkan ke dalam jurang kehancuran yang lebih dalam.

Sehingga, pejuang gender hendaknya kembali pada Quran dan Sunnah, sesungguhnya inilah jalan yang akan mengantarkan kaum perempuan pada kemulyaan, yang akan mengantarkan masyarakat menuju peradaban besar.

Konsep Kesetaraan Jender dalam Alqur’an

Al-Qur’an memberikan pandangan optimistis terhadap kedudukan dan keberadaan perempuan. Semua ayat yang membicarakan tentang Adam dan pasangannya, sampai keluar ke bumi, selalu menekankan kedua belah pihak dengan menggunakan kata ganti untuk dua orang (dlamir mutsanna), seperti kata huma, misalnya keduanya memanfaatkan fasilitas sorga (Qs. Al-Baqarah/2:35), mendapat kualitas godaan yang sama dari setan (Qs. Al-A’rif/7:20), sama-sama memakan buah khuldi dan keduanya menerima akibat terbuang ke bumi (7:22), sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan (7:23). Setelah di bumi, antara satu dengan lainnya saling melengkapi, “mereka adalah pakaian bagimu dan kamu juga adalah pakaian bagi mereka” (Qs. Al-Baqarah/2:187).

Secara ontologis, masalah-masalah substansial manusia tidak diuraikan panjang lebar di dalam al-Qur’an. Seperti mengenai roh, tidak dijelaskan karena hal itu dianggap “urusan Tuhan” (Qs. Al-Isr’a’/17:85). Yang ditekankan ialah eksistensi manusia sebagai hamba/’abid (Qs. Al-Dzariyat/51:56) dan sebagai wakil Tuhan di bumi/khalifah fi al-ardl (Qs. Al-An’am/6:165). Manusia adalah satu-satunya makhluk eksistensialis, karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan. Sekalipun manusia ciptaan terbaik (ahsan taqwim/Qs. Al-Thin/95:4) tetapi tidak mustahil akan turun ke derajat “paling rendah” (asfala safilin/Qs. Al-Tin/95:5), bahkan bisa lebih rendah dari pada binatang (Qs. Al-A’raf/7:179).

Ukuran kemuliaan di sisi Tuhan adalah prestasi dan kualitas tanpa membedakan etnik dan jenis kelamin (Qs. Al-Hujurat/49:13). Al-Qur’an tidak menganut faham the second sex yang memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu, atau the first ethnic, yang mengistimewakan suku tertentu. Pria dan wanita dan suku bangsa manapun mempunyai potensi yang sama untuk menjadi ‘abid dan khalifah (Qs. al-Nisa’/4:124 dan Qs. al-Nahl/16:97).

Sosok ideal, perempuan muslimah (syakhshiyah al-ma’rah) digambarkan sebagai kaum yang memiliki kemandirian politik/al-istiqlal al-siyasah (Qs. al-Mumtahanah/60:12), seperti sosok Ratu Balqis yang mempunyai kerajaan “superpower”/’arsyun ‘azhim (Qs. al-Naml/27:23); memiliki kemandirian ekonomi/al-istiqlal al-iqtishadi (Qs. al-Nahl/16:97), seperti pemandangan yang disaksikan Nabi Musa di Madyan, wanita mengelola peternakan (Qs. al-Qashash/28:23), kemandirian di dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi/al-istiqlal al-syakhshi yang diyakini kebenarannya, sekalipun harus berhadapan dengan suami bagi wanita yang sudah kawin (Qs. al-Tahrim/66:11) atau menentang pendapat orang banyak (public opinion) bagi perempuan yang belum kawin (Qs. al-Tahrim/66:12). Al-Qur’an mengizinkan kaum perempuan untuk melakukan gerakan “oposisi” terhadap berbagai kebobrokan dan menyampaikan kebenaran (Qs. al-Tawbah/9:71). Bahkan al-Qur’an menyerukan perang terhadap suatu negeri yang menindas kaum perempuan (Qs. al-Nisa’/4:75).

Gambaran yang sedemikian ini tidak ditemukan di dalam kitab-kitab suci lain. Tidaklah mengherankan jika pada masa Nabi ditemukan sejumlah perempuan memiliki kemampuan dan prestasi besar sebagaimana layaknya kaum laki-laki.

Lucunya tuntutan kaum feminis

Feminisme dikatakan sebagai sebuah ide yang diantaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan. Hingga detik ini, gerakan perempuan dan ide feminisme memandang perempuan selalu dalam posisi tertindas.

Dalam kehidupan di masyarakat, hal-hal yang dituntut kaum feminisme antara lain adalah legalisasi undang-undang pro-aborsi, hak wanita untuk memilih sebagai ibu rumah tangga atau meninggalkannya, hak mensterilkan kandungan (female genital cutting) dan lain-lain.

Sedangkan dalam agama, feminisme menuntut penafsiran bercorak feminis terhadap kitab suci, kesamaan waris, hak talak bagi wanita, tidak wajib berjilbab karena jilbab adalah simbol pengekangan berekspresi dan pelecehan eksistensi sosial wanita, pengharaman poligami, legalisasi lesbianisme, menuntut pemberlakuan masa iddah bagi laki-laki, dan sebagainya.

Sesungguhnya apa yang dilindungi dalam Islam, malah dihancurkan dalam ide feminist. Apa yang dilarang dalam Islam justru menjadi tuntutan dalam feminis. Kalau dilihat secara jernih, apa yang dituntut kaum feminis bukan mensejahterakan kaum perempuan tapi justru menggiring kaum perempuan dalam kehancuran. Lalu kita jadi bertanya, apakah ini memang harapan tulus kaum perempuan ? Ataukah ada skenario dibalik semua ini bahwa feminisme dijadikan senjata untuk menghancurkan negera-negara dunia ke-tiga yang umumnya adalah negara-negara dengan jumlah penduduk mayoritas muslim.

Revolusi gender yang dipelopori Islam sebenarnya sudah dimulai sejak abad ke-4M dalam risalah yang diemban oleh Rasulullah Muhammad saw. Revolusi gender akan berhasil jika kembali pada Quran dan Sunnah. Demi menyelamatkan bangsa dan negara yang sudah cukup sengsara tercabik-cabik, menyelamatkan dari jurang kehancuran yang lebih parah, maka saatnya sekarang kita kembali pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Wallahu a’lam bishawab

<Silmy Kaafah/Sally Sety>

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 14, 2015 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: