RSS

Arsip Kategori: Kajian

PASKAH, Pondasi Keimanan Kristen Budaya Pagan?

Setiap tahun umat Kristen merayakan Paskah. Hampir semua gereja di muka bumi ini menggelar berbagai macam acara menyambut Hari Raya Paskah ini, mulai dari lomba-lomba, pentas seni, membagi telur paskah, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai ucapan syukur atas peristiwa luar biasa dahsyat yang terjadi 2000 tahun yang lalu. Apa peristiwa ‘luar biasa dahsyat’ tersebut? Inilah yang akan kita kupas dalam tulisan ini.

Paus Leo Agung (440-461) menekankan pentingnya Paskah dan menyebutnya festum festorum – perayaan dari semua perayaan, dan berkata bahwa Natal hanya dirayakan untuk mempersiapkan perayaan Paskah.

Bagaimana awal mula perayaan ini dan urgensinya bagi umat Kristen, akan dibahas secara singkat dalam tulisan ini.

Umat Kristen menyebut Paskah sebagai Easter. Sedangkan umat Yahudi juga memperingati Paskah yang mereka sebut Pesach. Walaupun keduanya berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan, namun Paskah umat Kristen dan Yahudi berbeda.

Pesach/Passover

Pesach / Paskah (Ibrani) adalah perayaan Yahudi yang diadakan pada tanggal 14 bulan Nisan (bulan Yahudi) sebagai peringatan keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir dibawah nabi Musa as atau yang dikenal dengan Exodus. Malam sebelumnya, Tuhan menyuruh mereka mempersembahkan korban anak domba dan makan roti tidak beragi dimana darah anak-domba itu digunakan untuk memberi tanda pada rumah-rumah orang Yahudi untuk membedakannya dengan rumah-rumah orang Mesir (Kel. 12:1-28).

Easter

Sedangkan Paskah (Easter) adalah perayaan umat Kristen untuk memperingati kebangkitan Yesus. Tanggalnya berubah-ubah tapi pasti jatuh di hari minggu, sehingga disebut Minggu Paskah. Istilah Easter berakar dari bahasa Inggris Kuno Ēastre atau Ēostre. Nama ini mengacu pada nama Dewi Ēostre/ Astarte dari budaya Anglo-Saxon di Jerman. Festivalnya disebut Ostara, yakni untuk menghormati Astarte (dewi kesuburan) yang berlangsung di awal musim semi. Simbol kelinci dipakai sebagai lambang kesuburan karena kelinci adalah binatang yang mudah beranak-pinak. Dan telur sebagai simbol awal kehidupan.

Easter, sebuah festival untuk menghormati Astarte, dewi kesuburan, yang dilambangkan kelinci dan telur sebagai simbol-simbol kesuburan umum dalam budaya pagan. (Encyclopedia Britannica, 1982 Edition, vol. 4, halaman 501.)

Yesus seperti yang telah dibahas dibeberapa tulisan yang lalu, adalah berasal dari bani Israel yang beragama Yahudi. Ia mengikuti agama nabi Musa as juga seluruh tradisi agama Yahudi termasuk Pesach. Hal ini terbukti dengan peristiwa Perjamuan Malam yang dilakukannya sesuai ritual Yahudi dengan menggunakan roti tak beragi (Luk. 22:7-38). Perjamuan Malam ini kemudian hari oleh umat Kristen disebut sebagai Perjamuan Kudus.

Sinkretisme

Lalu bagaimana budaya Pagan “Easter” berubah menjadi hari Kebangkitan Yesus sebagai Tuhan? Disinilah letak titik kritis dari pondasi keimanan Kristen. Dari semula Yesus telah melarang murid-muridnya untuk menyebarkan risalah yang dibawanya kepada orang-orang diluar bani Israel. Agama Yahudi adalah khusus untuk bani Israel dan Yesus memerintahkan muridnya mencari duabelas suku yang hilang dari bani Israel bukan untuk menyebarkan pada bangsa selain Israel.

Namun ini dilanggar. Paulus yang bukan murid Yesus tapi justru pemburu/pembunuh pengikut Yesus, mengaku sebagai murid dan ikut-ikutan menyebarkan risalah Yesus. Apa yang disampaikan oleh Paulus pada pengikutnya tentulah berbeda dengan apa yang diajaran Yesus. Yesus melarang minum khmr tapi Paulus justru membolehkan. Yesus mewajibkan khitan, justru Paulus melarang. Yesus mengajarkan monotheisme Paulus mengajarkan dualisme (Tuhan Ayah dan Tuhan Anak). Dan Paulus inilah yang pertamakali menyebarkan ajaran Yesus keluar dari bani Israel. Ia menyebarkannya kepada bangsa Romawi.

Imperium Romawi sangat kuat akan budaya paganis. Agama mereka adalah menyembah Dewa Matahari, Sol Invictus. Ketika agama baru Kristen yang disebarluaskan oleh Paulus lambat laun memasuki wilayah tersebut maka terjadilah perbenturan-perbenturan budaya yang hampir membelah Roma. Sehingga atas dasar kepentingan politik demi keutuhan imperium Roma maka diselenggarakanlah Konsili Nicea 325M. Pertentangan Yesus manusia atau Tuhan  dalam Konsili ini akhirnya memutuskan bahwa Yesus adalah Tuhan Anak. Inilah solusi yang dilakukan Konstantin penguasa tertinggi Romawi untuk menyelamatkan imperiumnya. Ia membuat agama Hybrid, mencampurkan polyteisme yang berasal dari agama pagan dan monoteisme yang berasal dari agama Yahudi dalam suatu konsep baru yang disebut Trinitas. Tiga dalam satu, satu dalam tiga.

Lalu bagaimana membuat ‘benang merah’ antara Yesus yang dikenal luas sebagai manusia dan Yesus sebagai tuhan. Maka dalam konsili yang di pimpin oleh Kaisar Konstantin tersebut menetapkan hari Paskah (Easter) sebagai hari kebangkitan Yesus. Yesus dikatakan mati setelah disalib lalu dikuburkan dan setelah tiga hari kemudian bangun/bangit dari kematian untuk naik ke langit dan duduk di kanan tuhan Bapa. Manusia biasa tidak mungkin melakukan hal tersebut, sehingga masuk akal lah Yesus adalah tuhan. Hari Paskah harus dirayakan tepat pada hari minggu walaupun tanggalnya selalu berubah-ubah.

Umat Kristen telah mengubah konsep ritual Pesakh yang sebenarnya mengenang keluarnya bani Israel dari perbudakan di Mesir menjadi penebusan dosa. Jika dalam agama Yahudi yang dikorban adalah seekor domba. Maka dalam keyakinan baru ini, Yesus lah pengganti domba.

Ekaristi yang diambil dari peristiwa Jamuan Malam adalah jamuan kudus yang menyimbolkan roti sebagai tubuh Yesus dan anggur sebagai darah. Kembali lagi ini masih berkaitan dengan tradisi Pagan, dengan kisah Cult Dionysious, dewa anggur yunani yang mati dan jadi immortal. Bahkan sesajian manusia dan pengorbanan darah untuk menebus dosa dan menyenangkan tuhan/dewa adalah juga tradisi Pagan.

Paulus mengatakan demikian,

“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” (1 Kor. 5:7).

Istilah-istilah sehubungan dengan Paskah (Easter) antara lain:

– Masa Pra Paskah, yakni 40 hari sebelum Minggu Paskah.

– Pekan Suci, yakni sepekan sebelum Minggu Paskah.

Minggu Palem, yakni hari Minggu pertama dalam Pekan Suci. Hari ini memperingati masuknya Yesus ke kota Yerusalem menaiki seekor keledai.

– Kamis Suci, memperingati Perjamuan Malam terakhir Yesus

Jumat Agung, memperingati kematian Yesus

– Sabtu Suci atau Sabtu Sunyi, memperingati hari pada saat Yesus di dalam kuburan.

Tiga hari terakhir ini (Kamis, Jumat dan Sabtu) sebelum Minggu Paskah disebut sebagai Trihari Suci atau Triduum Paskah.

– Pekan Paskah adalah tujuh hari setelah Minggu Paskah. Yang masing-masing diberi akhiran Paskah, seperti “Senin Paskah”, “Selasa Paskah”, hingga “Oktaf Paskah”, yaitu hari Minggu setelah Minggu Paskah.

– Masa Paskah adalah 40 hari (yang kemudian diperpanjang menjadi 50 hari) yang diakhiri dengan hari Pentakosta (hari ke-50).

Sebagian gereja Kristen menolak perayaan Natal Dan Paskah, contoh adalah Gereja Yesus Sejati (true jesus church). Mereka juga tidak mempercayai dengan konsep trinity seperti halnya Kristen Saksi Jehova.

Inilah peristiwa yang diawal tulisan saya sebut sebagai “luar biasa dahsyat”. Penyimpangan ajaran monoteisme dan polyteisme yang di mix sedemikian rupa sehingga membuahkan sebuah ajaran hybrid dengan konsep tiga tapi satu, satu tapi tiga. Serta pengesahan seorang manusia menjadi Tuhan. Maka seperti yang diucapkan Paus Leo Agung (440-461), demikian pentingnya peringatan Paskah bagi umat Kristen sebagai dasar/pondasi iman Kristen. Paskah lebih penting ketimbang Natal. Jika Natal bermasalah pada tanggal kelahiran. Sedangkan Paskah berbicara tentang penebusan dosa dan kebangkitan. Tanpa kematian Yesus maka tidak ada penebusan dosa,  tanpa kebangkitan maka Yesus bukan Tuhan.

( Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat
Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Kajian, Uncategorized

 

Tag:

Aturan Selibat Gereja Timbulkan Penyakit Sosial

PERTANYAAN :

Kasus pelecehan seksual seperti ini sebenarnya sudah lama atau masih baru?

Mengapa itu bisa terjadi? Apakah itu memang dibolehkan oleh doktrin gereja?

Apakah itu juga terjadi di Indonesia?

Mengapa korbannya tidak ada yang mengadu/mengaku?

Apakah para pastor tidak takut dosa?

Apakah ini membuktikan bahwa doktrin gereja bertentangan dengan fitrah manusia?

JAWABAN  Hj.Irena Handono :


Kasus Pelecehan Seksual sudah terjadi sejak lama

Kepada semua media pihak Vatikan membuat opini bahwa Kasus Pelecehan Seksual ini adalah kasus yang baru pertama kali terjadi namun sebenarnya hal ini  sudah terjadi sejak lama. Jika kita baca tentang sejarah para Paus, maka kita akan dapati banyak sekali kasus-kasus seputar ini. Paus Damasus I (366-384 M) ia telah menikah dan memiliki anak-anak namun mereka semuanya tidak diakuinya lagi setelah dia diangkat menjadi Paus. Paus Damasus diadili atas kejahatan zina pada synode yang dihadiri 44 Uskup dan bahkan oleh gereja telah diputuskan untuk mendapatkan hukuman mati. Paus Sixtus III (432-440M) diadili karena menggoda seorang biarawati. Paus Leo I (440-661M) bahkan secara cerdik memanfaatkan kerusakan seksual untuk mempeluas kekuatan politis gereja. Abad ke-10 sinonim dengan penyelewengan dan korupsi yang tak tahu malu. Periode ini dikenal dengan sebutan ‘Kekuasaan Porno Kepausan’ (the Papal Pornocracy), sebab kepausan dipegang oleh sepasang pelacur (dunia Kristen menyebut demikian), Theodora dan Marozia yang merupakan gundik para Paus. Marozia menjadi gundik pertama kali saat berusia 6 tahun (kasus Phedofilia yang pertama dalam gereja).


Hukum selibat bukan doktrin dalam agama kristen

Bibel sama sekali tidak mengajarkan selibasi. Murid-murid Yesus semuanya menikah dan bahkan Yesus sendiripun menikah, mempunyai beberapa istri dan beberapa anak. Namun karena pelanggaran Paulus, Kristen disebarkan keluar dari dari wilayah Israel dan memasuki jantung ibukota Roma. Disana terjadi perbenturan dengan budaya setempat dimana saat itu moral masyarakat Roma demikian jatuh terpuruknya. Seksualitas dalam segala rupa menjadi ajang berkumpulnya kebobrokan moral masyarakat dalam segala lapisan. Fenomena ini tidak bisa diatasi oleh para rahib Kristen malah mereka menjauhi seksualitas dan menghukuminya sebagai kegiatan yang kotor, menjijikkan dan melanggar dosa.

Hukum Selibat dalam kekristenan sebenarnya bukanlah doktrin dalam agama Kristen namun lebih tepat disebut sebagai aturan gereja. Karena pada kenyataannya tidak semua gereja melakukan hal ini. Kristen Protestan tidak mengenal hukum selibat namun gereja-gereja Katholik baik di Barat maupun Timur, mengenalnya. Makanya kasus pelecehan seksual terhadap anak hanya kita dengar dari pihak Katolik saja dan tidak pada Kristen Protestan.

Dasar hukum mengenai pelarangan untuk menikah bagi para pastor dan kewajiban mereka yang telah menikah untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan istri-istri mereka adalah dekrit Konsili Elvira pada abad ke-4 dan kemudian Konsili Kartago.

Konsili Elvira (sekitar tahun 305). (Kanon 33): Diputuskan bahwa semua pernikahan dilarang bagi para uskup, imam dan diakon, atau bagi semua rohaniwan yang memegang jabatan gerejawi, dan bahwa mereka tidak berhubungan badan dengan istri-istri mereka dan tidak menghasilkan anak; siapa saja yang melanggar hal ini akan dicabut jabatan kehormatan kleriknya.

Konsili Kartago (tahun 390). (Kanon 3): Adalah pantas bahwa para uskup dan imam Tuhan yang suci termasuk juga kaum Levi, yakni mereka yang memberikan pelayanan pada sakramen ilahi, mentaati penahanan nafsu yang sempurna, supaya mereka bisa meraih semua kesederhanaan yang mereka minta dari Tuhan; apa yang diajarkan oleh Para Rasul dan apa yang telah lama ditaati, biarlah kita juga berusaha keras untuk menjaganya. Sungguh menggembirakan kita semua bahwa uskup, imam dan diakon – para penjaga kesucian – menahan diri dari hubungan badan dengan istri-istri mereka, supaya mereka yang melayani di Altar bisa menjada sebuah kesucian yang sempurna.

Satu lagi aturan gereja tentang Selibat adalah Directa Decretal dan Cum in unum merupakan dekrit dari Paus Sirisius (sekitar tahun 385) yang menegaskan tentang hukum selibat yang harus diikuti oleh para pelayan gereja. Kemudian pada tahun 1022 Paus Benediktus VII melarang pernikahan dan gundik bagi rohaniwan. Dan di tahun 1139 Paus Innocent II membatalkan seluruh pernikahan rohaniwan, dan pastor baru harus menceraikan istri-istri mereka.

Dasar lain yang diambil adalah ajaran-ajaran Santo Paulus dari Tarsus yang menyatakan bahwa selibat merupakan tahapan kehidupan yang tinggi, dan keinginannya ini dinyatakan dalam 1 Korintus 7:7-8, 7:32-35:

Tentunya hukum-hukum buatan manusia yang tidak mengikuti fitrah manusia sangat potensial menimbulkan penyimpangan.


Skandal yang sangat terutup

Apakah juga terjadi di Indonesia? Saya belum mendapatkan data konkret tentang hal ini. Ini disebabkan demikian tertutupnya mereka dan memang ada aturan yang mengharuskan untuk menutup aib ini. Dokumen ini adalah CRIMEN SOLLICITATIONIS, sebuah dokumen rahasia yang berisi tentang prosedur untuk mengatasi skandal kejahatan seksual pada anak dalam gereja Katholik.

Itulah yang saya sebutkan diatas, karena memang ada aturan gereja yang melarang untuk mengungkapkannya. Karena jika dilakukan maka akan menodai kesucian gereja. Dalam dokumen tersebut, memaksakan sumpah kepada anak-anak yang menjadi korban untuk tetap merahasiakan kejahatan seksual yang dialaminya, pastor yang diduga serta bukt-bukti apapun.


Apakah Dosa?

Tentang dosa, dalam Bibel tidak ada penjelasan rinci mana yang dosa mana yang tidak. Seperti dalam Al-Quran, kita mempunyai batasan mana mahram mana yang tidak, mana perbuatan yang tergolong berzina, bahkan dalam bergaul antara suami-istri pun dalam Islam disebutkan adab-adab nya. Sedangkan Kristen tidak mempunyai hal ini semua. Jadi bagi mereka batasan mana dosa mana yang tidak itu juga akan dirumuskan berikutnya dalam keputusan gereja setelah suatu kasus terjadi.


Menentang fitrah manusia

Benar, aturan gereja mengenai Selibat ini tidak sesuai fitrah manusia, sangat menyimpangi hukum Allah SWT. Sehingga mustahil untuk diterapkan. Ketika diterapkan justru menimbulkan masalah baru yang lain. Itulah beda hukum manusia dan hukum Allah. Ketika hukum manusia diterapkan maka justru menimbulkan bencana sedangkan jika hukum Allah yang diterapkan akan membawa kemaslahatan yang luas dan mendatangkan Rahmat bagi seluruh alam. Bahkan Uskup Agung Wina Christoph Schonborn berpendapat bahwa selibasi menjadi salah satu penyebab skandal seks yang menghantam gereja Katolik.

(ditulis oleh : Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat
Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Kajian, Uncategorized

 

Tag:

Hermeneutik Menyelamatkan Bibel Merusak Al-Quran

Seorang Yahudi Jerman Paul Schmidt menulis sebuah buku dengan judul “Islam, The Power of Tomorrow” yang terbit pada 1936. Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa kehebatan Islam ada tiga, yakni “their faith”, “their wealth” dan “their vertility”.

Their Faith, ia menjelaskan bahwa keimanan umat Islam tergantung dari pada bukunya (Al-Quran). Their Wealth, ia mengatakan bahwa bumi yang didiami oleh muslim sangatlah kaya, baik diatasnya maupun dibawahnya. Dan ia menghimbau agar tidak membiarkan muslim mengolah sendiri kekayaan alamnya. Their Fertility, kesuburan umat Islam. Paul Schmidt mengatakan, “Hai Barat, suatu saat nanti dimanapun kalian menginjakkan kaki, kalian akan bertemu orang Islam.” Maka kemudian dibuatlah program kontrol kelahiran (Birth Control/Family Planning).

Hermeneutika

Dan salah satu cara menjauhkan muslim dari Al-Quran adalah dengan penggunaan teori Hermeneutik. Apakah Hermeneutik? Hermeneutik sebetulnya tidak diperlukan untuk mempelajari Al-Quran. Hermeneutika adalah ilmu tafsir. Ada beberapa metode tafsir dalam Kristen,

1. Exegese : mengungkap kebenaran berdasarkan bahasa asli, sehingga kebenaran akan muncul dengan sendirinya.

2. Eisegese : merohanikan yang sudah rohani. Ide manusia yang didukung dengan ayat.

3. Alegoris : merohanikan benda sebagai simbol yang memiliki arti.

Hermeneutika  ini sebenarnya dibutuhkan untuk gereja bukan untuk Islam. Semua Rohaniawan kristen membutuhkan ilmu ini agar jelas, tidak salah dalam menyampaikan pesan Bibel. Dengan exegese ingin dicapai suatu kesimpulan bahwa yang benar adalah Bibel. Jadi ilmu ini khusus untuk Rohaniawan dan bukan jemaat umum.

Seseorang yang mempelajari metode exegese terhadap Bibel, orang tersebut tanpa sadar dibangun keyakinannya menjadi semakin kuat terhadap Bibel bahwa Bibel itulah yang benar. Sampai pada akhirnya mereka akan meyakini bahwa tidak ada lagi pewahyuan. Selesai sudah pada Bibel.

Dengan exegese itu ingin ditampilkan bahwa Bibel itu kitab suci yang tidak bercacat dan itu adalah kebenaran yang mutlak. Ini yang dimaksudkan gereja bahwa semua yang dilakukan gereja harus bersumber pada Bibel. Karena Bibel adalah standar yang absolut, kebenaran absolut maka semua harus tunduk pada Bibel. Sehingga ketika orang mempelajari exegese akan mempunyai pemikiran bahwa kitab selain Bibel adalah tidak benar. Termasuk Al-Quran pun tidak benar. Karena jika ada Al-Quran maka berarti ada penambahan sedangkan ending pewahyuan adalah Bibel. Maka setelah Bibel pewahyuan ditutup dan tidak ada lagi penambahan, sehingga kebenaran Al-Quran berdasarkan ilmu tafsir exegese, tertolak. Menurut umat Kristen berdasarkan tafsir ini, setelah Yesus naik ke surga, Kitab Wahyu pasal 22 itu tidak boleh ditambahi lagi. Tak ada nabi baru maupun kitab baru.

Jadi exegese ingin menunjukkan ke inerensia-an Bibel yang artinya bahwa Bibel itu tidak bercacat dan kebenarannya sempurna. Dengan belajar Hermeneutik seseorang digiring untuk mengakui bahwa alkitab dalah sebuah kitab suci yang kebearannya mutlak.

Terkadang di agama diluar kristen melakukan sebuah proses ’penuduhan’. Bibel dikatakan mengisahkan tentang kisah pelecehan seksual, tentang teror. Nah dengan hermeneutika sebenarnya gereja ingin membuktikan bahwa hal tersebut tidak pernah ada dalam Bibel. Karena dari tafsir itu akan belajar siapa penulisnya, latar belakang penulisnya, kondisi sosial budaya pada waktu itu, ditujukan kepada siapa.

Menyelamatkan ayat-ayat Bibel

Sebagai contoh, ada dua buah surat yang satu ditulis pada tahun 1969 dan yang satunya ditulis pada tahun 1972. Secara eksplisit keduanya kalimatnya sama. Surat yang pertama ditulis, “Untuk yang terhormat Tante Girang”. Surat yang kedua ditulis dengan redaksi yang sama, “Untuk yang terhormat Tante Girang”. Ketika kita meminta pendapat pada orang, apakah makna kalimatnya sama?, maka pada umumnya orang akan berpikir negatif karena ditujukan kepada Tante Girang. Tapi ketika dipelajari dengan metode tafsir hermenuetik, akan dilihat sejarah perkembangan istilahnya, latar belakang penulisan. Ternyata surat itu ditulis pada tahun 1969 yang berbeda dengan tahun 1972. Pada tahun 1969 ketika itu istilah Tante Girang tidak bermakna negatif, tapi justru positif yang menggambarkan seorang Ibu yang bahagia yang walaupun tidak dikaruniai anak bertahun-tahun tetapi tetap bahagia dan bersyukur.

Namun selepas tahun 1972, makna istilah Tante Girang mengarah pada seorang perempuan yang tidak pernah puas dalam hal hubungan biologis. Nah ketika dalam Bibel ditemukan kalimat yang porno atau sadis, maka orang akan bilang “Oh itu pelecehan”. Tapi ketika dicek dengan metode hermeneutik ternyata maknanya tidak seperti itu. Maka dengan hermeneutik orang akan digiring untuk meyakini bahwa Bibel itu tidak bercacat.

Mementahkan Semua Hukum dalam Al-Quran

Kaum SEPILIS-JIL berkali-kali mempermasalahkan kalimat “Penafsiran Menyimpang” di sidang Mahkamah Konstitusi Penodaan Agama sebagai alasan agar Mahkamah Konstitusi mencabut UU no.1 PNPS th.1965. Menurut kaum SEPILIS-JIL negara tidak bisa membatasi sebuah ‘penafsiran’ atas sebuah nilai-nilai agama apalagi menentukan menyimpang atau tidak. Sementara informasi diluar yang beredar mengatakan bahwa ada proyek dari kalangan JIL untuk membuat tafsir baru atas Al-Quran dengan metode Hermeneutika.

Jika ilmu tafsir ini digunakan pada Al-Quran maka bukan mengokohkan ayat-ayat Al-Quran tapi justru malah akan membuat semua syariat-syariat yang terkandung dalam Al-Quran sebagai aturan-aturan yang tidak mengikat atau dengan kata lain, akan mementahkan Al-Quran sebagai hukum yang mengikat manusia. Maka sesungguhnya inilah niatan dari mereka untuk menjauhkan muslim dari Al-Quran seperti yang disampaikan Paul Schmidt diatas.

(Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat
Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2010 in Kajian

 

Tag:

VATIKAN LANGGAR KEBEBASAN BERAGAMA?

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Oleh karena itu, siapa saja  yang mengingkari thâghût dan mengimani Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kuat yang tidak akan putus.  Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS.Al-Baqarah : 256).

Ayat diatas sering ditafsirkan secara menyimpang oleh kaum SEPILIS untuk dijadikan argumen yang menguatkan pendapat mereka, bahwa ide ‘kebebasan beragama’ tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan mengatakan mereka mengatakan teks ayat Alquran laa ikraha fi ad-din adalah dasar ide sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.

Laa ikraha fi ad-din mempunyai arti ‘tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)’, namun diartikan–secara salah– oleh kaum SEPILIS menjadi ‘tidak ada paksaan dalam agama’.

Lalu bagaimana latar belakang turunnya Surah Al-Baqarah ayat 256 ini? tentang asbabun nuzulnya adalah sebagai berikut. Ayat ini diturunkan kepada lelaki Anshar Bani Salim bin ‘Awf; ada yang menyebutnya al-Hushayn. Dia mempunyai dua anak lelaki Nasrani, sementara dia sendiri Muslim. Dia lalu bertanya kepada Nabi saw., “Tidak perlukah aku memaksa mereka berdua, karena mereka telah enggan kecuali tetap memeluk Nasrani?” Kemudian, dalam hal ini Allah menurunkan ayat tersebut. (Riwayat Ibn Jarir at-Thabari).

Maksud dari ayat la ikraha fi ad-din ditafsirkan, ‘janganlah engkau memaksa seorang (kafir)-pun untuk memasuki agama Islam.’ (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim, vol I/383).

Jadi, sasaran dari ayat tersebut adalah nonmuslim, bukan muslim. Oleh karena itu, Islam melarang seorang muslim keluar dari agamanya. Sebaliknya, Islam tidak memaksa orang non-muslim untuk memasuki agama Islam. Namun ketika seseorang telah mengikrarkan dirinya menjadi muslim maka diwajibkan dirinya terikat dengan hukum-hukum Islam. Hukum Islam melarang berpindah ke agama selain Islam.

‘Kebebasan Agama’ dalam Kristen

Dalam Sidang Mahkamah Konstitusi yang membahas tentang UU Penodaan Agama, sikap umat Kristen yang diwakili oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan tokoh Katholik Romo Frans Magnis Suseno, keduanya menolak UU Penodaan Agama dan menyeru kepada Hakim Mahkamah untuk mencabut UU tersebut.

Jika dalam Sidang Mahkamah Konstutusi keduanya berpendapat bahwa Negara tidak perlu ikut campur dalam urusan Agama dan keduanya berdiri di pihak yang sama dengan kaum SEPILIS yang mengusung ide ‘Kebebasan Agama’ dan HAM, maka pertanyaannya: Adakah ‘Kebebasan Agama dan HAM dalam Kristen?

Disini kita akan mencermati sebuah lembaga agama yang sangat tua, yang menjadi satu-satunya pusat bagi agama Katholik di dunia yakni, Vatikan.  Berikut adalah beberapa kejadian besar yang terjadi di dunia Katholik.

Pada bulan Oktober 2008 seorang teolog Katholik bernama Dubois mendapat surat peringatan dari Kongregasi Ajaran Iman Vatikan yang ditandatangani oleh Ratzinger yang kini menjadi Paus Benedictus XVI. Karena menulis sebuah buku yang bertentangan dengan doktrin gereja Katholik.

Sebelumnya, pada tahun 2004, Ratzinger juga mengeluarkan sanksi kepada Roger Haight yang menulis sebuah buku yang berjudul Jesus Symbol of God. Buku tersebut dianggap mengaburkan ‘Ketuhanan Yesus’ sehingga bertentangan dengan doktrin gereja Katholik.

Seorang Jesuit bernama John McNeill akhirnya dikeluarkan dari Vatikan karena menulis buku The Church and the Homosexual. Di mana dalam buku tersebut pada tahun 1986 mengkritik doktrin Gereja tentang Homoseksual.

Professor Hans Kung, theolog Katholik terkenal dari Jerman, pada 15 Desember 1979 Vatikan mengeluarkan statement atas dirinya yang menyatakan bahwa dia tidak diakui lagi sebagai theolog katholik.

Itulah bentuk-bentuk upaya bagaimana Vatikan menjaga agar agamanya tidak ternodai. Sejumlah Theolog Katholik telah ditentang oleh gereja Vatikan karena mereka dianggap tidak sejalan dengan doktrin-doktrin pandangan resmi gereja Vatikan.

Apa yang dilakukan oleh Vatikan tersebut diatas jelas merupakan bentuk pelanggaran ‘Kebebasan Beragama’ yang dilihat dari prespektif kaum SEPILIS. Tapi sebagai pemegang otoritas keagamaan, Vatikan mempunyai hak untuk melakukan hal tersebut. Lalu mengapa Islam tidak diperkenankan?

HAM dalam Kristen

Kongregasi Ajaran Iman Vatikan (Congregation of Faith) mempunyai tugas menjaga agar kesatuan Iman ajaran Katolik seragam dan konsisten. Mereka sangat aktif menjatuhkan sanksi kepada sejumlah teolog yang dianggap menyimpang. Dan pengumuman (Notificatio) tentang siapa-siapa yang mendapat sanksi dari Gereja dimuat di Buletin Vatikan (Osservatore Romano) yang disebar ke seluruh gereja Vatikan  di dunia.

Kongregasi Ajaran Iman Vatikan (Congregation of Faith) adalah nama lain dari Congregation of The Holy Roman and Universal Inquisition atau yang disebut Holy Office. Jika kita ingat tentang Andalusia, maka Congregation of Faith adalah nama lain Spanish Inquisition (Lembaga Inkuisisi Spanyol).

Lembaga Inkuisisi ini juga sangat aktif menjatuhkan sanksi kejam kepada umat yang dikategorikan bidah oleh gereja. Torquemada adalah salah seorang inkuisitor Spanyol yang bertanggung jawab atas pembakaran 10.220 manusia yang terdiri atas muslim, Yahudi dan Kristen Unitarian di Andalusia. Mereka dibakar karena dianggap bidah (sesat). Paus sekarang ini adalah mantan Grand Inquisitor pada zaman Yohanes Paulus II.

Hukum Gereja sudah sangat jelas kepada umat Katolik yang pindah agama, tercantum dalam Kitab Hukum Kanonik 1364;

“Orang yang murtad dari iman, heretik atau skismatik terkena ekskomunikasi latae sententiae.”
Latae Sentenciae di sini maksudnya adalah jatuh secara otomatis, artinya tidak perlu suatu tindakan dari otoritas untuk menjatuhkan hukuman tersebut. Dengan demikian ia tidak boleh menerima sakramen-sakramen, pelayanan dan segala bentuk jabatan dalam Gereja Katholik. Ia sudah di luar Gereja, dan di luar Gereja TIDAK ADA KESELAMATAN, Extra Ecclesiam Nulla Salus. Inilah doktrin Gereja.

Paus selain pemimpin spiritual tertinggi agama Katholik namun juga sebagai pemimpin tertinggi otoritas politik dari sebuah negara yang disebut Vatikan. Maka jika kembali lagi pada frame berfikir kaum SEPILIS, maka tidak seharusnya negara mencampuri urusan agama yang masuk dalam wilayah ‘forum internum’ (wilayah privat). Jika sebuah negara melakukan hal ini maka negara tersebut telah melanggar HAM. Dan satu-satunya negara yang menolak sistem demokrasi yang tidak diusik oleh Amerika dan masih bertahan di Eropa hanyalah Vatikan.

(Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat
Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 10, 2010 in Kajian

 

Tag:

PENODAAN AGAMA

Akhir-akhir ini pemberitaan di berbagai media diramaikan dengan adanya upaya pencabutan UU No.1 PNPS Th.1965 tentang Penodaan agama. Dan hingga saat ini sidang Judicial Review di Mahkamah Konstutusi pun masih berlanjut.

Pihak KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) yang mewakili suara umat Kristen di Indonesia dan juga Romo Frans Magnis Suseno yang bisa dikatakan mewakili suara umat Katholik di Indonesia, kedua perwakilan umat ini mempunyai pendapat yang sama dengan kaum SEPILIS-JIL (Sekularis, Pluralis, Liberalis-Jaringan Islam Liberal), yakni menuntut dicabutnya UU Penodaan Agama tersebut.

Namun yang menarik, ditengah-tengah perjuangan kaum SEPILIS-JIL dan umat Kristen untuk mencabut UU Penodaan Agama ini, di Hollywood Amerika, seorang aktris, Lindsay Lohan, berpose gaya Yesus saat disalib pada sebuah majalah PURPLE FASHION Magazine. Ia berdiri mengenakan gaun panjang putih dengan belahan dada sangat lebar hingga perut, tangan merentang, memakai mahkota duri, persis sekali dengan adegan Yesus disalib dalam film The Passion of The Christ.

Jika menggunakan logika kaum SEPILIS-JIL maka ini tidak bisa dikatakan sebagai tindakan penodaan agama. Mengikuti konsep berpikir mereka, maka tindakan ini adalah sebuah kebebasan berekspresi. Ketika pelakunya adalah seorang artis maka yang dilakukan adalah dalam koridor seni. Bukan pelecehan agama. Justru orang yang memprotesnya adalah pihak-pihak yang melanggar HAM.

Tidak hanya berbicara tentang pelecehan/penodaan/penghinaan sebuah agama, UU No.1 PNPS Th.1965 juga berbicara tentang penafsiran menyimpang terhadap suatu agama. Inilah yang dibahas cukup dalam oleh Frans Magnis Suseno dalam sesi berbicaranya di Sidang Konstitusi. Menurutnya negara tidak perlu ikut campur dalam menentukan mana “menyimpang” mana yang tidak.

Ada beberapa sekte Kristen di Indonesia yang mempunyai pandangan yang sangat berbeda dengan Kristen pada umumnya. Dan bagi Kristen umum sekte-sekte ini disebut sesat/menyimpang, mereka adalah Saksi Jehova yang menganggap Yesus adalah manusia dan Sekte Kristen Tauhid yang juga menganggap Yesus adalah seorang manusia, seorang nabi. Mereka sama sekali tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan, seperti halnya Kristen pada umumnya yang menganggap Yesus adalah 100% manusia dan 100% tuhan.

Nah, apakah mereka tidak menghujat doktrin Gereja? Tentu saja mereka dianggap menghujat. Namun pihak Saksi Jehova & Kristen Tauhid juga mempunyai alasan-alasan serta analisa yang tak mampu dipatahkan oleh pihak Kristen Trinitas.

Sebelum membahas tentang bagaimana keyakinan Saksi Jehova dan Kristen Tauhid tentang Yesus dan Tuhan (insyaAllah akan dibahas di tulisan-tulisan berikutnya), maka saya akan membahas bagaimana sejarah “Ketuhanan” Yesus. Rapuhnya dogma ketuhanan ini sehingga membuat celah adanya penafsiran-penafsiran yang berbeda.

Sebelum abad ke-3 masehi, Yesus/Yoshua/Esau/Isa (as) tidak dikenal sebagai tuhan. Seluruh tanah Palestina, tanah Arab, sebagian Afrika hingga Persia mengetahui bahwa Yesus adalah seorang utusan Tuhan seperti halnya Nabi Musa as yang membawa kitab Taurat. Maka ajaran Yesus adalah meneruskan ajaran Nabi Musa as yang sudah menyimpang dari ajaran aslinya.

Matius  5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Tak hanya berkembang di wilayah Palestina, ajaran Yesus ini meluas hingga ke wilayah Alexandria (Mesir). Saat itu Alexandria merupakan salah satu pusat peradaban dunia yang sudah maju. Alexandria menjadi pusat intelektual yang pengaruhnya membentang dari India hingga Mesir.

Dengan sangat cepat ajaran teologis ‘baru’ (monoteisme) yang dibawa Yesus menyebar dikalangan cendikiawan dan kaum terpelajar di Alexandria. Setelah peristiwa penyaliban Yesus, pengikut ajaran Tauhid ini terus tumbuh membesar berlipat-lipat. Tidak hanya di wilayah pinggiran Mesir namun ajaran ini juga menyebar ke utara menuju jantung pemerintahan imperium Roma, Byzantium (yang sekarang di wilayah Turki).

Dalam sekejab, masyarakat imperium Romawi disana yang beragama Pagan, berubah menjadi pengikut agama Tauhid yang diajarkan oleh Yesus. Masyarakat yang umumnya terpelajar, sangat antusias berdiskusi mengikuti perkembangan ajaran baru ini. Seorang Uskup dari Nyssa mengatakan demikian dalam sebuah khotbahnya, “Di kota ini jika Anda mengajak seorang pemilik toko mengobrol, ia akan berdebat dengan Anda mengenai apakah Putra Allah itu diperanakkan atau tidak. Jika Anda bertanya tentang kualitas roti, sang pembuat roti akan menjawab, ‘Bapa lebih besar, sementara Putra lebih kecil.”

Semangat dakwah dari pengikut ajaran Tauhid Yesus hingga penghancuran simbol-simbol paganisme tak pelak menimbulkan konflik dalam imperium Romawi. Sedangkan kaisar Romawi saat itu, Konstantin, adalah penganut Paganisme.  Hal ini menyebabkan terguncangnya stabilitas imperium Romawi.

Untuk menyelamatkan imperium ini, Kaisar Konstantin mengadakan Konsili di Nicea pada tahun 325 M. Yang ditutup dengan keputusan antara lain, mengangkat Yesus sebagai Tuhan (yang dilakukannya dengan mekanisme voting). Pemilihan kitab-kitab yang ditetapkan sebagai Injil. Dari ratusan Injil yang ada yang dipilih adalah Injil Matius, Markus, Lukas & Yohanes. Semua ini diputuskan secara politik oleh Konstantin melalui konsili yang sama.

Memutuskan untuk menyatukan Romawi dalam sebuah agama yg tunggal, yaitu agama Kristen, dengan meleburkan simbol-simbol, tanggal-tanggal, dan ritus-ritus Pagan kedalam tradisi Kristen yang sedang tumbuh. Dengan cara itu Konstantin telah menciptakan semacam agama hybrid yg dapat diterima kedua belah pihak.

Upaya yang dilakukan Konstantin ternyata tak bertahan lama. Imperium Romawi akhirnya terbelah menjadi dua, Barat dan Timur setelah kepemimpinan Theodisius I. Kristen Trinitas (hasil konsili) dijadikan agama resmi negara dan memutuskan kaum pengikut Arian (Tauhid, yang menganggap Yesus adalah nabi) sebagai aliran menyimpang/sesat dan atas perintah Kaisar mereka diburu untuk dimusnahkan.

Maka, tidakkah umat Kristen berkaca dari sejarah, bahwa eksistensinya terbangun dari campur tangan pemerintah yang saat itu telah menghukumi pengikut Arian sebagai penganut aliran “menyimpang”? Bagaimanapun juga UU No.1 PNPS th.1965 masih tetap diperlukan untuk menyelamatkan negeri ini akibat konflik umat beragama yang akan berujung pada tercabik-cabiknya NKRI.

(Sally Sety)

Di muat di Tabloid Media Ummat

Rubrik: Kristologi – Hj.Irena Handono

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 20, 2010 in Kajian

 

Tag:

ISLAM BUKAN BUDAYA ARAB

Pagi ini sebuah email membuat saya sempat kaget, tertegun sekian menit setelah menyaksikan sebuah video tautan dari forum diskusi di Multiply sebagai berikut : http://indonesiancommunity.multiply.com/reviews/item/431 atau tautan Youtube di : http://www.youtube.com/watch?v=_pQg8iU_wM4

Dan false-opini yg saya khawatirkan adalah menganggap Arab = Islam. Tindakan kriminal seorang warga negara Arab yang kebetulan dia berasal dari Royal Family akan dianggap sebagai ‘budaya Islam’ / ‘budaya kekerasan alam Islam’. Sehingga pada diakhir pembuatan opini ini pesan tersimpan yang mau disampaikan melalui alam bawah sadar pembacanya adalah….”Yaa…memang ISLAM itu TERORIS”.
Astaghfirullah!!!

Cukuplah kita yang merasakan pedihnya fitnah ini. Dan kita wajib meluruskan. Jangan biarkan generasi anak cucu kita terinfeksi oleh fitnah-fitnah keji macam ini.

ISLAM BUKAN BUDAYA ARAB

Sebagian kaum muslimin agak sulit membedakan antara Islam dengan budaya Arab. Sehingga sering terjadi salah paham terhadap kedua hal tersebut. Budaya Arab terkadang diangggap sebagai Islam, dan sebaliknya Islam dianggap sebagai budaya Arab. Hal ini perlu kita pelajari lebih dalam agar kita dapat membedakan antara agama dan produk budaya.

Sebelum Islam diturunkan diseluruh negeri, dunia diliputi oleh kebodohan dan kegelapan yang merata di segala lini kehidupan. Agama terakhir saat itu yaitu Nasrani yang seharusnya menjaga kemurnian ajaran sebelumnya yang bersumber pada kitab Taurat, telah demikian terdistorsi dari ajaran awal (aslinya). Kehidupan di seluruh negeri saat itu tidak terlepas dari syirik, khurafat dan sebagainya sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Zaman itulah yang kita kenal dengan istilah zaman jahiliyyah.

Kemudian datanglah Islam dengan membawa wahyu Allah SWT, yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Islam datang sebagai “pengkritik” segala budaya-budaya yang ada di dunia. Kritik yang dilakukan Islam adalah dalam rangka menyempurnakan akhlaq manusia agar mereka dapat menciptakan kehidupan yang benar-benar manusiawi, baik akhlaq sebagai makhluq kepada Allah sebagai Khaliqnya (pencipta) yang diistilahkan juga dengan hablum minallah, maupun akhlaq antara sesama manusia atau hablum minan naas.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia.” (H.R. Bukhari dan Ahmad. Lihat Silsilah ash-Shahihah 15).

Fungsi Islam sebagai pengkritik ini pertama kali dijalankan sejak pertama kali Islam itu turun ke muka bumi ini. Berhubung Islam turun di Arab, maka pihak yang pertama kali dikritik oleh Islam adalah budaya Arab.

Bangsa Arab sebagaimana bangsa-bangsa yang lainnya saat itu merupakan bangsa yang tenggelam paling jauh dalam berbagai kerusakan akhlaq, mereka gemar berperang baik antar suku maupun antar qabilah. Mereka juga gemar meminum khamr, judi dan mereka memperlakukan wanita layaknya seperti barang, dan kerusakan terbesar pada saat itu adalah perbuatan mereka yang beribadah kepada Allah namun juga beribadah kepada selain Allah (Syirik), dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan akhlaq lainnya pada masa itu yang menjadikan kehidupan mereka jauh dari sifat manusiawi yang hakiki.

Maka mulailah Islam menjalankan fungsinya sebagai pengkritik. Di mulai dari hal yang terpenting yang menjadi prioritas utama yaitu kerusakan akhlaq manusia terhadap Allah yaitu perbuatan syirik. Dimana asas-asas budaya Arab yang saat itu mengandung unsur-unsur kesyirikan, dan segala kemaksiatan, semuanya dikoreksi total oleh Islam dan diganti dengan asas-asas yang berlandaskan ketauhidan kepada Allah, hingga akhirnya bangsa Arab berubah dari bangsa yang penuh dengan kesyirikan, khurafat dan sebagainya tadi, menjadi bangsa yang muwahhid (mentauhidkan Allah Ta`ala).

Demikianlah fungsi koreksi tersebut masuk ke semua lini kehidupan dan budaya bangsa Arab, hingga akhirnya masyarakat dan budaya Arab itu tunduk kepada Islam. Oleh sebab itu bangsa Arab justru kemudian menjadi bangsa yang paling pertama merasakan serangan kritik dan koreksi dari Islam.

Kemudian fungsi kritik itu terus meluas masuk ke negara-negara sekitarnya seperti Persia, Romawi, Cina dan akhirnya sampai ke Indonesia. Maka tidak ada pilihan lain bagi masyarakat atau budaya suatu bangsa, ketika Islam masuk ke sana, sementara mereka mengkui Islam sebagai agamanya, maka orang-orang disana harus siap untuk dikritik oleh Islam dan siap berubah dari seorang musyrik menjadi seorang muwahhid (orang yang bertauhid), apapun latar belakang budaya ataupun bangsanya.

Islam sesungguhnya memiliki konsep bagaimana berinteraksi dengan budaya-budaya di luar Islam. Islam mempersilahkan siapapun untuk mengemukakan pandangan-pandangan ataupun melakukan tindakan-tindakan budaya seperti apapun, asalkan tidak melanggar ketentuan halal-haram, pertimbangan mashlahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan), serta prinsip al Wala` (kecintaan yang hanya kepada Allah dan apa saja yang dicintai Allah) dan al Bara` (berlepas diri dan membenci dari apa saja yang dibenci oleh Allah), dimana ketiga prinsip inilah yang menjadi jati diri dan prinsip umat Islam yang tidak boleh diutak-atik dalam berinteraksi dengan budaya-budaya lain diluar Islam.

Sehingga dari ketiga prinsip ini akan lahir sebuah Kebudayaan Islam, dimana kebudayaan Islam ini selalu memiliki satu ciri khusus yang tidak dimiliki oleh budaya dan bangsa manapun diluar Islam, yakni budaya yang berasaskan Tauhidul `Ibadah Lillahi Wahdah (mempersembahkan segala bentuk peribadatan hanya kepada Allah).

Selama prinsip-prinsip dan asas tersebut tidak dilanggar, maka kita dipersilahkan seluas-luasnya untuk berhubungan ataupun mengambil manfaat dari bangsa-bangsa dan budaya manapun di luar Islam. Sebab segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, baik itu sifatnya ilmu pengetahuan maupun materi (yang selain perkara agama tentunya), itu semua memang diciptakan oleh Allah untuk kita umat manusia, kaum muslimin, walaupun berasal dari orang-orang kafir.

Sebagaimana firman Allah SWT: Dialah (Allah), yang telah menciptakan segala yang ada dibumi ini untuk kalian…(Q.S. Al Baqarah [2]: 29)

Maka sesungguhnya kedudukan budaya Arab itu sama dengan budaya Persia, Romawi, Melayu, Jawa dan sebagainya di mana budaya-budaya tersebut adalah pihak yang harus siap dikritik oleh Islam ketika Islam telah masuk ke negeri-negeri tersebut.

Maka tidak benar jika dikatakan Islam (seperti jilbab, kerudung dan sebagainya) adalah produk budaya Arab. Sebab justru budaya Arab adalah budaya yang paling pertama dikritik dan dikoreksi oleh Islam sebelum budaya-budaya yang lainnya. Maka apa saja yang telah diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai agama, maka itulah Islam.

Sementara segala sesuatu yang tidak diterangkan oleh Allah dan RasulNya dalam perkara agama, maka itu bukanlah Islam, meskipun perkara tersebut telah menjadi kebiasaan dan populer pada masyarakat Arab atau masyarakat Islam yang lainnya.

Sebab, Arab tidaklah sama dengan Islam, dan sebaliknya Islam tidaklah serupa dengan Arab. Akan tetapi budaya Arab dan budaya-budaya yang lainnya yang mau tunduk kepada Islam, maka itulah yang pantas dinamakan budaya Islam.

(Sally / Adi Supriadi)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 13, 2010 in Kajian

 

Tag: ,

SEPOTONG SURGA DI ANDALUSIA (Catatan Bedah Buku)

“Islam Politik tidak mempunyai masa depan”. Begitu yang dikatakan oleh seorang penulis buku Prof.Bambang Pranowo yang hari ini bukunya sedang di bedah. Buku tersebut berjudul, MEMAHAMI ISLAM JAWA. Disamping satu judul buku lain, SEPOTONG SURGA DI ANDALUSIA yang ditulis oleh Maria Rosa Menocal.

Salah satu pembedah yang hadir bertampang cukup nyentrik. Namanya saya lupa catat. Berbaju hitam dengan kerah shanghai, menggunakan penutup kepala khas Jawa yang disebut ‘Blangkon’, menghiasi rambut ikal hitam yang sudah menyentuh bahu. Alis tegas, kumis tebal, kalo ingat hikayat-hikayat rakyat, ada cerita di Surabaya tetang tokoh “Sakera”. Nah itulah dia! Persis!

Dia dan pembedah satu lagi mempunyai pendapat yang selaras terhadap sang penulis buku, yang berpendapat bahwa Islam di Jawa didalami lebih kepada dimensi batin. Sehingga kesalehan tidak dipatok sebatas ketaatan atas syariat tapi penghayatan pada hakikat.

“Pak Dalang” saya sebut demikian, dalam pemaparannya mengutip sebuah cerita yang terjadi di sebuah masyarakat desa di Jawa. Ketika disampaikan bahwa saat ini Islam sudah bangkit, maka si Ibu tersebut menjawab dalam bahasa Jawa,
“Iyo, Alhamdulillah, Ibu yo melu seneng, Islam saiki bangkit, tapi kok malah susah yo Ngger? Nek biyen onok wong kepaten, sing liyane (non islam) yo podho me ngurusi. Nang kuburan, Islam, Kristen, Hindu, Budha podho-podho sak panggon, tapi saiki kok wis gak oleh?”

Seolah mau mengatakan bahwa Islam biarlah sebatas spiritual saja yang tidak perlulah memasuki ranah politik, ranah sosial yang nantinya justru akan menyebabkan perbenturan-perbenturan dan hilangnya kearifan kultural terhadap perbedaan-perbedaan di masyarakat.

Buku kedua yang dibedah adalah SEPOTONG SURGA DI ANDULUSIA, sebuah judul buku yang sangat cantik menurut saya. Tidak provokatif, tidak menjemukan atau sok intelek. Tapi judul yang simpati, cukup menggambarkan betapa itulah sesungguhnya yang sedang terjadi di Andalusia saat itu. Masa-masa yang sangat indah.

Buku kedua ini ditulis oleh Maria Rosa Menocal. Seorang penulis dari Barat yang tentu saja tidak hadir di acara hari ini. Narasumber pembedah adalah Hj.Irena Handono, dengan dua orang Pembanding yakni Prof.Dr.Fauzan Misra el Muhammady dan seorang aktifis dakwah Akhi Mujahidy.

Pemaparan yang dilakukan oleh Bu Irena sangat memukau peserta. Beliau mengawali dengan menunjukkan kepingan-kepingan prestasi gemilang Andalusia yang masih tersisa dari catatan sejarah. Sebagai contoh yang sempat saya tulis untuk status di fb adalah tentang ASTROLABE, alat navigasi ditemukn oleh Az Zarkali, ilmuwan Andalusia abad 9. Colombus menggunakn ini untuk perjalanan ke Amerika. Dan selama empat abad bangsa eropa masih menganggap alat ini sebagi benda magis. Bodohnya.

Dan kemudian di bandingkan dengan kondisi setelah orang-orang Kristen Trinitarian menyerbu Andalusia dan merebut menguasainya dari tangan muslim. Sungguh pembandingan yang sangat timpang. Di saat Islam memimpin Andalusia, hiduplah dengan rukun tiga agama disana. Namun ketika Kristen Trinitarian mengambil alih, mereka memberikan tiga pilihan pada Muslim & Yahudi disana : pergi tinggalkan Andalusia, konferso (masuk kristen) atau di bunuh.

Sebelum mengakhiri pemaparannya, Bu Irena bertanya pada para peserta, “Adakah mungkin tiga agama (Yahudi, Islam, Kristen) saat ini bisa hidup berdampingan?”. Pertanyaan tersebut tidak dijawab spontan, tapi dengan dengan lantang tegas Bu Irena menjawab, YA! Bisa. “Tiga agama akan bisa hidup damai berdampingan hanya dalam kepemimpinan Islam. Sejarah sudah membuktikan.”

Pemaparan Bu Irena ditanggapi oleh penanggap pertama yang beliau menyelesaikan S1 dan S2 nya di Cairo University. Pak Fauzan yang berusia mungkin hampir 70an ini dengan semangat menambahkan data-data melengkapi pemaparan Bu Irena. Dengan kalimat closing beliau, “Benar, saya setuju dengan Bu Irena, hanya dalam kepemimpinan Islam lah tiga agama bisa hidup dalam damai”. Dilanjutkan dengan Ikhwan aktivis dakwah yang menegaskan perlunya Khilafah segera berdiri.

Awalnya saya berfikir sesi tanya jawab akan menjadi sikusi yang canggung dan membosankan. Karena dua buku ini sangat bertentangan. Yang satu lebih terkesan membatasi Islam untuk diwacanakan pada ahal-hal tertentu saja. Namun di buku yang kedua, dibahas tentang keharusan Islam menjadi dasar politik, dasar hukum sebagai landasan sebuah kepemimpinan yang akan menjamin kedamaian dunia, membawa Rahmatan lil Alamiin.

Sayangnya sang penulis meninggalkan forum lebih cepat karena ada kepentingan yang sudah terjadwal. Namun Pak Dalang yang tadinya terkesan ragu-ragu dan tidak jelas. Akhirnya harus mengakui atmosfer diskusi yang mengarah pada kesadaran bahwa hanya Islam lah yang mampu membawa Rahmatan Lil Alamin. Beliau bahas kearifan ISLAM JAWA yang telah membangun sebuah strategi kultural. Proses transformasi kultural yang dilakukan ISLAM JAWA ini menyebabkan Islam cukup lama bertahan di Jawa.

Pembunuhan karakter yang dilakukan Barat terhadap Islam dan yang ironisnya umat Islam sekarang bagai hikayat “Kebo Ijo”, tidak bisa menolak disebut teroris, ekstrimis, dll, adalah disebabkan kita buta terhadap sejarah. Dan generasi muda sekarang sudah teracuni oleh opini-opini Barat, budaya-budaya Barat dan semua isme-isme dari Barat yang dianggap lebih modern, lebih mulia dari Sunnah Rasulullah dan Al-Quran.

Sampai pada kesimpulan akhir yang semuanya setuju, sepakat bulat adalah betapa pentingnya umat Islam untuk kembali menggali sejarah Islam.

Sally Sety

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2009 in Kajian

 

Tag: